FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM bekerja sama dengan The Equity Initiative Indonesia menyelenggarakan webinar “Stigma and Accessibility to Quality Mental Health Service” secara daring melalui Zoom pada Senin, 12 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia dengan tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” yang menyoroti pentingnya mendengarkan pengalaman individu dalam meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan mental.
Diskusi menghadirkan lima Fellow The Equity Initiative, yaitu Ferena Debineva sebagai moderator serta Benny Prawira, Rennta Chrisdiana, Sandra Suryadana, dan Angelina Yusridar sebagai narasumber. Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA, dari PKMK FK-KMK UGM menjadi penanggap. Untuk mendukung aksesibilitas bagi peserta Tuli, kegiatan ini juga menyediakan tiga juru bahasa isyarat, yakni Lara, Adela, dan Yanda.
Benny Prawira menekankan bahwa orang dengan pengalaman langsung terkait persoalan kesehatan mental perlu dilibatkan dalam penelitian, perancangan layanan, advokasi, dan pengambilan keputusan. Pengalaman mereka merupakan sumber pengetahuan yang dapat melengkapi hasil penelitian akademik. Sementara itu, Rennta Chrisdiana menyoroti pentingnya layanan yang berkeadilan dengan mempertimbangkan kebutuhan setiap individu, termasuk melalui pengembangan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung kesehatan mental anak.
Sandra Suryadana mengingatkan bahwa stigma dapat muncul dalam berbagai tahapan pelayanan, mulai dari pendaftaran hingga proses pengobatan dan rujukan. Faktor biaya, jaminan kerahasiaan, prosedur administratif, dan ketersediaan layanan juga memengaruhi akses masyarakat. Di sisi lain, Angelina Yusridar menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental para pendamping, aktivis, tenaga kesehatan, dan pekerja sosial. Menurutnya, istirahat merupakan hak yang perlu didukung oleh keluarga, tempat kerja, dan komunitas.
Menanggapi berbagai pandangan tersebut, Retna Siwi Padmawati menjelaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh interaksi individu, sistem, institusi, lingkungan sosial, dan budaya. Karena itu, pengalaman masyarakat perlu menjadi bagian dari penyusunan program dan kebijakan. Pendekatan partisipatif, seperti action research dan co-design, dapat membantu menghasilkan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan nyata, termasuk bagi komunitas Tuli dan kelompok yang menghadapi hambatan akses layanan.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan akses dan kualitas layanan kesehatan mental. Kegiatan ini mendukung SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan melalui dorongan terhadap layanan yang inklusif dan adil. Kegiatan ini juga sesuai dengan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi akademisi, praktisi, komunitas, dan aktivis. (Kontributor: dr. Garin Janitra dan Apt. Ahmad Naufal, S.Sos., M.HPM)




