FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) menyelenggarakan kegiatan RABOAN (Research and Perspective Sharing) bertajuk “Digital Mental Health in the Era of Artificial Intelligence: Reframing Classical Bioethics Towards Digital Bioethics” sebagai forum ilmiah untuk membahas perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam layanan kesehatan mental serta implikasi etik yang menyertainya. Kegiatan yang dilaksanakan pada 1 Juli 2026 ini menghadirkan Dr. dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ., Subsp. B.P.(K) dari Departemen Psikiatri FK-KMK UGM sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Dr. Ronny menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari cara bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga memperoleh layanan kesehatan. Kehadiran AI tidak lagi terbatas sebagai alat bantu, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari interaksi sehari-hari melalui berbagai aplikasi digital, termasuk pada layanan kesehatan mental. Kondisi tersebut menghadirkan peluang baru untuk memperluas akses layanan, namun juga memunculkan tantangan etis yang memerlukan perhatian serius.
Menurutnya, bioetika klasik selama ini berpusat pada hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Namun, berkembangnya AI sebagai bagian dari proses pelayanan kesehatan menghadirkan aktor baru yang bukan manusia. Oleh karena itu, konsep-konsep mendasar seperti otonomi, beneficence, non-maleficence, keadilan, privasi, dan solidaritas perlu dipahami kembali dalam konteks layanan kesehatan berbasis teknologi digital.
Salah satu contoh yang dibahas adalah semakin luasnya penggunaan chatbot kesehatan mental. Berbagai platform digital kini mampu membantu skrining depresi dan gangguan kecemasan, memberikan dukungan emosional, hingga menyediakan layanan yang dapat diakses selama 24 jam. Bagi sebagian pengguna, terutama remaja dan mahasiswa, layanan anonim tersebut menjadi ruang yang lebih nyaman untuk mengungkapkan perasaan dibandingkan harus langsung berkonsultasi dengan orang lain.
Meski menawarkan berbagai manfaat, Dr. Ronny mengingatkan bahwa pemanfaatan AI dalam kesehatan mental juga membawa konsekuensi yang tidak ringan. Informasi mengenai kondisi psikologis seseorang merupakan data yang sangat sensitif sehingga pengelolaannya harus memperhatikan aspek keamanan, kerahasiaan, dan transparansi. Penyimpanan data pada sistem berbasis cloud maupun pemanfaatan algoritma AI memerlukan tata kelola yang kuat agar hak-hak pengguna tetap terlindungi.
Meskipun demikian, ia menekankan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan peran tenaga kesehatan. Pendekatan clinician-in-the-loop perlu diterapkan agar setiap pemanfaatan AI tetap berada di bawah pengawasan profesional kesehatan. Dengan demikian, kecerdasan buatan berfungsi sebagai instrumen pendukung yang memperkuat pengambilan keputusan klinis, bukan menggantikan nilai kemanusiaan, empati, maupun pertimbangan profesional seorang tenaga kesehatan.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab untuk meningkatkan layanan kesehatan mental. SDG 4 Pendidikan Berkualitas dengan meningkatkan literasi bioetika digital bagi tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat. (Kontributor: Rafi).




