FK-KMK UGM. Program Studi Spesialis & Subspesialis Obstetri dan Ginekologi FK-KMK UGM berpartisipasi dalam penyelenggaraan workshop “Kompetensi SpOG Sebagai Penyelenggara Program Studi Spesialis & Subspesialis Obstetri dan Ginekologi” yang dilaksanakan dalam rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI). Kegiatan yang berlangsung di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, pada 12 Mei 2026.
Kegiatan dipandu oleh Dr. dr. H. Nasrudin Andi Mappaware, Sp.OG, Subsp. Obginsos, MARS, M.Kes., FISQua., AIFO-K sebagai moderator. Sementara itu, materi utama disampaikan oleh Dr. dr. I Putu Gede Kayika, Sp.OG, Subsp. Obginsos, Dr. dr. Shinta Prawitasari, M.Kes., Sp.OG, Subsp. Obginsos, serta Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG, Subsp. Obginsos, MPH. Diskusi semakin kaya dengan masukan dari sejumlah penanggap yang berasal dari berbagai institusi pendidikan dan pelayanan kesehatan di Indonesia.
Dalam sesi pembelajaran, peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai berbagai aspek yang harus dipersiapkan dalam pembukaan maupun penyelenggaraan program studi spesialis dan subspesialis obstetri dan ginekologi. Materi yang dibahas mencakup analisis kebutuhan dan kelayakan program studi, pemenuhan regulasi dan aspek legal, kesiapan tenaga pendidik, penyediaan sarana-prasarana pendidikan, hingga pengembangan kurikulum yang sesuai dengan standar nasional pendidikan dokter spesialis.
Pembahasan juga menyoroti pentingnya tata kelola institusi pendidikan yang efektif dan adaptif terhadap perkembangan kebutuhan pelayanan kesehatan. Para peserta diajak memahami strategi pengelolaan peserta didik berbasis kompetensi, integrasi pendidikan dengan pelayanan di rumah sakit pendidikan, serta penguatan sistem manajemen staf pengajar. Selain itu, aspek mitigasi risiko selama proses pendidikan turut menjadi perhatian sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif.
Salah satu topik yang mendapat perhatian khusus adalah strategi menjaga mutu pendidikan spesialis dan subspesialis secara berkelanjutan. Narasumber menjelaskan pentingnya penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), mekanisme evaluasi kompetensi peserta didik, pengelolaan umpan balik dari berbagai pemangku kepentingan, hingga persiapan akreditasi program studi. Melalui pendekatan tersebut, institusi pendidikan diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks.
Peserta juga mengikuti simulasi penyusunan dokumen pembukaan program studi serta telaah instrumen akreditasi sesuai regulasi yang berlaku. Kegiatan ini memberikan pengalaman praktis yang dapat diterapkan langsung dalam pengelolaan program studi di institusi masing-masing. Diskusi interaktif yang berlangsung sepanjang workshop menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus sarana untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis di Indonesia.
Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya menghasilkan dokter spesialis dan subspesialis yang kompeten. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan tata kelola dan mutu pendidikan kedokteran spesialis yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara organisasi profesi, institusi pendidikan, rumah sakit pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan di Indonesia. (Kontributor: dr. Eksy Andhika Wulandari).




