FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Muda (UGM) bekerja sama dengan City Cancer Challenge (C/Can) membuka kegiatan Yogyakarta’s Breast Cancer Initiative: Breast Cancer Action Planning Workshop pada Senin (4/5/2026). Pembukaan workshop dilaksanakan di Auditorium FK-KMK UGM. Workshop berlangsung selama tiga hari, yakni Senin-Rabu, 4-6 Mei 2026, dan diselenggarakan di lingkungan FK-KMK UGM.
Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan, Prof. Dr. dr. Lina Choridah, Sp.Rad(K), mengatakan bahwa program Yogyakarta’s Breast Cancer Initiative (YBCI) melibatkan multi-stakeholder, antara lain berupa Kementerian Kesehatan RI maupun institusi pemerintah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), fasilitas layanan kesehatan seperti rumah sakit, NGO/CSOM, dan Puskesmas di wilayah DIY. Sementara itu, Director C/Can Horizon & Accelerator Hub, Mathieu Morand, mengungkapkan, workshop ini menjadi wadah berdialog berbasis bukti dan pengambilan keputusan bersama antar pemangku kepentingan lokal yang sejalan sejalan dengan kebutuhan C/Can, sistem kesehatan lokal, Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara, dan kerangka kerja Global Breast Cancer Initiative (GBCI) WHO.
Dalam sesinya, Dr. Maira Caleffi dari GBCI WHO mengemukakan menginisiasi tiga pilar strategi komprehensif untuk mengendalikan kanker payudara yang diharapkan dapat tercapai pada 2040. Ketiga pilar itu antara lain setidaknya 60 persen didiagnosis pada stadium awal (1 atau 2), diagnosis ditegakkan dalam 60 hari sejak gejala muncul, dan lebih dari 80 persen pasien menerima terapi multimodalitas hingga selesai.
Mendukung tiga pilar tersebut, dr. Endang Lukitasari MPH dari Direktorat Kemenkes RI menyampaikan mandat untuk Yogyakarta sebagai pionir model layanan terintegrasi. Mewakili Kemenkes, ia berharap Pemda dan Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten, maupun Kota mengadopsi indikator kunci Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara ke dalam RPJMD dan Renstra daerah. Selain itu, penting pula membangun clinical pathway regional yang kuat antara FPKTP, RSUD, dan RSUP Dr. Sardjito untuk memangkas delay diagnostik. Terakhir, dr. Endang berpesan agar menggunakan data registry kanker berbasis populasi yang tervalidasi dari akademisi UGM untuk mengukur dampak nyata bersama C/Can dan WHO.
“Mari jadikan YBCI sebagai tolok ukur nasional dalam mewujudkan layanan kanker payudara yang cepat, merata, dan berpusat pada pasien,” tutup dr. Endang.
YBCI Breast Cancer Action Planning Workshop ini menjadi salah satu wujud kontribusi fakultas dalam mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dalam rangka peningkatan layanan dan penanganan kanker payudara; SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur sebagai upaya peningkatan infrastruktur dan inovasi dalam sistem kesehatan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan karena menunjukkan pentingnya kemitraan multi-stakeholder dalam mencapai tujuan kesehatan. (Penulis: Citra/Humas).



