Penelitian CHBP FK-KMK UGM Soroti Integrasi Layanan Gigi dan PTM di Konferensi INAHEA 2026

FK-KMK UGM. Center for Health Behavior and Promotion (CHBP) mempresentasikan hasil penelitian mengenai pemanfaatan layanan kesehatan gigi pada orang dewasa muda dengan penyakit tidak menular (PTM) dalam ajang 9th Biennial Scientific Meeting Indonesian Health Economics Association (INAHEA) 2026. Konferensi yang berlangsung pada 23–25 Juli 2026 di Purwokerto.

Penelitian dipresentasikan oleh Asisten Peneliti CHBP FK-KMK UGM, Dagun Raisah Laksmi Pratiwi, dan merupakan hasil kolaborasi bersama Ketua CHBP FK-KMK UGM, dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D., yang mengkaji pengaruh kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) serta berbagai hambatan akses terhadap pemanfaatan layanan kesehatan gigi di Indonesia.

Penelitian ini memanfaatkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang melibatkan 100.742 responden dewasa berusia 25–39 tahun yang melaporkan mengalami keluhan gigi atau mulut dalam satu tahun terakhir. Analisis dilakukan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat dalam memanfaatkan layanan kesehatan gigi, terutama pada kelompok yang hidup dengan penyakit tidak menular.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan layanan kesehatan gigi masih relatif rendah. Dari seluruh responden yang mengalami keluhan gigi atau mulut, hanya sekitar 15 persen yang benar-benar mengakses pelayanan kesehatan gigi. Proporsi tersebut memang sedikit lebih tinggi pada kelompok penderita PTM maupun peserta JKN, namun peningkatan tersebut belum menunjukkan hubungan yang saling memperkuat antara status PTM dan kepesertaan JKN terhadap pemanfaatan layanan kesehatan gigi.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kepemilikan JKN maupun kondisi penyakit tidak menular belum cukup untuk mendorong masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan gigi secara optimal. Dengan kata lain, masih terdapat berbagai hambatan lain yang memengaruhi akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, baik dari aspek pengetahuan, ketersediaan layanan, maupun kemudahan dalam memperoleh pelayanan.

Melalui penguatan ILP, kepesertaan JKN diharapkan tidak hanya menjadi identitas administratif bagi masyarakat, tetapi juga benar-benar mendorong peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan yang berkualitas. Integrasi pelayanan memungkinkan pasien memperoleh pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, termasuk kesehatan gigi dan mulut yang selama ini sering kali belum menjadi prioritas.

Penelitian ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan primer, deteksi dini penyakit tidak menular, dan peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan gigi. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong pemerataan akses layanan kesehatan yang mudah dijangkau dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui diseminasi bukti ilmiah yang memperkuat kolaborasi antara akademisi, penyedia layanan kesehatan, dan pembuat kebijakan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. (Kontributor: Sinta Ristiyanti).