FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center of Health Behavior and Promotion/CHBP) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan koordinasi program pengabdian masyarakat bersama Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) Kota Yogyakarta sebagai langkah awal penguatan layanan kesehatan ramah Tuli di fasilitas layanan primer. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 6 Mei 2026 di lingkungan FK-KMK UGM ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat bertajuk “Penguatan Layanan Kesehatan Ramah Tuli melalui Peningkatan Keterampilan Komunikasi Inklusif untuk Tenaga Kesehatan Layanan Primer di Kota Yogyakarta”. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan layanan yang lebih inklusif dan mudah diakses oleh komunitas Tuli.
Kegiatan koordinasi diawali dengan pemaparan program oleh tim CHBP FK-KMK UGM yang dihadiri oleh dr. Ardhina Ramania, M.P.H., Tutik Istiyani, S.Sos., Sinta Ristiyanti, S.Pd., M.A., serta Nia Lestari Muqarohmah, S.Kep., Ns., M.P.H. Dalam pemaparannya, dr. Ardhina menjelaskan bahwa program ini disusun berdasarkan hasil pengabdian sebelumnya yang menunjukkan masih adanya hambatan komunikasi antara pasien Tuli dan tenaga kesehatan di layanan primer.
Keterbatasan akses informasi kesehatan tersebut dinilai berdampak pada pemahaman pasien terhadap informasi medis, proses konsultasi, hingga pengambilan keputusan kesehatan. Oleh karena itu, pelatihan komunikasi inklusif dirancang untuk membantu tenaga kesehatan memahami kebutuhan komunikasi pasien Tuli serta menciptakan lingkungan pelayanan yang lebih aksesibel.
Diskusi kemudian dilanjutkan bersama perwakilan GERKATIN Kota Yogyakarta, yaitu Dhomas Erika Putri dan Laksmayshita Khanza Larasati yang hadir didampingi Juru Bahasa Isyarat (JBI). Dalam sesi ini, perwakilan komunitas Tuli membagikan pengalaman langsung terkait kendala yang masih kerap ditemui saat mengakses layanan kesehatan, mulai dari pemanggilan pasien yang hanya dilakukan secara verbal hingga keterbatasan komunikasi selama proses konsultasi dengan dokter.
Mereka menekankan pentingnya penerapan strategi komunikasi yang lebih inklusif, seperti penggunaan media tulis, pelepasan masker saat berbicara agar gerak bibir dapat terbaca, serta pemanfaatan teknologi speech-to-text. Selain itu, pembahasan juga mencakup aspek teknis pelaksanaan program, mulai dari keterlibatan anggota komunitas Tuli, skema kegiatan, hingga penyusunan timeline pelaksanaan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung secara aksesibel dan sesuai kebutuhan peserta.
Kolaborasi antara FK-KMK UGM dan GERKATIN Kota Yogyakarta ini menunjukkan komitmen bersama dalam mendorong transformasi layanan kesehatan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Kehadiran komunitas Tuli dalam proses perencanaan program juga menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa intervensi yang dirancang benar-benar berbasis kebutuhan pengguna layanan.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan akses layanan kesehatan yang inklusif bagi komunitas Tuli. Selain itu, SDG 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam komunikasi inklusif. Program ini juga mendukung SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong akses layanan kesehatan yang setara bagi penyandang disabilitas. Di sisi lain, kolaborasi antara FK-KMK UGM dan GERKATIN Kota Yogyakarta menjadi implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama lintas sektor dalam mewujudkan layanan kesehatan yang ramah disabilitas dan berkelanjutan. (Kontributor: Sinta Ristiyanti, Nia Lestari Muqarohmah).




