FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melaksanakan kegiatan pendampingan tata kelola program kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, sebagai bagian dari upaya penguatan sistem perencanaan dan pengelolaan program kesehatan daerah. Kegiatan yang berlangsung di Kota Sungai Penuh pada 30 April 2026 ini berfokus pada kesesuaian Rencana Kerja Perangkat Daerah (Renja PD) tahun 2027 dengan Permendagri Nomor 86 Tahun 2017, review Rencana Strategis Perangkat Daerah (Renstra PD) tahun 2025–2029 berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 2 Tahun 2025, serta pengenalan kerangka konsep tata kelola program kesehatan berbasis evidence-based policy.
Pendampingan ini merupakan bagian dari program yang telah berjalan sejak tahun 2019, dengan Universitas Gadjah Mada terlibat sebagai mitra pendamping sejak tahun 2020. Pada tahun 2026, UGM memperoleh kesempatan mendampingi empat lokus di berbagai provinsi di Indonesia, salah satunya Kota Sungai Penuh yang menjadi wilayah strategis dalam penguatan tata kelola kesehatan daerah.
Paparan utama dalam workshop disampaikan oleh Ketua Tim Pendamping Kota Sungai Penuh, Agus Salim, MPH. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas perencanaan daerah agar dokumen Renja PD dapat disusun secara sistematis, terarah, dan selaras dengan regulasi nasional yang berlaku. Menurutnya, proses perencanaan kesehatan harus didukung dengan data dan bukti ilmiah agar program yang dirancang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Agus Salim menjelaskan bahwa sinkronisasi antara Renja PD dan Renstra PD menjadi langkah penting untuk memastikan kesinambungan pembangunan kesehatan daerah. Selain itu, kerangka tata kelola program kesehatan yang diperkenalkan dalam workshop menitikberatkan pada keterpaduan antara perencanaan, penganggaran, implementasi, hingga evaluasi program kesehatan secara menyeluruh.
Dalam diskusi yang berlangsung, turut dibahas berbagai tantangan yang masih dihadapi daerah dalam pengelolaan program kesehatan. Beberapa di antaranya adalah belum optimalnya proses perencanaan dan penganggaran, implementasi program yang belum sepenuhnya menjangkau kelompok masyarakat rentan, serta lemahnya manajemen organisasi program kesehatan yang belum didukung secara maksimal oleh kebijakan daerah.
Pendekatan evidence-based yang diterapkan dalam pendampingan ini menempatkan outcome program sebagai indikator utama keberhasilan. Setiap program kesehatan diharapkan memiliki keterkaitan yang jelas terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan. Apabila ditemukan ketidaksesuaian antara perencanaan dan capaian program, maka dilakukan penelusuran akar masalah secara sistematis untuk mengidentifikasi faktor penyebab, baik dari sisi desain program, implementasi, maupun dukungan kebijakan.
Melalui pendekatan tersebut, hasil identifikasi dapat menjadi dasar dalam melakukan penyesuaian dan perbaikan program agar lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan. Workshop ini juga menjadi ruang kolaborasi antara tim pendamping UGM dan tim perencanaan Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh untuk membangun koordinasi yang lebih kuat dalam pengembangan sistem kesehatan daerah.
Kegiatan ini juga mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya penguatan program kesehatan daerah yang berorientasi pada peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui proses pendampingan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang perencanaan kesehatan. Selain itu, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan tata kelola institusi kesehatan yang lebih transparan, sistematis, dan akuntabel. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM dan Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh. (Kontributor: Agus Salim).




