FK-KMK UGM Dorong Tindak Lanjut Hasil Skrining HPV DNA untuk Cegah Kanker Leher Rahim

FK-KMK UGM. Departemen Obstetri dan Ginekologi turut mendukung penguatan deteksi dini dan tindak lanjut hasil skrining kanker leher rahim, khususnya bagi perempuan dengan hasil pemeriksaan HPV DNA tipe 16 dan 18 positif. Pesan tersebut disampaikan Dr. dr. Moh. Nailul Fahmi, Sp.O.G., Subsp.Onk. dalam kegiatan Koordinasi, Advokasi, dan Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta pada 18 September 2026 di Harper Malioboro Hotel, Yogyakarta.

Kegiatan tersebut diikuti oleh pengelola program HPV DNA puskesmas dan lintas program Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Forum ini menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai pelaksanaan skrining kanker leher rahim sekaligus membahas pentingnya tindak lanjut setelah hasil pemeriksaan diperoleh. Dalam konteks tersebut, keterlibatan tenaga ahli dari FK-KMK UGM memberikan penguatan dari sisi klinis, terutama mengenai alur penanganan perempuan dengan hasil skrining positif.

Dalam paparannya mengenai deteksi dini kanker leher rahim melalui HPV DNA dan co-testing IVA, dr. Fahmi menekankan bahwa keberhasilan skrining tidak cukup hanya dengan menemukan kasus yang memiliki hasil positif. Hasil pemeriksaan perlu diikuti dengan proses identifikasi risiko dan penanganan sesuai kondisi klinis pasien.

Pemeriksaan HPV DNA menjadi salah satu bagian penting dalam strategi deteksi dini kanker leher rahim. Pemeriksaan tersebut memungkinkan identifikasi infeksi HPV yang berkaitan dengan risiko terjadinya perubahan pada leher rahim. Dalam pelaksanaannya, skrining perlu ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian pelayanan yang terhubung, sehingga perempuan yang memperoleh hasil positif tidak berhenti pada tahap pemeriksaan awal.

Pemerintah Indonesia juga terus mengembangkan pelaksanaan skrining melalui HPV DNA dan co-testing dengan IVA dengan penguatan jejaring pelayanan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga layanan rujukan. Penguatan jejaring tersebut menjadi penting karena hasil skrining perlu diterjemahkan menjadi langkah klinis berikutnya berdasarkan risiko dan kondisi masing-masing pasien.

Menurut dr. Fahmi, tantangan dalam pelaksanaan skrining bukan hanya meningkatkan cakupan pemeriksaan, tetapi juga memastikan keberlanjutan pelayanan setelah hasil diperoleh. Konsep continuum of care menjadi bagian penting dalam upaya tersebut, mulai dari skrining, identifikasi kelompok berisiko, tindak lanjut hasil positif, hingga tata laksana lesi prakanker maupun kanker leher rahim.

Pendekatan tersebut menempatkan skrining sebagai bagian dari proses pelayanan yang berkelanjutan. Dengan adanya alur tindak lanjut yang jelas, hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya dan mencegah pasien kehilangan kesempatan memperoleh penanganan pada tahap yang lebih awal.

Bagi tenaga kesehatan di tingkat pelayanan primer, pemahaman terhadap alur tersebut juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Pengelola program HPV DNA di puskesmas perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai proses setelah skrining, termasuk bagaimana memastikan pasien dengan hasil positif memperoleh tindak lanjut sesuai kebutuhan dan jalur pelayanan yang tersedia.

Kegiatan Koordinasi, Advokasi, dan Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit diharapkan dapat memperkuat implementasi program skrining kanker leher rahim di Kota Yogyakarta. Pertukaran informasi antara pengelola program, lintas program, dan tenaga ahli juga dapat mendukung penyamaan pemahaman mengenai pentingnya kesinambungan pelayanan setelah pemeriksaan.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan deteksi dini, tindak lanjut, dan pencegahan kanker leher rahim. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kapasitas dan pemahaman tenaga kesehatan dalam pelaksanaan skrining serta tindak lanjut hasil pemeriksaan. (Kontributor: Munjayati).