FK-KMK UGM Terima Kunjungan Fu-Chih Lai dari Taipei Medical University terkait AI

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan dari Associate Professor Program in Nursing, Taipei Medical University (TMU), Fu-Chih Lai. Pertemuan dilaksanakan pada Selasa (14/7/2026), di Executive Room Lantai 2, Gedung Pusat FK-KMK UGM.

Dekanat FK-KMK UGM yang menyambut antara lain Dekan, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D, FRSPH; Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D.; dan Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan, Prof. Dr. dr. Lina Choridah, Sp.Rad(K). Hadir pula tim pengajar Departemen Keperawatan dan tim LERES FK-KMK UGM.

Dalam pertemuan tersebut, tim FK-KMK UGM dan Fu-Chih Lai mendiskusikan tentang peran AI di institusi pendidikan tinggi dan masa depan Artificial Intelligence (AI) pada 5-10 tahun mendatang. Prof. Yodi mengatakan, AI akan menjadi bagian strategis yang sangat krusial bagi tim kepemimpinan universitas selanjutnya untuk lima tahun ke depan. Universitas juga berencana menerapkan AI untuk sektor pendidikan, penelitian, dan layanan kesehatan.

Meskipun saat ini banyak eksperimen AI yang dilakukan di universitas, inisiatif tersebut masih belum terkonsolidasi dengan baik. Faktor penyebabnya antara lain inefisiensi, duplikasi pekerjaan, dan keterbatasan sumber daya pengembangan AI di universitas.

Menanggapi Prof. Yodi, Fu-Chih Lai menceritakan pengalaman awal TMU dalam mengadopsi AI, yang dimulai dengan mengikuti berbagai kursus daring secara gratis. TMU kemudian bekerja sama erat dengan pihak rumah sakit yang menyediakan dukungan data untuk Natural Language Processing (NLP) dan Large Language Models (LLM).

Dalam hal sistem pertukaran data medis, TMU menggunakan standar FHIR (Fast Healthcare Interoperability Resources), yakni standar global—termasuk di Taiwan, Belanda, dan Selandia Baru—yang memungkinkan sistem lokal terhubung secara langsung dengan basis data global, seperti bank data kesehatan di Amerika. Ia turut menekankan perlunya mengubah strategi pengajaran bagi staf fakultas agar pemanfaatan AI tidak hanya terbatas pada pekerjaan administratif.

Selain itu, Fu-Chih Lai membahas rencana pengembangan metode OSTE (Objective Structured Teaching Examination) untuk melatih para dokter dan staf pengajar mengenai cara menggunakan AI secara tepat sekaligus mencegah potensi bahayanya. Ia juga mengungkapkan adanya inisiatif pengembangan Digital Twins yang di masa depan akan menggabungkan masukan klinis, genetik, dan faktor lingkungan.

Pertemuan antara FK-KMK UGM dan Fu-Chih Lai dari TMU ini secara kuat mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Dukungan ini terlihat jelas dari fokus diskusi mengenai integrasi AI dalam sistem pendidikan kesehatan serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan keamanan layanan kesehatan masyarakat. Selain itu, inisiatif ini juga mencerminkan pencapaian SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui inovasi teknologi pertukaran data medis berbasis standar global (FHIR) dan kolaborasi lintas negara antar institusi pendidikan tinggi. (Penulis: Citra/Humas)