FK-KMK UGM. Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan Seminar Raboan dengan tajuk “Healthy Aging In A Changing” pada Rabu (15/4). Seminar Raboan kali ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Annual Scientific Meeting FK-KMK UGM. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring menggunakan platform Zoom dan Youtube. Selain itu, kegiatan ini turut dihadiri oleh puluhan peserta dari civitas akademika FK-KMK UGM.
Seminar Raboan ini menghadirkan dua pembicara ternama. Pertama, Erlin Erlina, M.A., P.hD selaku pakar antropologi kesehatan sekaligus dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial. Kedua, Dr. dr. Probosuseno, Sp.PD., K-Ger., FINASIM., SE., MM., AIFO-K selaku dokter spesialis penyakit dalam RSA UGM. Serta, dimoderatori oleh Dr. Annisa Utami Rauf Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial.
Acara dimulai dengan sambutan dari Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., selaku ketua Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial. Prof. Yayi menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Annual Scientific Meeting sebagai bagian dari Dies Natalis FK-KMK UGM. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada publik terkait kondisi iklim yang akhir-akhir ini penuh ketidakpastian dan dapat berpengaruh terhadap kesehatan sosial, khususnya kelompok usia lanjut.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, kami harap kegiatan ini bisa memberikan manfaat yang berkelanjutan untuk dapat disebarkan secara luaskan guna meningkatkan kesehatan di masyarakat,” kata Prof. Yayi.
Kemudian, acara berlanjut dengan pemaparan materi dari Erlin Erlina, M.A., P.hD dengan judul “Healthy Aging dan Resiliensi Iklim: Tinjauan Pada Masyarakat Urban dan Pesisir”. Erlin menegaskan bahwa kondisi kesehatan dan perilaku lansia secara umum memiliki pengaruh yang kuat pada konteks sosial-ekologis. Erlin menunjukkan data bahwa pertumbuhan lansia secara global pada tahun 2021 tercatat mencapai 3 kali lipat. Selain itu, data ini juga dikomparasikan dengan angka pertumbuhan populasi lansia di Indonesia yang tercatat sebanyak 10%. Bertambahnya data populasi ini tidak didukung juga dengan kebijakan proteksi kesehatan yang tepat di beberapa daerah. Hubungan data ini dengan perubahan iklim menunjukan bahwa, kelompok populasi lansia merupakan golongan sosial yang rentan langsung terdampak karena merujuk pada aktivitas keseharian.
“Sebenarnya perubahan iklim yang berdampak pada lansia tidak secara langsung, tetapi ada katalisator yang terjadi secara sistematis, terkhususnya di natural environment, economic environment, dan political environment. Dengan katalisator ini, penyebab utamanya sebenarnya tidak terjadi secara tunggal melainkan terstruktur,” kata Erlin.
Erlin juga memberikan contoh spesifik pada kehidupan lansia pada masyarakat urban dan pesisir. Data ini menunjukkan bahwa perilaku sosial lansia selalu terikat pada tempat tinggal, faktor lingkungan, akses ekonomi, dan ikatan sosial yang menentukan tingkat keparahan dari dampak Healthy Aging. Erlin menegaskan bahwa kerentanan ini membuat lansia berada pada ancaman ganda, baik secara sosial maupun lingkungan. Dalam hal ini dibutuhkan kebijakan sosial yang efektif di bidang kesehatan yang perlu melibatkan banyak pihak, baik tenaga kesehatan maupun masyarakat umum, untuk selalu memberikan perhatian khusus pada kesehatan lansia akibat perubahan iklim.
“Keberadaan lingkungan dan sosial cenderung mengancam kehidupan lansia, khususnya pada risiko penyakit eksis dan gangguan sistem perlindungan sosial,” kata Erlin.
Berikutnya, pemaparan materi kedua disampaikan oleh Dr. dr. Probosuseno, Sp.PD., K-Ger., FINASIM., SE., MM., AIFO-K dengan materi “Climate Adaptation Strategies for Older Populations: Clinical Evidence-Based Approach”. dr. Probo pentingnya pemahaman terkait dengan manajemen kesehatan lansia dan pemberian obat. Selain itu, dr. Probo menekankan bahwa kondisi kesehatan lansia cenderung terjadi karena kondisi ketidaktahuan. dr. Probo menjelaskan bahwa kondisi kesehatan lansia bisa terjadi karena risiko bawaan, defisiensi, pikiran, autoimun, metabolik, infeksi, kurang istirahat, dan trauma.
“Lansia memiliki sebanyak 14 gangguan kesehatan, di antaranya: immobility (tidak bisa mobilitas), instability (gampang jatuh), incontinence (tidak bisa menahan diri), intellectual impairment (pelupa atau demensia), infection (rentan infeksi), impaction (rentan sembelit), inanition (salah gizi), iatrogenesis (efek samping obat), insomnia (susah tidur), immune deficiency (daya tahan tubuh rendah), impecunity (kemiskinan), isolation (kesepian), impairment, dan impotence,” kata dr. Probo.
dr. Probo menegaskan pentingnya identifikasi risiko yang cepat pada kesehatan lansia seperti skrining usia, immobilisasi, penyakit, riwayat dehidrasi, dan obat berisiko. Setelah identifikasi ini, dibutuhkan triage klinis untuk menentukan kondisi kesehatan lansia yang terbagi antara Heat Exhaustion dan Heat Stroke (Emergency). Dari hasil ini jika dapat diketahui secara cepat maka, dapat memudahkan tata laksana penangananya.
“Lansia sebagai kelompok sosial yang rentan gangguan kesehatan sehingga, dibutuhkan dicharge plan sebagai pencegahan berupa edukasi minum secara terjadwal, hindari lansia dari aktivitas jam 10.00-16.00, perhatikan ventilasi rumah dan kondisi kipas, edukasi caregiver, dan heat alert plan,” kata dr. Probo.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera menekankan pentingnya perhatian dan edukasi kesehatan bagi lansia akibat perubahan iklim; SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menekankan pentingnya peran institusi pendidikan dalam merespon persoalan yang ada di masyarakat; serta, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim dengan menekankan pentingnya adaptasi kesehatan dan tindakan pencegahan resiko gangguan kesehatan secara sistematis (Reporter/Tedy).




