FK-KMK UGM Dorong Pendekatan DIR Floortime dalam Tatalaksana Anak Cerebral Palsy

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melalui Divisi Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial bekerja sama dengan Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) menyelenggarakan Workshop Peningkatan Kapasitas Orang Tua dan Tenaga Kesehatan dalam Tatalaksana Anak dengan Cerebral Palsy dengan pendekatan DIR/Floortime. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam penanganan anak dengan cerebral palsy yang membutuhkan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan. Workshop ini berlangsung pada 2 April 2026 di Ruang Tahir Lantai 2 Sayap Utara FK-KMK UGM dan diikuti oleh orang tua, pengasuh, serta tenaga kesehatan dari berbagai latar belakang profesi.

Cerebral palsy merupakan salah satu penyebab utama disabilitas pada anak yang memberikan dampak luas tidak hanya pada kemampuan motorik, tetapi juga pada aspek kognitif, komunikasi, perilaku, hingga kondisi medis lain seperti epilepsi dan gangguan muskuloskeletal. Kompleksitas tersebut menuntut adanya pendekatan multidisiplin yang melibatkan sinergi antara tenaga kesehatan dan keluarga sebagai bagian penting dari proses intervensi.

Melalui kegiatan ini, peserta diperkenalkan dengan pendekatan DIR/Floortime (Developmental, Individual-differences, Relationship-based), yang menekankan pentingnya interaksi emosional, hubungan interpersonal, serta aktivitas bermain terstruktur dalam mendukung tumbuh kembang anak. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga pada kualitas hubungan antara anak dan lingkungan terdekatnya.

Workshop dibagi menjadi dua sesi utama, yaitu sesi khusus bagi orang tua dan pengasuh serta sesi bagi tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter spesialis, residen, terapis rehabilitasi, dan psikolog. Materi disampaikan oleh Eva K. Ma yang memberikan pemahaman konseptual sekaligus pelatihan praktis mengenai implementasi DIR/Floortime baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah maupun dalam praktik klinis.

Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme tinggi, terutama dalam sesi praktik yang memberikan kesempatan untuk memahami langsung teknik interaksi yang efektif dengan anak cerebral palsy. Diskusi interaktif juga menjadi ruang berbagi pengalaman antara orang tua dan tenaga kesehatan, sehingga memperkaya perspektif dalam penanganan kasus secara holistik.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara keluarga dan tenaga kesehatan dalam menciptakan intervensi yang lebih optimal. Dengan pendekatan berbasis hubungan yang kuat, diharapkan anak dengan cerebral palsy dapat mencapai perkembangan yang lebih maksimal serta kualitas hidup yang lebih baik.

Kegiatan ini turut berkontribusi SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kualitas penanganan kesehatan anak dengan disabilitas secara komprehensif. SDG 4: Pendidikan Berkualitas dari upaya peningkatan kapasitas orang tua dan tenaga kesehatan melalui edukasi berbasis praktik. SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui penguatan akses layanan dan intervensi bagi anak dengan kebutuhan khusus agar memperoleh kesempatan tumbuh kembang yang setara. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, komunitas keluarga, dan tenaga kesehatan dalam meningkatkan kualitas layanan bagi anak dengan cerebral palsy. (Kontributor: Muhammad N. Afif).