FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada turut berpartisipasi dalam kegiatan penanganan dan respons gizi dalam bencana yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi situasi darurat. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada 15–16 Maret 2026 tersebut dilaksanakan di Aula C Dinas Kesehatan DIY, Jalan Gondosuli No. 6, Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mengantisipasi berbagai dampak yang dapat muncul pada kelompok rentan ketika terjadi bencana, termasuk risiko kekurangan gizi, terganggunya akses pangan, hingga meningkatnya kerentanan kesehatan masyarakat. Dalam kondisi darurat, aspek gizi menjadi salah satu komponen yang harus ditangani secara cepat dan tepat karena berpengaruh langsung terhadap kondisi kesehatan penyintas, terutama bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta kelompok lanjut usia.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai institusi, mulai dari dinas kesehatan kabupaten/kota, perguruan tinggi, lembaga kemanusiaan, badan amil zakat, hingga instansi pemerintah lainnya yang memiliki peran dalam penanggulangan bencana. Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM turut mengirimkan perwakilan sebagai bagian dari kontribusi akademisi dalam mendukung penguatan sistem penanganan gizi darurat di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh berbagai materi terkait kebijakan terbaru penanganan gizi dalam bencana, mekanisme koordinasi lintas sektor, serta strategi respons yang efektif dalam situasi kedaruratan. Selain itu, salah satu agenda utama yang dibahas adalah pembentukan tim Sub Klaster Gizi DIY yang akan menjadi wadah koordinasi resmi bagi berbagai institusi dalam pelaksanaan penanganan gizi saat terjadi bencana.
Pembentukan sub klaster tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh pihak dapat bergerak secara terkoordinasi dan memiliki pembagian peran yang jelas ketika kondisi darurat terjadi. Dengan adanya sistem koordinasi yang terstruktur, distribusi bantuan pangan, pemantauan status gizi penyintas, hingga penyelenggaraan layanan gizi dapat dilakukan secara lebih efektif dan tepat sasaran.
Kegiatan juga diisi dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan seluruh peserta dalam kelompok-kelompok kerja. Dalam diskusi tersebut, masing-masing institusi menyampaikan potensi kontribusi, tantangan yang dihadapi, serta usulan langkah strategis untuk memperkuat kesiapsiagaan gizi di tingkat daerah. Hasil diskusi kemudian dirumuskan menjadi rencana tindak lanjut yang akan menjadi dasar kerja Sub Klaster Gizi DIY ke depan.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 2 Tanpa Kelaparan, melalui upaya menjaga ketahanan pangan dan mencegah terjadinya masalah gizi pada masyarakat terdampak bencana. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kapasitas dan pengetahuan para tenaga kesehatan, akademisi, serta pemangku kepentingan terkait penanganan gizi darurat. Kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga kemanusiaan, dan berbagai organisasi juga mencerminkan implementasi SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Kontributor: Yurisadensi Eka).




