Penelitian Peserta Didik FK-KMK UGM Kaji Biomarker untuk Deteksi Risiko Jantung pada Pasien Hemodialisis

FK-KMK UGM. Program Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Peminatan Ginjal Hipertensi mengangkat penelitian mengenai hubungan biomarker FGF-23 dan α-Klotho dengan hipertrofi ventrikel kiri pada pasien penyakit ginjal tahap akhir yang menjalani hemodialisis rutin. Penelitian tersebut dipaparkan oleh Zumrati Ahmad melalui video 3 Minute Thesis dengan judul “Analisis Korelasi Nilai Kadar Fibroblast Growth Factor-23 (FGF-23) dan α-Klotho Serum dengan Hipertrofi Ventrikel Kiri pada Pasien Penyakit Ginjal Tahap Akhir yang Menjalani Hemodialisis Rutin”. Kajian ini bertujuan menilai hubungan kedua biomarker tersebut dengan perubahan struktur jantung yang berisiko meningkatkan komplikasi kardiovaskular pada pasien hemodialisis.

Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu persoalan penting dalam penatalaksanaan pasien penyakit ginjal tahap akhir. Kelompok pasien ini memiliki risiko mengalami gangguan jantung dan kematian yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah hipertrofi ventrikel kiri atau left ventricular hypertrophy (LVH), yaitu penebalan otot pada dinding bilik kiri jantung. Perubahan struktur tersebut menjadi perhatian karena merupakan prediktor independen terhadap kejadian gagal jantung dan kematian jantung mendadak atau sudden cardiac death.

Identifikasi faktor yang berkaitan dengan LVH menjadi penting untuk mendukung pemantauan dan penatalaksanaan pasien. Dalam konteks tersebut, penelitian Zumrati berangkat dari dugaan keterkaitan antara peningkatan kadar Fibroblast Growth Factor-23 (FGF-23) dan penurunan kadar α-Klotho dengan perubahan struktur jantung. Kedua biomarker ini dikaji secara bersamaan untuk melihat hubungannya dengan kejadian LVH pada pasien penyakit ginjal tahap akhir yang menjalani hemodialisis.

Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong lintang atau cross-sectional. Sebanyak 51 pasien yang menjalani hemodialisis rutin di Instalasi Hemodialisis RS Dr. Sardjito dilibatkan sebagai subjek penelitian. Melalui pengukuran dan analisis data, penelitian ini memperoleh gambaran mengenai prevalensi LVH serta hubungan kadar FGF-23 dan α-Klotho serum dengan kondisi tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi LVH pada pasien yang diteliti mencapai 78,8 persen. Kadar FGF-23 di atas 82,5 pg/mL menunjukkan korelasi yang signifikan dengan LVH. Sementara itu, kadar α-Klotho serum di atas 17,37 pg/mL tidak menunjukkan korelasi yang signifikan apabila ditinjau secara tersendiri. Namun, analisis terhadap kombinasi kadar FGF-23 dan α-Klotho serum memperlihatkan adanya hubungan dengan LVH serta potensi sebagai prediktor independen dalam penelitian ini.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa pemeriksaan biomarker dapat menjadi salah satu aspek yang perlu dieksplorasi lebih lanjut dalam memahami risiko perubahan struktur jantung pada pasien hemodialisis. Meski demikian, hasil penelitian perlu ditafsirkan sesuai dengan desain yang digunakan. Pendekatan potong lintang hanya menggambarkan hubungan antarvariabel pada satu periode pengamatan sehingga belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat antara kadar biomarker dan terjadinya LVH.

Penelitian ini dibimbing oleh dr. Iri Kuswadi, Sp.PD-KGH dan dr. Yulia Wardhani, Sp.PD-KGH. Hasil kajian diharapkan dapat menambah bukti ilmiah mengenai hubungan biomarker dengan kelainan struktur jantung pada pasien penyakit ginjal tahap akhir. Penelitian lanjutan dengan desain dan cakupan yang lebih luas diperlukan untuk menilai konsistensi temuan, memahami mekanisme hubungan kedua biomarker tersebut, serta menguji kemungkinan pemanfaatannya dalam praktik klinis.

Pengembangan penelitian semacam ini penting karena pasien penyakit ginjal tahap akhir membutuhkan pemantauan yang tidak hanya berfokus pada fungsi ginjal, tetapi juga risiko komplikasi pada organ lain, termasuk jantung. Apabila potensi biomarker dapat dibuktikan melalui penelitian lanjutan, hasilnya dapat memberikan tambahan informasi bagi tenaga kesehatan dalam mempertimbangkan pemeriksaan dan pengelolaan risiko kardiovaskular. Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan bukti ilmiah untuk mendukung pencegahan dan penanganan penyakit tidak menular. (Kontributor: Siwi Ratri Kurniasih).