FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama RSUP Dr. Sardjito menyelenggarakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi komunitas lari dan masyarakat umum melalui kolaborasi dengan SAC Active Series di Ruang Kuliah Radiopoetro UGM, Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan bertajuk “Be Ready. Save a Life.” tersebut digelar untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan yang dapat terjadi selama aktivitas olahraga, khususnya perlombaan lari.
Pelatihan ini berangkat dari kesadaran bahwa kondisi darurat, seperti henti jantung mendadak maupun heatstroke, dapat terjadi tanpa diduga. Dalam situasi perlombaan, posisi tenaga medis tidak selalu berada tepat di samping orang yang mengalami kondisi tersebut. Karena itu, orang-orang yang berada paling dekat dengan korban, seperti sesama pelari, pacer, marshal, dan panitia, dapat memiliki peran penting pada menit-menit awal sebelum bantuan medis tiba.
Sebanyak 45 peserta dari SAC Running Club, KLUB Runners, dan masyarakat umum mengikuti kegiatan dengan antusias. Materi diberikan oleh jajaran dokter spesialis yang juga aktif sebagai pegiat lari dan pembuat konten, yaitu Dr. dr. Akhmad Yun Jufan, Sp.An-TI, Subsp. TI (K), dr. M. Agi Ramadhani Gustisiya, Sp.JP, FIHA, dr. Muhammad Yogi Prandani, Sp.An-TI, dr. Tirta Mandira Hudhi, M.B.A., dr. Anjangsari, Sp.An-TI, dan dr. Nashiruddin, Sp.An-TI. Pelatihan juga didukung oleh tim dokter residen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi UGM.
Dengan mengusung semangat “Pelari Jaga Pelari”, kegiatan dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep BHD, tetapi juga mampu mengenali situasi yang membutuhkan pertolongan segera. Materi disampaikan secara praktis melalui simulasi langsung sehingga peserta dapat mencoba keterampilan yang diberikan dalam suasana pembelajaran yang interaktif.
Peserta dilatih mengenali korban yang tidak responsif, meminta bantuan darurat, serta melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan teknik kompresi dada yang tepat. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan Automated External Defibrillator (AED), yaitu alat pemacu jantung otomatis yang dapat digunakan dalam penanganan henti jantung pada situasi tertentu.
Pendekatan praktik menjadi bagian penting dalam kegiatan karena keterampilan pertolongan pertama membutuhkan kesiapan untuk bertindak. Pengetahuan saja belum tentu cukup ketika seseorang berhadapan langsung dengan korban dalam kondisi darurat. Melalui simulasi, peserta mendapatkan kesempatan untuk memahami tahapan pertolongan sekaligus membangun kepercayaan diri dalam merespons situasi kegawatdaruratan.
Aspek pencegahan juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Peserta mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara gratis sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran terhadap kondisi fisik sebelum melakukan aktivitas olahraga. Pemeriksaan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga keselamatan saat berolahraga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi keadaan darurat, tetapi juga mengenali kondisi tubuh sebelum melakukan aktivitas fisik yang berat.
Kegiatan tersebut mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat saat berolahraga, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pelatihan keterampilan penyelamatan jiwa yang aplikatif, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara institusi pendidikan kedokteran, rumah sakit, tenaga medis, dan komunitas olahraga. (Kontributor: Nashiruddin, Irham Hanafi, Gilar, Hendro).


