FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada melalui Divisi Alergi Imunologi menyelenggarakan kegiatan gathering dan edukasi bagi penyandang lupus dalam rangka memperingati World Lupus Day 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (10/5/2026) di Hotel Grand Tjokro Yogyakarta ini dihadiri sekitar 70–80 peserta yang terdiri atas pasien lupus anak dan dewasa beserta keluarga pendamping. Acara ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai lupus sekaligus memperkuat dukungan sosial bagi para penyandang penyakit autoimun kronis tersebut.
Peringatan World Lupus Day untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lupus, yaitu penyakit autoimun yang dapat menyerang berbagai organ tubuh dan memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Selain memberikan edukasi kesehatan, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mempertemukan para penyandang lupus dari berbagai latar belakang agar dapat saling berbagi pengalaman, memberikan dukungan emosional, serta membangun jejaring yang saling menguatkan.
Para peserta berkesempatan mengikuti sesi diskusi yang membahas berbagai tantangan yang mereka hadapi selama menjalani pengobatan maupun aktivitas sehari-hari. Dalam sesi tersebut, banyak peserta menyampaikan pengalaman mereka dalam menghadapi perjalanan panjang pengobatan lupus, termasuk pentingnya menjaga kepatuhan terapi dan mengelola kondisi fisik maupun psikologis yang sering kali berubah seiring perjalanan penyakit.
Tidak sedikit peserta yang mengungkapkan bahwa dukungan keluarga, tenaga kesehatan, dan komunitas sesama penyandang lupus menjadi faktor yang sangat membantu dalam menjaga semangat hidup serta meningkatkan kualitas hidup mereka. Melalui kegiatan seperti ini, para pasien merasa tidak sendiri dalam menghadapi penyakit yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang.
Pada kesempatan tersebut, dr. Sumadiono, Sp.A(K), dr. Cahya Dewi Satria, M.Kes., Sp.A(K), dan dr. Dedi, Sp.P turut memberikan edukasi dari berbagai perspektif medis. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman dasar mengenai lupus, gejala yang perlu diwaspadai, pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, hingga strategi menjaga kualitas hidup melalui pengobatan yang tepat dan dukungan psikososial yang berkelanjutan.
Para narasumber juga menekankan bahwa lupus merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan komprehensif dan kolaborasi multidisiplin. Oleh karena itu, literasi kesehatan yang baik menjadi salah satu kunci penting untuk mendukung deteksi dini, mempercepat penanganan, serta mengurangi berbagai stigma yang masih melekat terhadap penyandang lupus di masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara tenaga kesehatan dan komunitas pasien. Pendekatan yang humanis dan berbasis dukungan komunitas diharapkan dapat membantu meningkatkan keberhasilan terapi sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang penyakit kronis.
Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan edukasi kesehatan, penguatan dukungan bagi pasien penyakit kronis, serta upaya meningkatkan kualitas hidup penyandang lupus melalui akses informasi dan pelayanan kesehatan yang lebih baik. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong akses yang lebih setara terhadap informasi kesehatan, memperkuat pemberdayaan kelompok pasien yang memerlukan perhatian khusus, serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan bebas stigma bagi penyandang lupus. (Kontributor: Muhammad Nasiruddin Afif).




