FK-KMK UGM Teliti Integrasi Kesehatan Tradisional dalam Pelayanan Puskesmas

FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama tim peneliti memublikasikan artikel ilmiah dengan judul “Integration of Traditional Medicine Services into Public Health Centers in Indonesia: A Qualitative Study” di jurnal internasional BMC Complementary Medicine and Therapies pada 2026. Artikel tersebut ditulis oleh Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA., Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, Ema Madyaningrum, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D., bersama Dr. Sri Mumpuni Yuniarsih, S.Kep., Ns., M.Kep. dan Dr. Siwi Sri Widhowati, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D. dari Universitas Pekalongan.

Penelitian ini mengkaji integrasi pelayanan kesehatan tradisional di Puskesmas Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, untuk melihat potensi layanan tersebut sebagai bagian dari inovasi pelayanan kesehatan primer yang aman, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Artikel diterbitkan dengan DOI 10.1186/s12906-025-04885-z. Penelitian tersebut berangkat dari realitas bahwa pelayanan kesehatan tradisional masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai praktik seperti jamu, akupresur, dan bekam telah digunakan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari pilihan masyarakat dalam menjaga kesehatan maupun menangani keluhan tertentu. Kondisi tersebut membuka peluang untuk mengintegrasikan pelayanan kesehatan tradisional ke dalam sistem pelayanan kesehatan formal, khususnya di Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Untuk memahami proses integrasi tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan melibatkan 16 partisipan yang terdiri atas pengelola program, tenaga kesehatan, dan pengguna pelayanan kesehatan tradisional. Pengumpulan data dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali pengalaman masyarakat dalam menggunakan layanan sekaligus memahami pandangan tenaga kesehatan terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan tradisional di fasilitas kesehatan primer.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tingkat kepercayaan yang cukup tinggi terhadap pelayanan kesehatan tradisional yang tersedia di Puskesmas. Kepercayaan tersebut tidak terlepas dari keberadaan tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan, penerapan prosedur pelayanan yang memperhatikan aspek keselamatan, serta fasilitas pelayanan yang lebih terjamin dibandingkan praktik kesehatan tradisional yang berlangsung secara informal di masyarakat. Kehadiran layanan di Puskesmas juga memberikan rasa aman karena pelayanan berada dalam sistem fasilitas kesehatan pemerintah.

Pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional oleh masyarakat tidak semata-mata didorong oleh faktor budaya. Sebagian masyarakat memilih layanan tersebut karena mempertimbangkan terapi yang dianggap lebih alami, keinginan untuk mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan tertentu, serta pengalaman memperoleh manfaat dari tindakan seperti akupresur dan bekam. Faktor biaya yang relatif terjangkau dan kemudahan akses turut menjadi alasan masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional di Puskesmas.

Dari perspektif penyelenggara pelayanan kesehatan, integrasi layanan tradisional memberikan alternatif terapi yang dapat melengkapi pelayanan kesehatan konvensional. Keberadaan layanan tersebut juga berpotensi meningkatkan keterlibatan masyarakat dengan Puskesmas sekaligus menjadi ruang untuk mempertahankan pengetahuan dan praktik kesehatan tradisional yang berkembang di Indonesia. Namun, keberhasilan integrasi membutuhkan dukungan regulasi yang jelas, pendanaan yang memadai, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta koordinasi antara tenaga kesehatan dengan praktisi kesehatan tradisional.

Penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan yang perlu mendapatkan perhatian. Ketersediaan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang pelayanan kesehatan tradisional masih terbatas. Di sisi lain, layanan kesehatan tradisional yang terintegrasi belum sepenuhnya masuk dalam cakupan pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sosialisasi mengenai keberadaan dan manfaat layanan kepada masyarakat juga masih perlu diperkuat agar pemanfaatannya dapat berkembang secara optimal.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pelayanan kesehatan tradisional tidak cukup hanya dengan menyediakan jenis layanan di Puskesmas. Diperlukan sistem yang mendukung kesinambungan program, mulai dari peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, penyusunan standar pelayanan, penguatan mekanisme pembiayaan, hingga edukasi kepada masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, integrasi pelayanan kesehatan tradisional dapat berkembang sebagai bagian dari pelayanan primer yang tetap mengedepankan keamanan, mutu, dan kebutuhan pasien.

Publikasi ini mendukung pencapaian 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pelayanan kesehatan primer yang aman, berkualitas, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penelitian ini juga berkontribusi pada SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong perluasan akses terhadap pilihan pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat melalui fasilitas kesehatan pemerintah. Selain itu, penelitian ini mendukung SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan melalui upaya mempertahankan pengetahuan dan praktik kesehatan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya yang dapat diintegrasikan secara tepat dalam sistem pelayanan kesehatan modern. (Kontributor: Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA.)