FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) kembali menyelenggarakan forum diskusi RABOAN dengan mengangkat isu kesehatan masyarakat yang penting namun sering kurang mendapat perhatian, yakni talasemia dan urgensi skrining dini. Kegiatan yang menghadirkan Dr. dr. Tri Ratnaningsih, M.Kes., Sp.PK, Subsp.H.K.(K), Subsp.B.D.K.T.(K) selaku Ketua Program Studi PPDS Patologi Klinik FK-KMK UGM sebagai narasumber ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat mengenai penyakit genetik serta pentingnya upaya pencegahan melalui deteksi dini.
Dalam pemaparannya, Dr. Tri Ratnaningsih menjelaskan bahwa talasemia merupakan penyakit genetik yang terjadi akibat gangguan pembentukan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kelainan ini menyebabkan produksi hemoglobin menjadi berkurang atau bahkan tidak terbentuk secara optimal, sehingga penderita dapat mengalami anemia kronis dan berbagai komplikasi kesehatan lainnya.
Diskusi juga mengulas sejarah istilah talasemia yang berasal dari bahasa Yunani serta persebaran penyakit ini di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia yang memiliki angka pembawa sifat atau carrier talasemia cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena pasangan yang sama-sama memiliki sifat carrier berisiko melahirkan anak dengan talasemia mayor, bentuk penyakit yang membutuhkan perawatan intensif sepanjang hidup.
Peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai berbagai jenis talasemia, tanda dan gejala yang muncul, serta dampak yang ditimbulkan. Talasemia tidak hanya memengaruhi kondisi fisik pasien, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental, kehidupan sosial, hingga kondisi ekonomi keluarga akibat kebutuhan pengobatan jangka panjang.
Dr. Tri juga menjelaskan berbagai pendekatan penanganan talasemia yang saat ini dilakukan, seperti transfusi darah rutin, terapi kelasi besi untuk mengurangi penumpukan zat besi akibat transfusi berulang, serta pemantauan kesehatan secara berkala. Namun demikian, upaya pencegahan tetap menjadi strategi yang paling efektif untuk menekan angka kejadian talasemia berat di masyarakat.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui peningkatan edukasi kesehatan, deteksi dini, dan penguatan upaya pencegahan penyakit genetik agar masyarakat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penyebarluasan pengetahuan ilmiah dan peningkatan literasi kesehatan masyarakat sehingga mampu mengambil keputusan kesehatan yang lebih tepat berdasarkan informasi yang valid dan berbasis bukti. (Kontributor: Ardhini).




