Tidak semua pertemuan kembali lahir dari rencana besar. Sebagian justru bermula dari ketiban sampur—amanah yang datang dan harus dijalani dengan sepenuh hati. Begitulah kisah awal terbentuknya Golden Three, wadah kebersamaan alumni FK UGM angkatan 1989, 1990, dan 1991.
Momentum itu hadir bertepatan dengan Reuni Dies Natalis ke-80 sekaligus Lustrum ke-16 FK-KMK UGM. Jika pada tahun-tahun sebelumnya reuni diampu oleh satu atau dua angkatan, kali ini terasa berbeda. Tiga angkatan sekaligus dipercaya menjadi tuan rumah. Sebuah tanggung jawab besar, namun sekaligus kehormatan.
Ketua Golden Three, dr. Suhardjanto, M.Kes., menceritakan bahwa Golden Three terdiri atas tiga angkatan FK yaitu 1989, 1990, dan 1991. Adapun perwakilan Golden Three di dalam panitia lustrum adalah dua perwakilan dari masing-masing angkatan: dr. Suhardjanto, M.Kes. dan dr. Nazliah Hanum, M.Sc, Sp.A dari angkatan 1989, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med. Ed., Ph.D dan dr. Freddy Dinata, Sp.OG dari angkatan 1990, serta Dr. dr. M. Rosadi Seswandhana, Sp.B., Sp.B.P.R.E., Subsp.L.B.L.(K) dan dr. Betty Juliastuti Soeharsono, MSc., SpAn dari angkatan 1991. Keenam perwakilan tersebut kemudian membentuk grup untuk berkomunikasi secara intens dan bertukar pikiran untuk membuat sebuah nama yang mewakili tiga angkatan.
“Awalnya, muncul beberapa nama. Kemudian kami seleksi, termasuk mengenai identitas warnanya. Akhirnya, nama mengerucut pada The Golden Three,” kata dr. Suhardjanto.
Tak hanya diwakilkan oleh nama, wujud kebersamaan ketiga angkatan juga terepresentasikan dari identitas warna yang dipilih: emerald, gold, dan putih. Ketiga warna dipilih sebagai lambang narasi yang kuat dan elegan. Emerald melambangkan kedewasaan FK-KMK memasuki usia 80 tahun. Gold merupakan perwujudan dari pencapaian yang mulia. Warna putih mewakilkan niat baik untuk mengundang semua alumni, untuk berjejaring dan memberikan kontribusi ke FK-KMK.
“Jadi, secara bersama-sama, kombinasi tiga warna ini menceritakan kisah FK-KMK dengan seluruh sivitas akademika, termasuk alumni, yang diharapkan bisa tumbuh bermakna, memiliki pencapaian yang mulia di tempatnya masing-masing, dan itu semua didasarkan pada pondasi yang harapannya harmonis, saling mendukung karena sama-sama sebagai alumni FK-KMK,” jelas Prof. Gandes, turut menceritakan makna warna identitas The Golden Three.
Kontribusi Nyata untuk Almamater
Setelah The Golden Three lahir pada tahun 2025, keenam perwakilan membentuk kepanitiaan yang lebih besar dalam wadah Kagamadok, saling berkomunikasi secara intens, menjalankan serangkaian kegiatan yang mengupayakan kebermanfaatan pada tiga aspek, yaitu kepada almamater, anggota alumni, dan masyarakat. Beragam kegiatan dijalankan sepanjang tahun: kunjungan ke para dosen senior, seminar bersama tiga angkatan, hingga menjenguk teman sejawat yang sedang menjalani perawatan.
“Ada 10 dosen yang sudah kami kunjungi, yaitu dosen yang sudah sepuh dan sakit. Kunjungan kami sebagai bentuk hormat dan rasa rindu kepada para dosen kami. Selain dosen, kami juga mengunjungi teman dari angkatan 1989 yang sudah lama sakit dan membutuhkan perawatan. Alhamdulillah, The Golden Three berkesempatan untuk berkunjung meskipun tempatnya relatif jauh,” ujar dr. Suhardjanto.
Kepada FK-KMK, The Golden Three juga ingin berkontribusi secara nyata dengan merenovasi Auditorium Bambang Soetarso. Kebermanfaatan tersebut diharapkan dapat menjadi warisan yang bermanfaat dalam jangka panjang, mulai dari tata ruang hingga perbaikan pencahayaan agar lebih representatif dan fungsional.
Prof. Gandes menyebut, beragam kegiatan tersebut memberikan kesan tersendiri bagi The Golden Three. Ia mencontohkan, seminar tiga angkatan ternyata menghadirkan banyak ahli di bidang tertentu dari ketiga generasi, sehingga memberikan edukasi dan pengetahuan terkait keahlian masing-masing, baik kepada The Golden Three maupun masyarakat yang berpartisipasi.
Mengunjungi para guru juga ternyata memberikan kebahagiaan bagi mereka yang dikunjungi. Mungkin, bagi orang yang mengunjungi, visitasi tersebut adalah hal yang biasa. Namun, kegiatan itu memberikan kebahagiaan yang signifikan bagi orang yang dikunjungi.
“Bagi saya, guru adalah orang tua kita. Ini merupakan kegiatan yang harus diteruskan. Kalau bisa, frekuensinya ditambah,” kata perwakilan The Golden Three angkatan 1990 itu.
