Di era digital, informasi kesehatan dapat menyebar dengan sangat cepat. Dalam hitungan menit, masyarakat dapat menemukan berbagai informasi mengenai penyakit, pengobatan, hingga upaya pencegahan melalui media sosial maupun platform digital lainnya. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar ilmiah yang kuat. Sebagian bahkan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan memengaruhi pengambilan keputusan terkait kesehatan.
Pada saat yang sama, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai isu kesehatan yang terus berkembang. Penyakit yang pernah dianggap berhasil dikendalikan dapat kembali muncul ketika kewaspadaan menurun, sementara penyakit infeksi yang jarang dibicarakan dapat sewaktu-waktu menjadi perhatian dunia.
Menjawab tantangan tersebut, Pusat Kedokteran Tropis (PKT) FK-KMK UGM melaksanakan berbagai kegiatan edukasi kesehatan melalui beragam platform untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas. Sepanjang Mei 2026, PKT UGM menghadirkan beragam ruang belajar melalui pemutaran film dokumenter, talkshow daring, dan konten edukasi digital. Meskipun mengangkat topik yang berbeda, mulai dari polio, hantavirus, hingga obat herbal, seluruh kegiatan tersebut memiliki tujuan yang sama: meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui informasi yang akurat dan berbasis bukti.
Belajar dari Bayang-Bayang Polio
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, polio mungkin dianggap sebagai penyakit masa lalu. Indonesia bahkan telah dinyatakan bebas polio sejak 2014. Namun, status tersebut tidak berarti risiko kemunculan kasus telah sepenuhnya hilang. Kemunculan kembali kasus polio di Kabupaten Klaten pada 2023 menjadi pengingat bahwa keberhasilan tersebut tidak dapat dipertahankan tanpa komitmen yang berkelanjutan.
Pesan itulah yang diangkat dalam pemutaran film dokumenter Langkah Akhir: Sisa Bayang Polio di Indonesia yang diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Klaten pada Mei lalu. Film yang diproduksi oleh proyek Synthesis and Translation of Research and Innovation in Polio Eradication (STRIPE) di bawah PKT UGM tersebut menghadirkan kisah penyintas polio dari dua generasi berbeda. Melalui perjalanan hidup mereka, penonton diajak memahami bahwa dampak polio tidak berhenti pada saat seseorang terinfeksi, tetapi dapat memengaruhi kualitas hidup sepanjang hayat.
Berbeda dengan pendekatan edukasi konvensional, film dokumenter menghadirkan sisi kemanusiaan yang sering kali sulit tergambarkan melalui angka dan statistik. Kisah Najwa yang mengalami kelumpuhan akibat polio serta perjalanan hidup Sutiayah, seorang penyintas yang kemudian tumbuh menjadi atlet difabel berprestasi memberikan gambaran nyata mengenai konsekuensi penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
Pesan yang muncul dalam film tersebut sejalan dengan pandangan penanggung jawab utama proyek STRIPE Indonesia, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH. Prof. Yodi menegaskan bahwa satu kasus polio saja sudah cukup menjadi alarm bagi semua pihak. Menurutnya, penularan masih dapat terjadi, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi yang belum merata.
Sebagai bagian dari upaya edukasi dan advokasi kesehatan, film dokumenter ini telah diputar sebanyak tiga kali untuk menjangkau kelompok audiens yang berbeda. Setelah pemutaran perdana di Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta pada akhir 2025, film tersebut kembali diputar di Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten (29 April 2026) dan di Pendopo Kabupaten Klaten (6 Mei 2026). Berbagai pemangku kepentingan turut terlibat, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, hingga organisasi perempuan.
Film dokumenter ini tidak hanya menjadi ruang refleksi mengenai dampak polio, tetapi juga sarana dialog untuk membangun komitmen bersama dalam mempertahankan capaian bebas polio di Indonesia. Diskusi yang menyertai pemutaran film mengajak peserta membahas langkah-langkah konkret untuk meningkatkan cakupan imunisasi dan memperkuat perlindungan masyarakat terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah tersebut.
Memahami Ancaman yang Kembali Menjadi Sorotan
Jika film dokumenter menjadi sarana untuk mengingatkan kembali ancaman penyakit yang pernah menjadi perhatian dunia, PKT UGM memilih pendekatan berbeda ketika merespons isu kesehatan yang sedang berkembang secara global.
Pada Mei 2026, Hantavirus kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan klaster kasus pada kapal pesiar MV Hondius. Meskipun para ahli menilai situasi tersebut tidak mengarah pada pandemi baru, tingginya perhatian media terhadap kasus tersebut tetap memunculkan kekhawatiran di masyarakat mengenai tingkat risiko penyakit ini.
