FK-KMK UGM Dukung Upaya Pengendalian Tembakau Melalui Partisipasi pada ICTOH 2026

FK-KMK UGM. Center of Health Behavior and Promotion (CHBP) FK-KMK UGM berpartisipasi dalam sesi Welcome Remarks pada 11th Indonesian Conference on Tobacco Control (ICTOH) 2026 yang mengangkat tema “Ungkap Adiksi Tembakau dan Nikotin untuk Indonesia Sehat”. Kegiatan yang berlangsung di ASEEC Tower Universitas Airlangga, Surabaya, pada 21 Mei 2026 ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari sektor kesehatan, akademisi, organisasi profesi, lembaga internasional, serta pemerintah untuk membahas tantangan dan strategi pengendalian tembakau di Indonesia.

Konferensi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Research, Innovation, and Community Development Universitas Airlangga, Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH, Ph.D. Dalam sesi pembukaan, sejumlah narasumber dari berbagai institusi memaparkan kondisi terkini pengendalian tembakau di Indonesia. Mereka berasal dari World Health Organization (WHO) Country Office, Tobacco Control Asia Pacific, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), hingga Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Direktur Tobacco Control Asia Pacific Vital Strategies Singapore Office, Dr. Tara Singh Bam, menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi beban besar akibat konsumsi tembakau. Ia mengungkapkan bahwa biaya ekonomi yang ditimbulkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, mencapai sekitar Rp288 triliun atau setara dengan 1,5 persen Produk Domestik Bruto nasional. Selain itu, Indonesia masih memiliki sekitar 76 juta perokok aktif dengan prevalensi merokok pada kelompok usia 15 tahun ke atas mencapai 36,1 persen, termasuk prevalensi perokok muda usia 10–14 tahun sebesar 7,4 persen.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Dr. Tara Kessaram selaku Deputy Head of WHO Country Office. Menurutnya, tanpa kebijakan pengendalian tembakau yang lebih komprehensif dan konsisten, Indonesia akan terus menghadapi peningkatan beban penyakit yang berhubungan dengan konsumsi tembakau, sehingga berpotensi menghambat pencapaian target pembangunan kesehatan nasional maupun global.

Dalam forum tersebut, isu rokok elektronik atau vape turut menjadi perhatian. Ketua Umum Pengurus Pusat IAKMI, Dede Supratman, SKM., MKM., menegaskan bahwa rokok elektronik tidak dapat dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Menurutnya, produk tersebut tetap mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat merusak organ tubuh, mengganggu perkembangan otak pada remaja, serta memicu ketergantungan nikotin yang berdampak jangka panjang terhadap kesehatan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD-KPTI., FINASIM., MARS., memaparkan sejumlah data yang menunjukkan besarnya dampak konsumsi tembakau terhadap kesehatan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pengeluaran rumah tangga untuk rokok masih menempati posisi tertinggi dibandingkan kebutuhan penting lainnya, termasuk pangan bergizi. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Indonesia masih menghadapi tantangan prevalensi stunting yang cukup tinggi. Selain itu, berbagai penyakit tidak menular seperti kanker paru, penyakit kardiovaskular, dan penyakit paru obstruktif kronis memiliki keterkaitan erat dengan kebiasaan merokok.

Pada sesi penutup, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Benjamin Pujya, menekankan bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan ganda berupa penyakit menular yang belum sepenuhnya terkendali serta peningkatan penyakit tidak menular. Konsumsi tembakau disebut sebagai salah satu faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian di Indonesia. Oleh karena itu, investasi dalam bidang kesehatan masyarakat, termasuk penguatan kebijakan pengendalian tembakau, dinilai menjadi langkah strategis untuk mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan upaya pencegahan penyakit tidak menular dan pengurangan faktor risiko kesehatan akibat konsumsi tembakau. Selain itu, kegiatan ini berkontribusi terhadap SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui diseminasi pengetahuan dan peningkatan literasi kesehatan berbasis bukti ilmiah bagi tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat. Kolaborasi yang melibatkan perguruan tinggi, organisasi profesi, pemerintah, dan lembaga internasional juga mencerminkan implementasi SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam memperkuat kerja sama lintas sektor guna mendukung pembangunan kesehatan yang berkelanjutan di Indonesia. (Kontributor: Hafizha Ulya Nafi’u dan Nia Lestari Muqarohmah).