FK-KMK UGM. Pusat Kajian Kesehatan Anak – Pediatric Research Office, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Pelatihan Penelitian Surveilans Air Limbah Tahun 2026 di Kota Bandung sebagai upaya memperkuat sistem deteksi dini penyakit berbasis lingkungan. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari, dengan sesi lapangan pada Kamis, 5 Februari 2026, di sejumlah titik strategis di Bandung dengan menghadirkan akademisi, peneliti, laboratorium kesehatan daerah, serta mitra pengelola air limbah untuk meningkatkan kapasitas teknis dan koordinasi lintas sektor dalam implementasi metode wastewater surveillance.
Program ini bertujuan mengembangkan metode surveilans air limbah untuk mendeteksi patogen penyakit infeksi seperti polio dan tifoid, memantau resistensi antimikroba, serta mengidentifikasi zat kimia tertentu sebagai bagian dari sistem peringatan dini potensi wabah di masyarakat. Prinsip pendekatan ini adalah mendeteksi fragmen materi genetik virus atau bakteri berupa RNA maupun DNA dari ekskresi biologis yang masuk ke sistem air limbah, sehingga mampu merepresentasikan dinamika penularan penyakit pada tingkat populasi secara kolektif. Metode ini dinilai relatif terjangkau dan efektif, khususnya bagi negara berpendapatan rendah dan menengah dalam mengukur beban penyakit komunitas.
Di Indonesia, surveilans air limbah telah dimulai sejak 2004 untuk deteksi virus polio dan mengalami perkembangan signifikan saat pandemi COVID-19. Tim PKKA-PRO FK-KMK UGM sebelumnya berhasil mengidentifikasi SARS-CoV-2 dalam sampel air limbah periode Mei 2021 hingga Juni 2022, bahkan memberikan sinyal lebih awal dibandingkan lonjakan kasus klinis. Penelitian berlanjut dengan deteksi Salmonella Typhi sejak Oktober 2022 di Yogyakarta, serta diseminasi hasil kepada pemangku kebijakan daerah dan nasional, termasuk kontribusi dalam penyusunan pedoman kesiapsiagaan pandemi bersama WHO. Saat ini, tim mengembangkan riset lanjutan mengenai deteksi patogen berpotensi pandemi di air limbah perkotaan sebagai sistem peringatan dini terhadap adaptasi dan transmisi pada manusia.
Hari pertama pelatihan dibuka oleh Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes., PhD, Sp.A, Subsp.Kardio, bersama perwakilan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Perumda Tirtawening Kota Bandung. Materi mencakup konsep surveilans air limbah, prinsip pencatatan laboratorium yang baik, persiapan media UPE untuk Moore swab, manajemen sampling, pengiriman spesimen, serta aspek administrasi. Diskusi interaktif menunjukkan antusiasme peserta, disertai kesepakatan teknis seperti pembuatan media UPE maksimal dua hari sebelum pengambilan sampel dan pencatatan suhu laboratorium terkalibrasi.
Hari kedua diisi dengan praktik lapangan di Stasiun Pompa Gumuruh, Stasiun Pompa Cijawura, dan Open Channel Bojongsoang. Peserta melakukan simulasi pemasangan Moore swab, grab sampling, pengukuran parameter fisik air, serta penginputan data melalui KoboCollect. Penyesuaian metode dilakukan sesuai karakteristik lokasi, termasuk penggunaan pemberat pada arus deras dan koordinasi keamanan alat dengan pengelola instalasi pengolahan air limbah.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui deteksi dini penyakit dan penguatan sistem kesehatan masyarakat berbasis data lingkungan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas tercermin dari peningkatan kapasitas laboratorium dan transfer pengetahuan teknis kepada berbagai pemangku kepentingan, SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau melalui penguatan infrastruktur laboratorium dan instalasi pengolahan air limbah yang mendorong pemanfaatan energi secara efisien dan berkelanjutan dalam operasional sistem surveilans.
Selain itu juga selaras dengan SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi seperti nanopore sequencing serta penguatan sistem logistik dan infrastruktur laboratorium, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin dalam kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan badan usaha milik daerah air minum dalam membangun sistem surveilans yang terintegrasi dan berkelanjutan. (Kontributor: Shella Syafira Wijayanti, Dhimas Sholikhul Huda).



