FK-KMK UGM Dorong Pemanfaatan Bukti Ilmiah Berkualitas melalui Pelatihan Risk of Bias 2

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada kembali berkontribusi dalam penguatan kapasitas akademik dan penelitian kesehatan melalui penyelenggaraan sesi tambahan Workshop CSR PERKI yang dilaksanakan secara daring pada Kamis, 14 Mei 2026, melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran lanjutan bagi peserta untuk memperdalam pemahaman sekaligus meningkatkan keterampilan praktis dalam melakukan penilaian risiko bias menggunakan instrumen Risk of Bias 2 (RoB 2), salah satu metode yang banyak digunakan dalam telaah sistematis dan penelitian berbasis bukti.

Sesi tambahan ini dirancang berdasarkan kebutuhan peserta yang sebelumnya telah mengikuti rangkaian workshop. Seluruh peserta bergabung dalam satu ruang utama untuk mengikuti pembahasan materi yang dipilih berdasarkan topik dengan tingkat minat tertinggi melalui pengisian formulir “Practical Session 4: Risk of Bias (RoB 2): Demo”. Pendekatan ini memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih fokus, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta dalam memahami aspek metodologi penelitian yang kompleks.

Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai RoB 2, yaitu instrumen yang dikembangkan oleh Cochrane untuk menilai risiko bias pada penelitian uji klinis acak atau randomized trials. Berbeda dengan metode penilaian risiko bias yang dilakukan pada tingkat studi secara keseluruhan, RoB 2 berfokus pada penilaian di tingkat hasil atau result-level assessment. Pendekatan ini memungkinkan evaluasi yang lebih spesifik terhadap setiap luaran penelitian sehingga menghasilkan penilaian yang lebih akurat mengenai kualitas bukti yang tersedia.

Peserta juga diajak memahami berbagai domain dalam penilaian risiko bias, termasuk bagaimana mengidentifikasi potensi masalah yang dapat muncul dalam desain penelitian, pelaksanaan intervensi, analisis data, hingga pelaporan hasil penelitian. Melalui penggunaan signalling questions yang terstruktur, peserta dapat melakukan proses penilaian secara sistematis dan transparan sehingga hasil evaluasi lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam praktik evidence-based medicine, kemampuan menilai risiko bias memiliki peran yang sangat penting. Bukti ilmiah yang digunakan untuk menyusun rekomendasi klinis maupun kebijakan kesehatan tidak hanya dinilai berdasarkan jumlah penelitian yang tersedia, tetapi juga berdasarkan kualitas metodologi yang digunakan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai RoB 2 menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan oleh klinisi, akademisi, peneliti, serta tenaga kesehatan yang terlibat dalam pengembangan kebijakan berbasis bukti.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya penelitian yang kritis dan berkualitas. Melalui penguasaan metode penilaian risiko bias, peserta diharapkan mampu melakukan telaah kritis terhadap artikel ilmiah secara lebih komprehensif, menyusun telaah sistematis dengan kualitas yang lebih baik, serta menghasilkan rekomendasi yang didasarkan pada bukti ilmiah yang valid dan terpercaya.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan kemampuan tenaga kesehatan dan peneliti dalam menghasilkan serta menggunakan bukti ilmiah berkualitas. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kompetensi peserta dalam bidang metodologi penelitian. SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan kapasitas riset dan inovasi kesehatan. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi dalam meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan ilmu kesehatan di Indonesia.(Kontributor: Grace Sandy Br Barus).