Perkuat Manajemen Bencana ASEAN, AIDHM FK-KMK UGM dan JICA Tandatangani ARCH Plus Project

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai sekretariat ASEAN Institute for Disaster Health Management (AIDHM) menandatangani perjanjian kerja sama terkait pengembangan ARCH Plus Project dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Penandatanganan dilaksanakan pada Selasa (30/6/2026) di Executive Room Lantai 2, Gedung Pusat FK-KMK UGM. Perjanjian kerja sama ini menjadi penanda kemitraan jangka panjang antara AIDHM dan JICA dalam memajukan manajemen bencana dan pengembangan kapasitas tim medis darurat di seluruh negara anggota ASEAN.

Dekan FK-KMK UGM sekaligus Ketua Sekretariat AIDHM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D, FRSPH, menyampaikan apresiasi atas tonggak baru keberhasilan yang dilakukan dilakukan proyek sebelumnya, ARCH Project. Keberhasilan proyek ini berhasil meningkatkan koordinasi regional dan kapasitas tim medis darurat.

Pondasi yang kuat dalam proyek sebelumnya memungkinkan AIDHM untuk terus tumbuh dan menjadi lenbaga regional yang berkelanjutan sebagai jejaring akademik di ASEAN tentang manajemen kesehatan bencana melalui penelitian, pendidikan, dan pertukaran pengetahuan. Kini, ARCH PLUS Project mewakili babak selanjutnya dalam perjalanan kerja sama AIDHM dan JICA untuk memperkuat keamanan kesehatan bencana di seluruh wilayah.

“Acara ini sepenuhnya berkomitmen untuk bekerja sama dengan JICA, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan semua mitra regional kami. Kami akan terus memperluas kapasitas teknis kami dan melaksanakan proritas inti ASEAN, yaitu bekerja menuju tujuan bersama kami untuk ASEAN yang lebih tangguh, responsif, dan berkelanjutan,” kata Prof. Yodi.

Chief Representative of JICA Indonesia Office, Takeda Sachiko, turut mengungkapkan bahwa penandatanganan laporan diskusi tersebut mewakili kerja sama formal antara AIDHM dan JICA di bidang manajemen kesehatan bencana yang menargetkan semua negara anggota ASEAN. Takeda mengatakan, kerja sama antara kedua pihak berakar dari kesamaan sebagai negara-negara rawan bencana. Oleh karena itu, manajemen kesehatan bencana menjadi sangat penting untuk menghadapinya.

Kerja sama antara JICA dan AIDHM bermula dari ARCH1 Project yang dilaksanakan pada 2016-2021. Proyek ini bertujuan untuk mengembangkan mekanisme kolaborasi regional dan meningkatkan kapasitas dalam manajemen kesehatan bencana di seluruh wilayah ASEAN. Di bawah ARCH1 Project, berbagai tonggak penting telah dicapai, seperti pembentukan komite koordinasi regional, pengembangan prosedur operasi standar sebagai alat untuk kolaborasi regional yang efektif, dan pelaksanaan latihan kolaborasi regional untuk memperkuat kolaborasi praktis regional.

Sementara itu, di bawah ARCH 2 Project pada 2022-2026, pencapaian berfokus pada penguatan kerangka kerja kolaborasi regional, mengintegrasikan sistem manajemen bencana yang telah dikembangkan ke dalam struktur nasional dan subnasional, dan meningkatkan kegiatan manajemen pengetahuan. Salah satu hasil yang paling menonjol dari pencapaian tersebut adalah pembentukan AIDHM yang berlokasi di FK-KMK UGM.

Kini, Takeda mengatakan, ARCH Plus Project berusaha untuk lebih melembagakan upaya manajemen kesehatan bencana ASEAN di bawah kepemimpinan dan fasilitasi AIDHM. Hasil yang diharapkan meliputi pengembangan sistem operasional AIDHM, promosi kegiatan akademik tentang manajemen kesehatan bencana di bawah jaringan akademik ASEAN, peningkatan kemampuan dan sistem operasional kesehatan mental darurat, dan penguatan kerangka kerja regional untuk kegiatan pelatihan.

“Setelah bertahun-tahun kolaborasi yang erat dan berkelanjutan ini, kami percaya bahwa rencana proyek kami akan semakin melengkapi dan memperkuat kemitraan JICA dan UGM, khususnya dari perspektif pendekatan regional. Saya yakin kerja sama dalam manajemen kesehatan bencana ini akan membuka jalan bagi banyak upaya yang bermanfaat antara Jepang, AIDHM, dan negara-negara anggota ASEAN,” tutup Takeda.

Kegiatan penandatanganan kerja sama ARCH Plus Project antara AIDHM dan JICA mencerminkan implementasi nyata dari upaya fakultas dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan karena melibatkan kemitraan global antara institusi akademik, lembaga internasional Jepang, dan negara-negara anggota ASEAN. Kemitraan global tersebut secara langsung membidik SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan manajemen kesehatan bencana, kapasitas tim medis darurat, hingga sistem kesehatan mental darurat.

Selain itu, kerja sama ini relevan dengan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan karena berupaya mewujudkan kawasan ASEAN yang lebih tangguh dan responsif mengingat statusnya sebagai wilayah rawan bencana. Seluruh upaya tersebut didorong melalui pendekatan SDG 4: Pendidikan Berkualitas berupa promosi jejaring akademik, penelitian, pelatihan, dan pertukaran pengetahuan lintas negara.