FK-KMK UGM. Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat dan Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial (HBES)FK-KMK UGM menyelenggarakan Seminar Rabuan bertajuk “Safety Riding in Campus Environment: Policy, Practice and Future Direction” sebagai upaya meningkatkan kesadaran keselamatan berkendara di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Rabu, 25 Februari 2026 ini bekerja sama dengan Kanal Pengetahuan FK-KMK UGM dan unit Health Promoting University (HPU) UGM serta menghadirkan narasumber dari berbagai unit di lingkungan UGM. Seminar diikuti oleh 153 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan praktisi kesehatan.
Penyelenggaraan seminar ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Data menunjukkan bahwa kelompok usia 15–29 tahun merupakan kelompok dengan angka fatalitas kecelakaan lalu lintas tertinggi. Kondisi tersebut menjadikan keselamatan berkendara sebagai isu yang tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor transportasi dan kepolisian, tetapi juga sektor kesehatan melalui berbagai upaya promotif dan preventif.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu (BPKT) UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa keselamatan lalu lintas menjadi salah satu perhatian penting di lingkungan kampus mengingat tingginya mobilitas warga akademik dan padatnya arus kendaraan di sejumlah ruas jalan kampus. Ia juga menjelaskan bahwa UGM telah melakukan survei Indeks Rasa Aman untuk memetakan persepsi keamanan warga kampus sebagai dasar dalam menentukan prioritas perbaikan, termasuk pada aspek keselamatan berlalu lintas.
Perspektif kebijakan dan tata kelola transportasi kampus disampaikan oleh Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D. dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya penerapan pendekatan berbasis kebijakan, teknologi, dan manajemen transportasi yang mendukung keselamatan pengguna jalan. Ia mengaitkan berbagai upaya yang dilakukan kampus dengan Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (RUNK LLAJ), termasuk pengendalian kecepatan kendaraan, pengembangan transportasi publik, optimalisasi penggunaan sepeda, serta pembatasan kendaraan bermotor di area tertentu.
Dari sisi implementasi di lapangan, Kepala Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) UGM, Sugiyanta, S.Sos., M.A., memaparkan berbagai langkah yang telah dilakukan kampus, seperti pemasangan speed bump, water barrier, optimalisasi kamera pengawas, rekayasa lalu lintas saat kegiatan besar, serta penguatan sistem tanggap darurat dan ambulans kampus. Namun demikian, ia mengungkapkan bahwa angka kecelakaan di lingkungan UGM masih mencapai 154 kasus per 100.000 warga kampus, jauh di atas standar ASEAN University Network–Health Promotion Network (AUN-HPN) yang menetapkan angka kurang dari 20 kasus per 100.000 populasi. Faktor seperti kecepatan berlebih, penggunaan gawai saat berkendara, marka jalan yang memudar, serta penerangan yang kurang optimal masih menjadi tantangan yang perlu diatasi bersama.
Sementara itu, Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. dari FK-KMK UGM menyoroti pentingnya pendekatan perilaku dalam membangun budaya keselamatan berkendara. Ia menjelaskan bahwa kepatuhan terhadap penggunaan helm dan perilaku berkendara aman tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga norma sosial, keterampilan, dukungan lingkungan, serta minimnya hambatan untuk berperilaku aman. Menurutnya, intervensi berbasis teman sebaya dan pendekatan komunitas menjadi strategi yang efektif dalam membentuk budaya safety riding yang berkelanjutan di lingkungan kampus.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, karena mendukung upaya pencegahan cedera dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas melalui promosi keselamatan berkendara. SDG 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan di lingkungan kampus. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kerja sama lintas sektor dalam mendukung keselamatan dan kesehatan masyarakat. (Kontributor: Zilfani Fuadiyah Haq).