Puncak kontribusi The Golden Three bermuara pada Malam Temu Alumni dalam rangkaian Dies Natalis ke-80 dan Lustrum ke-16 FK-KMK UGM. Dengan antusiasme tinggi dan dukungan sponsor, The Golden Three menyuguhkan beragam kegiatan pemecah suasana–sekaligus penghangat kebersamaan–termasuk menampilkan lintas angkutan dari beberapa disiplin ilmu, hingga menghadirkan bintang tamu nasional dan ketoprak humor. The Golden Three berharap, Malam Temu Alumni dapat memberikan kesan yang mendalam bagi ketiga angkatan.
“Mindset kami satu: kami menutup celah agar tidak ada yang kecewa atau tidak puas dengan yang kami lakukan,” kata dr. Suhardjanto.
Menyatukan Tiga Angkatan, Menjaga Solidaritas
Menyatukan tiga angkatan tentu bukan perkara mudah. Setiap angkatan memiliki karakter, dinamika, dan kesibukan masing-masing. Tantangan terbesar bukan pada perbedaan, melainkan menjaga kekompakan. Namun, The Golden Three menyatukan kekuatan melalui kesamaan almamater, jarak angkatan yang tidak terlalu jauh, dan pengalaman masa kuliah yang relatif serupa.
Dinamika yang ada pun bukan menjadi persoalan besar. Beruntung, The Golden Three memiliki anggota yang dapat saling berdiskusi dan mencari solusi apabila menemukan masalah. dr. Suhardjanto menekankan pentingnya saling menginformasikan dengan cepat, saling terbuka, saling mengisi, dan tidak menunda masalah. Apabila menghadapi dinamika tertentu, The Golden Three segera mengatasi dan mencari solusi tanpa menunda penyelesaian masalah.
Sebagai Ketua sekaligus angkatan tertua dari The Golden Three, dr. Suhardjanto juga mengungkapkan pentingnya ngemong dan berlapang dada ketika menghadapi permasalahan lam tiga angkatan. Menurutnya, dinamika dalam kelompok merupakan proses pembelajaran diri yang tidak akan pernah usai.
“The Golden Three mengajarkan banyak hal, bahwa ternyata kami masih perlu belajar dalam berkomunikasi, bagaimana menjalin hubungan dengan teman-teman dari angkatan lain, dan menurut saya itu semakin menambah kedewasaan. Saya yakin, peran masing-masing dalam The Golden Three dapat menetralisir dinamika itu, belajar dari itu dengan baik, dan menatap ke depan,” paparnya.
Dari Panitia Menjadi Keluarga
Seiring berjalannya waktu, The Golden Three tumbuh menjadi lebih dari sekadar kepanitiaan. Ketiga angkatan yang sebelumnya sekadar menyapa saat menempuh studi di FK UGM, kini merajut kembali memori. Anggota The Golden Three pun semakin akrab, bahkan lebih akrab daripada semasa perkuliahan.
Ketika para anggota The Golden Three masih fokus dengan kegiatan perkuliahan kala itu, kini bersilaturahmi dan bertemu dengan teman-teman seperjuangan menjadi kebutuhan. Para anggota saling bertaut melalui cerita-cerita, baik sesama angkatan maupun lintas angkatan.
“Kalau misalkan bertemu di bandara, kami saling mengingatkan satu sama lain sebagai The Golden Three. Kami saling bersama-sama saat kegiatan. Jadi, lebih ada ikatan di antara kami. Jika kami dulu lebih individual, sekarang apa-apa bersama,” kenang Prof. Gandes.
Senada dengan Prof. Gandes, dr. Suhardjanto mengemukakan bahwa kehadiran The Golden Three menambah kedewasaan dalam bersikap. “Kita yang memiliki profesi sama harus bisa menyeimbangkan dedikasi kepada profesi dan bersilaturahmi kepada teman-teman, bahkan teman almamater,” terangnya.
Mewariskan Nilai
Bagi The Golden Three, solidaritas adalah nilai utama yang harus terus dijaga. Ke depan, kebersamaan ini diharapkan tidak berhenti pada Malam Temu Alumni, tetapi berlanjut dalam karya dan kebermanfaatan.
Salah satu komitmen penting yang hendak diteruskan adalah budaya handover—mewariskan pengalaman, dokumen, sistem pendanaan, hingga pembelajaran kepada adik angkatan berikutnya, khususnya angkatan 1992 dan 1993 yang akan menerima estafet reuni selanjutnya.
“Kepada adik-adik angkatan 1992 dan 1993, kami siap menularkan ilmu dan membagikan pengalaman dalam berjuang menyelenggarakan reuni dengan baik. Untuk adik-adik angkatan lainnya, di mana pun kita berada, kita dapat menjunjung tinggi profesionalisme sebagai dokter, sekaligus menjaga silaturahmi yang baik kepada teman-teman sejawat. Jangan sampai ada kesan bahwa dokter itu individualis dan tidak saling peduli,” harap dr. Suhardjanto.
Mengamini dr. Suhardjanto, Prof. Gandes berharap setelah rangkaian kegiatan Dies dan Lustrum usai, The Golden Three tetap dapat berdampak bersama dan aktif untuk melakukan budaya handover kepada angkatan selanjutnya.
“Untuk angkatan yang lebih muda, kami akan membiasakan adanya budaya handover, bukan hanya keterlibatan aktif dari angkatan yang lebih muda, tetapi justru angkatan sebelumnya berbagi secara aktif dan mendukung angkatan di bawahnya. Kami ingin berjalan bersama-sama, sehingga nanti angkatan selanjutnya bukan hanya sebaik angkatan sebelumnya, tetapi selalu lebih baik dari angkatan-angkatan sebelumnya,” tutup Prof. Gandes.
Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia
Editor: Gunadi