FK-KMK UGM Libatkan Staf dan Residen Dermatologi dalam Penguatan Program Kusta dan Frambusia di Kulon Progo

FK-KMK UGM. Departemen Dermatologi dan Venereologi, FK-KMK UGM berpartisipasi dalam kegiatan Penguatan Program Penyakit Kusta dan Frambusia yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 16 April 2026 di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo ini menghadirkan staf dan residen Departemen Dermatologi dan Venereologi FK-KMK UGM untuk mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam pengendalian, deteksi dini, dan tata laksana penyakit kusta serta frambusia di tingkat layanan primer.

Tim narasumber dari FK-KMK UGM terdiri atas dr. Adissa Tiara Yulinvia, M.Sc., Sp.D.V.E., dr. Rizky Rahma Wijayanti, dr. Feby Cicilia Tandipau, dan dr. Yosua Herdyanto. Kehadiran akademisi dan peserta didik dalam kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah dalam mendukung pencapaian target eliminasi penyakit menular di masyarakat.

Dalam sesi pemaparan, para narasumber menyampaikan berbagai materi terkait epidemiologi, diagnosis, tata laksana, serta strategi eliminasi penyakit kusta dan frambusia. Pembahasan tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga menyoroti pendekatan promotif dan preventif yang dapat diterapkan di layanan kesehatan primer.

Materi yang disampaikan menekankan pentingnya deteksi dini melalui identifikasi tanda dan gejala klinis secara tepat agar kasus dapat segera ditangani sebelum menimbulkan komplikasi maupun penularan lebih lanjut. Pendekatan berbasis komunitas juga diperkenalkan sebagai strategi untuk memperluas jangkauan skrining dan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam upaya pengendalian penyakit.

Selain itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan ini. Tenaga kesehatan diharapkan mampu melakukan skrining, pelaporan kasus, serta penatalaksanaan yang sesuai standar sehingga pelayanan dapat berlangsung secara berkesinambungan.

Para narasumber juga mengangkat berbagai tantangan yang masih ditemui di lapangan. Stigma terhadap penyandang kusta masih menjadi hambatan dalam proses deteksi dan pengobatan, karena sebagian masyarakat masih memiliki persepsi negatif terhadap penyakit tersebut. Di sisi lain, keterbatasan akses layanan kesehatan di beberapa wilayah juga menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program eliminasi.

Oleh karena itu, pengendalian penyakit kusta dan frambusia dinilai memerlukan pendekatan lintas sektor yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, serta dukungan aktif dari masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci untuk memastikan program berjalan secara efektif dan berkelanjutan.

Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya penguatan pengendalian penyakit menular, peningkatan deteksi dini, serta pelayanan kesehatan yang berkesinambungan bagi masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam mendukung eliminasi penyakit kusta dan frambusia secara terintegrasi dan berkelanjutan. (Kontributor: Nur Aida Oktasari, Widya Khairunnisa Sarkowi, Wega Wisesa Setiabudi).