FK-KMK UGM dan PAMKI Cabang Yogyakarta Selenggarakan Seminar Joglosemar Round Table Discussion

FK-KMK UGM. Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) Cabang Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Joglosemar Round Table Discussion pada Kamis (21/5/2026), Seminar ini mengusung tema “Standardizing AST Interpretation in the Era of MDRO: Clinical Implications of CLSI M100 2026 Update”. Kegiatan dilaksanakan di Auditorium Gedung Tahir Utara lantai 8, FK-KMK UGM. Sekitar 50 peserta berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah tersebut.

Ketua PAMKI Cabang Yogyakarta, dr. Abu Tholib Aman, M.Sc., Ph.D., Sp.MK(K), dalam sambutannya mengatakan bahwa pertemuan ini mendiskusikan berbagai persoalan terkait mikroba yang sangat erat dengan kesejahteraan manusia. dr. Abu Tholib berharap, seminar yang diselenggarakan dapat berkontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan hidup manusia yang lebih baik, terutama dalam bidang kesehatan.

“Ini merupakan momen yang bagus untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran dan terobosan, yang akan sangat mendukung tercapainya keseimbangan antara kita yang memerlukan mikroba, dengan bagaimana kita hidup berdampingan dengan mikroba dan mengontrolnya,” ujar dr. Abu Tholib.

Dimoderatori oleh dr. Maria Silvia Utomo, M.Sc., Sp.MK dari Rumah Sakit Panti Rapih, seminar menghadirkan empat narasumber. Keempat narasumber antara lain Prof. dr. Titik Nuryastuti, M.Si., PhD., Sp.MK(K) dari FK-KMK UGM, Dr.dr. Leli Saptawati, Sp.MK(K) dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Helmia Farida, Sp.A(K)., M.Kes., Ph.D. dari Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, dan Brett Crawley MAIMS, MASM, MACTM dari Biomerieux.

Pada sesi pertama, Prof. Titik menyampaikan materi bertajuk “Optimizing Sample Handling and Processing for Accurate Detection of MDRO”. Pemaparannya mencakup jenis dan kualitas sampel untuk pemeriksaan mikrobiologi, teknik pengambilan dan transport sampel, faktor pre-analytical yang memengaruhi hasil kultur dan AST, dampak kesalahan handling terhadap deteksi MDRO, serta praktik baik di laboratorium. Masih dari perspektif laboratorium, dr. Leli pada sesi selanjutnya membahas penentuan signifikansi klinis suatu isolat, kontaminan versus patogen sejati, kapan hasil perlu dilaporkan secara lengkap, selective reporting dan interpretative comments, strategi pelaporan untuk kasus MDRO, serta komunikasi efektif antara laboratorium dan klinisi.

Sesi ketiga, dr. Helmia mengangkat topik “Translating AST Reports into Therapeutic Decisions: Clinical Challenges in Managing MDRO Infections” yang berfokus pada tantangan terapi empiris pada kasus MDRO, hingga bagaimana hasil kultur dan AST digunakan untuk mengarahkan terapi antibiotik yang lebih tepat dan efisien. Sesi seminar ditutup oleh Brett Crawley yang membahas tentang pembaruan CLSI M100 2026 beserta implikasi praktiknya dengan analisis berbasis kasus dalam deteksi MDRO.

Seminar Joglosemar Round Table Discussion menjadi salah satu wujud kontribusi fakultas dalam mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs). Seminar ini mendukung implementasi SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan karena mendukung akses terhadap pendidikan kedokteran mikrobiologi untuk peningkatan kapasitas serta keilmuan para dokter, klinisi, dan petugas laboratorium di Indonesia. (Penulis: Citra/Humas).