Merespons kebutuhan akan informasi yang akurat, PKT UGM menyelenggarakan talkshow daring bertajuk Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia. Melalui platform digital, masyarakat dari berbagai daerah dapat memperoleh penjelasan langsung dari para ahli mengenai karakteristik penyakit, risiko penularan, hingga langkah-langkah pencegahan yang perlu dilakukan.
Dalam kegiatan tersebut, dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D., menjelaskan bahwa kasus yang menjadi perhatian dunia disebabkan oleh strain Andes virus, satu-satunya jenis Hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia secara terbatas. Meski demikian, dr. Riris menegaskan risiko penyebaran luas masih tergolong rendah.
Sementara itu, dr. Alindina Anjani, Sp.PD., menjelaskan bahwa gejala Hantavirus sering kali menyerupai berbagai penyakit infeksi lain yang umum ditemukan di Indonesia, seperti demam berdarah, leptospirosis, maupun tifoid. Karena itu, riwayat paparan lingkungan dan keberadaan rodensia seperti tikus menjadi informasi penting dalam proses diagnosis.
Talkshow yang diikuti tak kurang dari 600 peserta tersebut menunjukkan bagaimana platform daring dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan informasi kesehatan secara cepat ketika masyarakat membutuhkan penjelasan yang terpercaya. Selain meningkatkan pemahaman mengenai Hantavirus, kegiatan tersebut juga menegaskan pentingnya kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan.
Menyaring Informasi Kesehatan di Era Digital
Selain menghadapi berbagai penyakit infeksi, masyarakat saat ini juga berhadapan dengan tantangan lain yang tidak kalah besar, yaitu banjir informasi kesehatan di media digital. Berbagai klaim mengenai manfaat produk kesehatan, termasuk obat herbal, dapat dengan mudah ditemukan dan dibagikan secara luas.
Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai informasi yang menyebut bahwa obat herbal dapat mencegah maupun mengobati tuberkulosis (TBC). Klaim semacam ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman apabila tidak disertai pemahaman yang memadai mengenai bukti ilmiah yang mendasarinya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, PKT UGM menghadirkan episode TropmedAsk bertajuk Mitos atau Fakta: Obat Herbal Bisa Mengobati Penyakit Menular? melalui kanal YouTube Tropmeducation. Berbeda dengan format webinar yang lebih formal, TropmedAsk dirancang sebagai ruang diskusi yang lebih ringan dan dekat dengan pertanyaan yang dirangkum dari media sosial.
Dalam episode tersebut, peneliti dari Pusat Kedokteran Herbal FK-KMK UGM, Dr. rer. nat. Apt. Arko Jatmiko Wicaksono, M.Sc., menjelaskan bahwa hingga saat ini obat herbal belum dapat digunakan sebagai terapi utama pada penyakit menular seperti TBC. Meski beberapa penelitian menunjukkan adanya potensi dalam mendukung pemulihan pasien, bukti ilmiah yang tersedia belum cukup kuat untuk menggantikan pengobatan standar.
Dr. Arko juga mengingatkan bahwa penggunaan obat herbal tidak selalu bebas risiko. Baik obat herbal maupun obat sintetis sama-sama mengandung senyawa aktif yang dapat menimbulkan efek samping apabila digunakan secara tidak tepat. Karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam menilai berbagai klaim kesehatan yang beredar, termasuk klaim mengenai produk herbal yang menjanjikan hasil instan.
Melalui format tanya jawab yang interaktif, TropmedAsk menjadi salah satu upaya PKT UGM untuk menghadirkan informasi kesehatan yang mudah dipahami sekaligus mendorong masyarakat mengambil keputusan kesehatan berdasarkan bukti ilmiah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi, tetapi juga membantu masyarakat menavigasi berbagai klaim yang beredar di ruang digital.
Menjangkau Masyarakat melalui Beragam Platform
Film dokumenter, talkshow daring, dan konten edukasi digital mungkin memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, ketiganya memiliki tujuan yang sama, yaitu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan informasi masyarakat. Upaya tersebut juga mencerminkan komitmen PKT UGM untuk memastikan hasil penelitian dan perkembangan ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi informasi yang bermanfaat dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Pengalaman PKT UGM sepanjang Mei 2026 menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tidak harus disampaikan melalui satu pendekatan yang seragam. Sebagian isu lebih efektif disampaikan melalui kekuatan cerita dan refleksi seperti pada film dokumenter. Sebagian lainnya membutuhkan respons cepat melalui diskusi bersama pakar atau penjelasan singkat yang mudah diakses melalui platform digital.
Di tengah dinamika isu kesehatan yang terus berkembang, kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami juga semakin meningkat. Melalui berbagai platform edukasi yang digunakan, PKT UGM berupaya memastikan bahwa informasi kesehatan yang akurat, relevan, dan berbasis bukti dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Pada akhirnya, peningkatan literasi kesehatan bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat untuk melindungi kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.
Penulis: Muhammad Ali Mahrus (Pusat Kedokteran Tropis UGM)
Editor: Citra Agusta Putri Anastasia