FK-KMK UGM. Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, berkunjung ke University of Oxford, United Kingdom, pada Rabu (24/6/2026). Kedatangan tersebut dilaksanakan dalam rangka partisipasi Dekan sebagai pembicara workshop bertajuk “Advancing Stroke Care and Non-Communicable Disease Prevention through Responsible AI and Digital Innovation” dan menghadiri pertemuan dengan pimpinan Nuffield Department of Medicine (NDM) Centre for Global Health Research, University of Oxford.
Dalam presentasi berjudul From Innovation to Justice: Digital Technologies, Power, and NCD Prevention in LMICs, Prof. Yodi membahas tantangan serta potensi teknologi digital dalam pencegahan penyakit tidak menular, khususnya stroke, di negara-negara berkembang. Dekan menyoroti kekhawatiran bahwa perkembangan sains yang berjalan sangat cepat berisiko memperluas ketimpangan global jika tidak diarahkan dengan hati-hati.
Melalui studi kasus penanganan stroke di Indonesia, diperlihatkan bahwa penyakit ini memicu dampak catastrophic yang meluas melampaui sektor kesehatan, termasuk menimbulkan beban finansial dan emosional yang berat bagi keluarga pasien. Tragedi kesehatan ini dilatari oleh terlewatnya peluang pencegahan dini, sistem layanan kesehatan yang terfragmentasi, serta ketidaksetaraan akses terhadap sumber daya penanganan stroke.
Di sisi lain, inovasi kesehatan digital seperti kecerdasan buatan (AI), analisis prediktif, telehealth, dan pemantauan jarak jauh menawarkan potensi besar untuk memprediksi risiko sebelum komplikasi terjadi serta menjaga kesinambungan perawatan pasien. Namun, tinjauan literatur menunjukkan adanya ketimpangan geografis yang tajam; mayoritas studi kesehatan digital berasal dari negara berpenghasilan tinggi, sehingga bukti nyata di negara berkembang masih sangat terbatas. Selain itu, penerapan machine learning saat ini masih didominasi oleh fokus pada prediksi luaran setelah stroke terjadi (prognosis awal), sedangkan penelitian yang mendukung pencegahan primer dan deteksi dini sepanjang perjalanan pasien masih minim.
Secara praktis, Prof. Yodi memaparkan bahwa UGM dan RSA UGM, berkolaborasi dengan University of Oxford, Middlesex University London, London Digital Twin Research Centre, Bach Mai Hospital, telah mengembangkan platform AI-enabled Digital Twin menggunakan data registry dunia nyata untuk memprediksi luaran fungsional awal pasien stroke. Pengembangan inovasi ini maupun inovasi-inovasi digital lain harus mengantisipasi fenomena “digital inverse care law”, di mana kelompok yang paling membutuhkan layanan kesehatan – seperti masyarakat pedesaan, keluarga miskin, lansia, dan populasi marjinal – justru paling berisiko tersisih dari manfaat inovasi digital. Sebaliknya, kelompok perkotaan dan masyarakat berpenghasilan tinggi cenderung menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Oleh karena itu, demi mewujudkan kesehatan yang berkeadilan, rancangan intervensi digital harus dilakukan secara inklusif dengan melibatkan kelompok yang paling membutuhkan layanan sejak awal, mengintegrasikan edukasi keterampilan digital, serta menyediakan teknologi secara gratis bagi yang membutuhkan. Langkah ini perlu didukung oleh penelitian implementasi yang berpusat pada kesetaraan dan pemberdayaan komunitas agar kemajuan sains dapat dirasakan manfaatnya oleh semua orang secara merata.
Selain menjadi pembicara workshop, Dekan bersama Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., menghadiri pertemuan dengan pimpinan Nuffield Department of Medicine Centre for Global Health Research, University of Oxford. Dekan juga berkesempatan untuk berdiskusi dengan para alumni FK-KMK UGM di Oxford. Pada 25-26 Juni 2026, Prof. Yodi turut mengikuti Wellcome Trust Advisory Committee Meeting di London sekaligus berkesempatan untuk berdiskusi dengan para alumni FK-KMK UGM di London.
Kegiatan Dekan FK-KMK UGM di Oxford merupakan salah satu kontribusi fakultas dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDG). Beberapa poin SDG yang didukung antara lain SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera karena kontribusi Dekan di Oxford turut mendukung upaya pencegahan penyakit tidak menular (khususnya stroke) dan peningkatan luaran layanan kesehatan bagi pasien. Selain itu, kegiatan Dekan tersebut juga menekankan pencapaian pada SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong pendekatan untuk mengupayakan keadilan kesehatan dengan mengatasi fenomena “digital inverse care law” agar inovasi teknologi tidak memperlebar ketimpangan global dan dapat diakses secara inklusif.
Upaya keadilan kesehatan tersebut turut mendukung pencapaian SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi teknologi mutakhir. Pengembangan inovasi ini dilakukan oleh kemitraan global yang merepresentasikan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan antara UGM, University of Oxford, Middlesex University London, dan institusi lainnya demi menghadirkan solusi kesehatan nyata di negara-negara berkembang. (Penulis: Citra/Humas).



