FK-KMK UGM. Unit Pengabdian, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan sosialisasi sesi kedua terkait Penerimaan Hibah Dana Masyarakat (Damas) Pengabdian Masyarakat Tahun Anggaran 2026 sebagai upaya memperkuat kesiapan dosen dalam menyusun dan mengajukan program pengabdian yang berkualitas. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa, 27 Januari 2026 ini diikuti oleh 29 dosen dan tenaga akademik yang ingin memperdalam pemahaman mengenai aspek teknis pengusulan hibah.
Sosialisasi ini merupakan bagian dari rangkaian pendampingan yang diselenggarakan FK-KMK UGM untuk memastikan para pengusul memahami seluruh tahapan administrasi, mekanisme seleksi, serta penyusunan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan ini, fakultas berupaya meningkatkan kualitas proposal pengabdian yang tidak hanya memenuhi persyaratan administratif, tetapi juga mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Tony Arjuna, S.Gz., M.Nut.Diet., AN., APD., Ph.D. hadir sebagai narasumber utama dengan Ema Madyaningrum, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D. sebagai moderator. Berbeda dari sesi sebelumnya yang lebih banyak membahas gambaran umum program hibah, pertemuan kali ini berfokus pada aspek teknis, khususnya proses pengunggahan proposal melalui sistem daring yang tersedia pada laman hibah Universitas Gadjah Mada.
Dalam pemaparannya, Tony menekankan pentingnya ketelitian dalam proses administrasi digital. Menurutnya, kesalahan teknis pada tahap pengunggahan dokumen sering kali menjadi hambatan yang dapat memengaruhi proses seleksi. Oleh karena itu, peserta diimbau untuk memahami seluruh prosedur pengajuan, mulai dari penyusunan dokumen hingga tahapan finalisasi proposal sebelum batas waktu pengumpulan.
Selain itu, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai empat skema pengabdian yang tersedia pada Hibah Damas 2026, yaitu skema Reguler, Terintegrasi, Human Sociopreneur, dan Klaster. Setiap skema memiliki karakteristik, tujuan, serta luaran yang berbeda sehingga pemilihan kategori yang tepat menjadi faktor penting dalam penyusunan proposal. Pemahaman terhadap skema ini diharapkan dapat membantu dosen merancang program yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus selaras dengan target capaian fakultas.
Program Hibah Damas sendiri menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui pendanaan ini, dosen didorong untuk mengembangkan berbagai solusi yang mampu menjawab tantangan kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahteramelalui pengembangan program pengabdian berbasis bukti yang berfokus pada peningkatan kesehatan masyarakat, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan memperkuat kapasitas dosen dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi program pemberdayaan yang bermanfaat bagi masyarakat, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan karena mendorong terbentuknya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program pengabdian yang berkelanjutan dan berdampak luas. (Kontributor: Dea Wahyu Lestyarini).




