FK-KMK UGM Perkuat Kolaborasi melalui Penandatanganan MoU dengan Sinovac dan Biofarma

FK-KMK UGM. Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan penguatan kolaborasi internasional melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan Sinovac Holding Group dan PT Bio Farma (Persero). Kerja sama strategis ini melibatkan Pusat Kajian Kesehatan Anak dan Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit sebagai bagian dari upaya integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang kesehatan, khususnya pengembangan vaksin dan produk biologi. Penandatanganan MoU dilaksanakan pada 21 April 2026 di Balairung UGM, Yogyakarta.

Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan universitas, peneliti, serta perwakilan dari ketiga institusi. Dari pihak UGM hadir Rektor, pimpinan fakultas, serta sejumlah akademisi dan klinisi dari rumah sakit pendidikan. Sementara itu, delegasi Sinovac dan Biofarma turut menghadirkan jajaran pimpinan riset dan pengembangan yang berperan dalam penguatan kerja sama lintas negara.

Rangkaian kegiatan diawali dengan diskusi yang membahas pengembangan vaksin, khususnya vaksin demam berdarah. Dalam sesi ini, dipaparkan perkembangan uji klinis vaksin dengue serta kondisi surveilans penyakit di Indonesia. Diskusi berlangsung dinamis dengan melibatkan berbagai ahli dari bidang klinis dan penelitian, yang menyoroti pentingnya pendekatan berbasis data dalam pengendalian penyakit menular.

Agenda utama berupa penandatanganan MoU menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemitraan global. Dalam sambutannya, pimpinan universitas menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam mempercepat pengembangan inovasi kesehatan yang berdampak luas. Perwakilan Sinovac dan Biofarma juga menyampaikan komitmen untuk memperluas riset serta mendukung pengembangan industri vaksin nasional.

Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Rumah Sakit Akademik UGM yang menjadi bagian dari penguatan kapasitas uji klinis. Diskusi teknis mencakup implementasi penelitian klinis, termasuk keterlibatan populasi khusus seperti bayi dan anak. Pertukaran pengetahuan yang terjadi dalam sesi ini menunjukkan potensi Indonesia sebagai pusat uji klinis global dengan dukungan infrastruktur dan sumber daya yang memadai.

Pada hari kedua, diskusi berlanjut dengan fokus pada pengembangan berbagai vaksin seperti pneumokokus, rotavirus, dan RSV. Para peserta membahas pentingnya penguatan sistem surveilans penyakit sebagai dasar pengambilan kebijakan kesehatan yang tepat. Selain itu, inovasi teknologi vaksin terbaru juga menjadi sorotan dalam mendorong kemajuan industri kesehatan.

Kegiatan ini juga selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan vaksin dan penguatan sistem kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan adanya kolaborasi riset dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang kesehatan. SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur diwujudkan melalui pengembangan teknologi vaksin dan penguatan ekosistem inovasi kesehatan. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dengan adanya kolaborasi internasional antara institusi akademik dan industri dalam mendorong kemajuan kesehatan. (Kontributor: Erica Yunita Trisnawati, Dhimas Sholikhul Huda).