Di tengah semangat besar dalam pemerataan layanan kesehatan di seluruh pelosok negeri, Pemerintah Indonesia membuat program besar yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia bidang medis. Melalui program Asta Cita Presiden Republik Indonesia, pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat pemenuhan dan pemerataan dokter serta dokter spesialis di berbagai daerah. Program yang menjadi bagian dari visi nasional tersebut tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan jumlah tenaga medis, tetapi juga pada pemerataan akses, kualitas pendidikan kedokteran, dan kemandirian daerah dalam mengelola sistem kesehatannya sendiri.

Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, melalui Academic Health System (AHS) UGM atau yang sekarang dikenal dengan nama Sistem Kesehatan Akademik UGM, telah lebih dahulu melaksanakan program yang serupa. Sejak bertahun-tahun, Sistem Kesehatan Akademik (AHS) UGM telah menjadi pionir dalam membangun jejaring pendidikan kedokteran dan rumah sakit pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan rumah sakit ini mencerminkan tujuan yang sepenuhnya selaras dengan Asta Cita, memperkuat sistem kesehatan nasional melalui pendidikan dan distribusi tenaga dokter yang berkelanjutan.

“Sebetulnya program Asta Cita ini selaras dengan apa yang sudah lama kami kerjakan,” ujar Dr. dr. Sudadi Sp.An., KNA., KAR. selaku Ketua Sistem Kesehatan Akademik UGM. “Sejak kesepakatan dua kementerian (Mendiktisaintek dan Kemenkes) itu pada 2022, kami di AHS sudah bergerak. Program percepatan ini bukan hal baru bagi kami, tapi menjadi dorongan untuk berbuat lebih jauh.”

Keselarasan ini tampak jelas dalam berbagai inisiatif yang telah dilakukan Sistem Kesehatan Akademik UGM, mulai dari pembukaan program studi spesialis baru di daerah, penempatan residen di rumah sakit pendidikan lokal, hingga pemberian pendampingan akademik bagi dosen dan tenaga medis daerah. AHS UGM tidak hanya berbicara tentang pendidikan, tetapi juga menjadi jembatan antara institusi pendidikan dengan wilayah yang kekurangan tenaga kesehatan. Dengan visi yang sejalan dengan pemerintah pusat, AHS UGM menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi lintas sektor antara kementerian, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah dapat menjadi kunci bagi terwujudnya Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan layanan kesehatan lebih merata.

Jembatan Antara Pendidikan dan Pelayanan

Pada program Asta Cita, terdapat delapan tujuan Pembangunan nasional yang menjadi visi pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Maju 2045. Salah satu yang difokuskan adalah percepatan pemenuhan dan peningkatan akses dokter spesialis dan subspesialis di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh dr. Sudadi, program tersebut merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sejak tahun 2022 untuk memperkuat ketersediaan tenaga kesehatan di berbagai lini layanan.

Perjalanan panjang ini dimulai pada tahun 2014 ketika konsep Academic Health System (AHS) pertama kali diperkenalkan. AHS merupakan kolaborasi strategis antara institusi pendidikan kedokteran, rumah sakit pendidikan, dan pemerintah daerah. Kemudian pada tahun 2022, sebuah momentum penting terjadi: Menteri Kesehatan dan Kementerian Pendidikan mencapai kesepakatan untuk bersama-sama menangani pemenuhan dokter spesialis di Indonesia.

Sejak kesepakatan itu, FK-KMK UGM mulai mengambil langkah konkret. Kuota penerimaan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) ditingkatkan hingga 20%. Rasio antara peserta didik dengan pendidik yang semula 1:3 diperlebar menjadi 1:5. Target 20% peningkatan pun berhasil dipenuhi.

Melalui Sistem Kesehatan Akademik (AHS), Universitas Gadjah Mada mendapatkan mandat dalam membina berbagai fakultas kedokteran di Indonesia. dr. Sudadi menginformasikan bahwa FK-KMK UGM mendampingi Universitas Cenderawasih (Uncen) Papua, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, hingga Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak. “Kami ingin daerah punya kemandirian dalam mendidik dokter spesialisnya sendiri. Makanya, kami bantu menyiapkan SDM dosennya, suasana akademiknya, dan jejaring rumah sakit pendidikannya,” jelas dr. Sudadi.

Skema Pendidikan yang Fleksibel dan Adaptif

Tidak hanya berfokus pada pembukaan program studi kedokteran baru, Sistem Kesehatan Akademik (AHS) UGM juga mempunyai tugas dalam menyiapkan sistem pembelajaran yang fleksibel dan adaptif. Hal ini disesuaikan dengan kondisi daerah yang berbeda. Adanya pola pendidikan berjenjang dan rotasi stase menjadi prioritas. Sehingga, mahasiswa calon dokter spesialis dapat menempuh pendidikan di kampus maupun daerah asal.

“Simulasinya sederhana. Semester awal mereka belajar di FK-KMK UGM, kemudian lanjut semester berikutnya di daerah sendiri. Jadi ketika lulus, mereka sudah terbiasa dengan kondisi dan kebutuhan wilayahnya.” tutur dr. Sudadi.

Pendampingan Universitas Cenderawasih menjadi salah satu contoh dalam pelaksanaan strategi tersebut. Di Universitas Cenderawasih belum memiliki program studi anestesi, sehingga mengirimkan dokter anestesi belajar di FK-KMK UGM dengan tujuan nantinya menjadi dosen di Universitas Cenderawasih ketika dibuka program studi anestesi. Skema ini juga berlaku untuk pendidikan subspesialis, dengan harapan dalam jangka waktu tertentu, kebutuhan dokter di daerah tersebut terpenuhi secara bertahap.

