Seminar Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM Bahas Pengaruh Perubahan Iklim pada Persebaran Arbovirus

FK-KMK UGM. Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan seminar berjudul “Arboviral Diseases in a Changing World: Climate, Mobility, and Emerging Threats” pada Selasa (5/5/2026) di Auditorium Gedung Tahir Utara lantai 1, FK-KMK UGM. Seminar ini menghadirkan tiga pembicara, yakni dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D. dari FK-KMK UGM; Triwibowo Ambar Garjito, S.Si, M.Kes. Ph.D dari Badan Riset dan Inovasi Nasional; dan Prof. Martin Peter Grobusch dari Amesterdam UMC. Dalam seminar ini, para pembicara membahas tentang berbagai faktor meluasnya persebaran arbovirus, termasuk dari perubahan iklim hingga mobilitas manusia.

Pada sesi pertama, dr. Riris selaku dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM memperkenalkan sejarah munculnya arbovirus, yakni dengue, chikunguya, zika, dan yellow fever yang ditularkan oleh Aedes aegypti. Perubahan iklim pada 5.000 tahun lalu membuat populasi Aedes aegypti di Afrika mencari habitat yang mengandung sumber air, yaitu di permukiman manusia. Setelah revolusi industri dan mobilitas manusia yang semakin meninggi, Aedes aegypti pun menyebar ke benua Amerika, Asia, hingga Eropa. Transmisi infeksi Aedes aegypti antar negara menjadi semakin meningkat.

“Mobilitas yang meningkat menyebabkan risiko penularan dan kasus penyakit arbovirus lebih meningkat, dan kita tidak bisa memperlakukannya seperti ‘bisnis’, tetapi kita perlu mencari cara baru serta membuat strategi yang integratif dan komprehensif untuk mengatasinya,” ujar dr. Riris.

Mendukung pemaparan dr. Riris, Triwibowo secara spesifik menambahkan bahwa urbanisasi, adaptabilitas ekologi, dan faktor sosio-ekonomi seperti ketimpangan sosial dan pengelolaan sampah yang buruk turut menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap meluasnya persebaran Aedes aegypti. Hal itu menyebabkan kondisi cuaca di setiap daerah di Indonesia bisa berbeda, begitu pula dengan persebaran Aedes aegypti.

“Pendekatan multidisipliner berupa ilmu pengetahuan mengenai iklim, vektor, kesehatan masyarakat, dan konservasi penting untuk memprediksi, memonitor, dan memitigasi beban penyakit dari skenario iklim di masa depan. Kolaborasi serta kontribusi dari institusi nasional maupun internasional yang melibatkan para ilmuwan, ahli kesehatan masyarakat, dan ahli kebijakan perlu dilakukan untuk menghambat percepatan perubahan iklim dan ancaman infeksi nyamuk,” terang Triwibowo.

Pada sesi terakhir, Prof. Martin memberikan perspektif kasus arbovirus di mancanegara dari berbagai penelitian yang telah ia lakukan, seperti di Burkina Faso, Afrika, hingga kota Fano di Italia. Dia menegaskan, perubahan iklim berperan penting dalam peningkatan kasus dengue di beberapa belahan dunia itu. Misalnya, kasus arbovirus di Amerika turut dipengaruhi oleh perubahan iklim yang disebabkan karena kebakaran hutan yang seringkali terjadi. Bahkan, di Eropa, perubahan iklim menjadi salah satu faktor tertinggi dalam penyebaran dengue.

“Dengue menjadi penyebab febrile illness pada para pelancong dari Asia Tenggara ke Eropa,” tambah Prof. Martin.

Seminar “Arboviral Diseases in a Changing World: Climate, Mobility, and Emerging Threats” menjadi salah satu wujud kontribusi fakultas dalam mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs). Seminar ini mendukung implementasi SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera karena mendukung akses terhadap air bersih dan sanitasi untuk mencegah infeksi Aedes aegypti, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan karena memberikan pesan pentingnya perumahan yang berkelanjutan dan sehat, serta SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pemaparan tentang manajemen perubahan iklim yang dapat mengurangi persebaran aedes aegypti. (Penulis: Citra/Humas).