FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) FK-KMK UGM bekerja sama dengan Program Studi Magister Bioetika UGM menyelenggarakan forum diskusi Research and Perspective Sharing (RABOAN) bertajuk “Teknologi Kedokteran: Etika dan Tantangan”. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 28 Januari 2026 ini menjadi ruang refleksi akademik untuk membahas berbagai persoalan etik yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi dalam dunia kesehatan, mulai dari kecerdasan buatan, sistem informasi kesehatan, telemedisin, hingga pembedahan berbasis teknologi mutakhir.
Diskusi menghadirkan Dr. dr. Carolina Kuntardjo, Sp.B., FINACS, S.H., M.H., seorang dokter spesialis bedah yang juga memiliki kompetensi di bidang hukum kesehatan. Acara dipandu oleh NS Wahyu Dewi Sulistyarini, M.S.N. dan diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, termasuk tenaga kesehatan, akademisi, mahasiswa, serta pemerhati bioetika.
Dalam pemaparannya, Dr. Carolina menjelaskan bahwa perkembangan teknologi kedokteran telah membuka peluang besar dalam meningkatkan akses, efisiensi, dan kualitas pelayanan kesehatan. Berbagai inovasi memungkinkan diagnosis yang lebih cepat, pengelolaan data kesehatan yang lebih baik, serta perluasan layanan kesehatan ke wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun demikian, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan baru yang memerlukan perhatian serius dari aspek etik, hukum, dan profesionalisme.
Menurutnya, penggunaan teknologi dalam praktik kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral tenaga kesehatan. Kemampuan mengoperasikan teknologi harus berjalan seiring dengan kemampuan mempertimbangkan dampaknya terhadap keselamatan, hak, dan martabat pasien. Oleh karena itu, pendidikan etik perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan tenaga kesehatan sejak tahap awal.
Salah satu isu yang mendapat perhatian khusus dalam diskusi adalah pentingnya pembinaan etika bagi generasi tenaga kesehatan yang tumbuh di era digital. Dr. Carolina menilai bahwa banyak tenaga kesehatan muda memiliki kemampuan adaptasi teknologi yang sangat baik, namun sering kali belum memperoleh bekal yang memadai dalam memahami konsekuensi etik dari penggunaan teknologi tersebut. Dalam konteks ini, tenaga kesehatan senior memiliki peran penting sebagai teladan sekaligus mentor dalam menanamkan nilai profesionalisme dan tanggung jawab etik.
Pembahasan mengenai telemedisin dan telekesehatan turut menjadi perhatian peserta. Meskipun layanan kesehatan jarak jauh terbukti membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, khususnya di wilayah terpencil, layanan tersebut tetap memiliki keterbatasan. Pemeriksaan fisik yang tidak dapat dilakukan secara langsung menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi agar kualitas pelayanan tetap terjaga dan keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pemanfaatan teknologi kesehatan yang aman, berkualitas, dan berorientasi pada keselamatan pasien. SDG 4 Pendidikan Berkualitas karena memberikan ruang pembelajaran kritis mengenai bioetika. SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dalam mendorong kemajuan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara CBMH FK-KMK UGM, Program Studi Magister Bioetika, serta berbagai pemangku kepentingan, kegiatan ini turut mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam membangun ekosistem kesehatan yang inovatif, beretika, dan berorientasi pada kepentingan publik. (Kontributor: Rafi).