“Residen yang dididik tidak hanya belajar di Yogyakarta. Semester 3-4 di FK-KMK UGM, semester 4-5 di lokasi sana,” jelas dr. Sudadi. Dengan model rotasi ini, residen terbiasa dengan kondisi lapangan di daerah. Ketika pendidikan selesai, mereka lebih siap mengabdi di daerah tersebut.

Skema pendidikan seperti ini terbukti efektif dalam mempercepat adaptasi dan memperkuat rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Mereka tidak hanya belajar teori dan keterampilan klinis, tetapi juga memahami konteks sosial dan budaya masyarakat tempat mereka kelak mengabdi.

Tantangan: SDM, Pembiayaan, dan Komitmen Daerah

Pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya dokter spesialis maupun subspesialis di Indonesia tidak mudah. Tantangan terbesar adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan dana pendidikan. Tidak semua daerah mempunyai kemampuan finansial yang sama dalam membiayai calon peserta didik. Sementara kebutuhan dokter terus meningkat untuk melayani masyarakat.

dr. Sudadi menuturkan bahwa pernah ada pemerintah daerah yang mengirimkan peserta didik di FK-KMK UGM. Namun di tahun berikutnya, anggaran untuk pendidikan tersebut hilang karena pergantian kepemimpinan daerah. Sehingga, untuk menindaklanjuti ini, FK-KMK UGM berusaha mencarikan solusi. Salah satu yang dilakukan oleh FK-KMK UGM adalah mengidentifikasi potensi adanya beasiswa dari pihak lain agar pendidikannya tetap berlanjut.

Belajar dari berbagai tantangan tersebut, FK-KMK UGM dan AHS UGM menginisiasi agar sistem pembiayaan dilakukan secara terjamin melalui kerja sama resmi yang melibatkan pemerintah daerah, bank, dan universitas. Sehingga tidak ada peserta yang nantinya kehilangan hak belajar karena kendala birokrasi.

“Pemerintah daerah melakukan pembayarannya penuh di awal. Dengan begitu, peserta didik tidak akan kehilangan dana beasiswanya. Meskipun alurnya pemerintah daerah membayar ke kami setiap semester, tetap sudah ada jaminan dari bank dan pemerintah daerah untuk pembiayaan penuh selama masa pendidikan,” terang dr. Sudadi.

Masalah yang lain dalam pemerataan dokter spesialis adalah memastikan dokter spesialis tersebut tetap tinggal dan mengabdi di daerah yang sudah ditentukan. Adanya beberapa kasus perpindahan tempat dokter spesialis setelah mengabdi beberapa tahun dijadikan pembelajaran. Hal ini mendorong FK-KMK UGM bekerja sama dengan pemerintah daerah mengirimkan putra-putri daerah untuk dididik. Mereka mendapat perhatian khusus, 

Para putra-putri daerah yang sudah terpilih melalui seleksi dengan transparan diberikan pembelajaran program Pra-PPDS. Program ini merupakan tahap persiapan bagi dokter daerah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan klinis sebelum masuk pendidikan spesialis. Program ini dilaksanakan secara bauran. Mulai dari kuliah daring, magang di rumah sakit jejaring daerah tersebut, dan praktik langsung di kampus. Program Pra-PPDS ini membantu calon peserta didik mencapai standar passing level. Pembiayaan ditanggung pemerintah daerah, dan setelah selesai, mereka kembali mengabdi di tanah kelahiran mereka sendiri.

“Kalau orang yang lain yang mendapatkan beasiswa saja, terus selesai kuliah mau ditempatkan di lokasi tertentu, selesai kontrak, biasanya mereka akan balik. Tapi kalau orang yang dididik itu putra-putri daerah, pasti akan mengabdi di daerahnya sendiri,” kata dr. Sudadi.

Menyatukan Visi Nasional

Program Asta Cita yang digagas Presiden RI kini menjadi wadah besar dari seluruh gerakan percepatan pemerataan dokter di Indonesia. Visi nasional tersebut selaras dengan misi AHS UGM yang sudah berjalan hampir satu decade. Sebagai Koordinator Wilayah IV AHS Nasional, UGM juga memiliki tanggung jawab eksternal untuk mendampingi wilayah Jawa Tengah, Kalimantan, dan Indonesia Timur. Untuk mempercepat langkah, mereka membentuk Satgas SDM dan Satgas Pembukaan Prodi Baru, dua tim yang fokus memastikan ketersediaan tenaga pengajar dan pemenuhan syarat akademik sebelum prodi spesialis dibuka.

“Harapannya Presiden RI dengan Asta Cita ini adanya akselerasi, kemudian ditangkap oleh Diktisaintek, terus membentuk satgas-satgas, sebenarnya AHS UGM sudah on the track, tinggal kita dorong lagi agar lebih besar,” terang dr. Sudadi.

FK-KMK UGM, melalui skema AHS, tidak hanya mencetak dokter spesialis, tetapi membangun ekosistem pendidikan kedokteran di daerah. Dengan begitu, tidak hanya kebutuhan saat ini yang terpenuhi, tetapi juga keberlanjutan untuk generasi mendatang. Program Asta Cita hadir sebagai wadah yang mempercepat terealisasinya pemerataan tenaga kesehatan di seluruh sudut Indonesia, dan UGM berada di garis depan untuk mewujudkannya.

“Seperti yang saya sampaikan di awal, bahwa saya ingin setiap daerah punya dokter spesialis yang berasal dari daerah itu sendiri. Mereka yang dididik di sini, akan kembali ke tanah kelahirannya. Karena yang lahir dari sana, pasti akan mengabdi di sana,” pungkas dr. Sudadi dalam wawancara.

Reporter: Nasirullah Sitam, SIP
Narasumber: Dr. dr. Sudadi Sp.An., KNA., KAR
Editor: Sri Awalia Febriana