FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat terintegrasi bertajuk “Deteksi Gangguan Gerak dan Cara Mengatasinya pada Penderita Demensia” sebagai upaya memperkuat kapasitas kader kesehatan dan tenaga kesehatan komunitas dalam mengenali gejala gangguan neurodegeneratif sejak dini. Kegiatan yang digagas oleh Departemen Neurologi FK-KMK UGM ini dilaksanakan pada Jumat, 9 Mei 2026, di Aula Puskesmas Mlati II, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan melibatkan kader Posyandu Tlogoadi dan tenaga kesehatan Puskesmas Mlati II sebagai peserta utama.
Program ini merupakan bagian dari pengembangan Garda Eling, sebuah inisiatif yang bertujuan membentuk kader kesehatan dan tenaga kesehatan komunitas yang memiliki kemampuan dalam mendeteksi dini, melakukan edukasi, serta mendampingi kasus demensia di tingkat masyarakat. Melalui pelatihan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai berbagai tanda gangguan gerak yang kerap muncul pada penderita demensia namun sering tidak dikenali sejak tahap awal.
Kegiatan dibuka oleh dr. Distya Nugrahening Pradhani, Sp.N., F.Neurobehaviour, yang menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala gangguan gerak pada lansia. Menurutnya, berbagai keluhan seperti langkah kaki yang kecil dan terseret, tubuh yang kaku, serta kesulitan memulai gerakan sering dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya gangguan neurodegeneratif yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Materi utama kemudian disampaikan oleh dr. Subagya, Sp.N., Subsp.NGD(K), dosen dan peneliti Departemen Neurologi FK-KMK UGM. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa deteksi dini memiliki peran penting dalam mencegah penurunan kualitas hidup pasien. Menurutnya, gangguan gerak pada penderita demensia sering kali terabaikan, padahal kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko jatuh, kehilangan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari, hingga memperbesar beban pengasuhan bagi keluarga.
Kegiatan ini turut SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi kesehatan dan penguatan deteksi dini gangguan neurodegeneratif untuk meningkatkan kualitas hidup lansia serta mencegah disabilitas. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan serta tenaga kesehatan komunitas dalam mengenali dan menangani masalah kesehatan lansia. Selain itu, SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan melalui pengembangan komunitas yang lebih inklusif, ramah lansia, dan mampu memberikan dukungan bagi masyarakat yang menghadapi tantangan kesehatan akibat demensia dan gangguan gerak. (Kontributor: Distya Nugrahening Pradhani).




