FK-KMK UGM Ungkap Hambatan Perawatan Diri pada Pasien Gagal Jantung

FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama tim peneliti menyelenggarakan kajian untuk mengidentifikasi berbagai hambatan perawatan diri (self-care) pada pasien gagal jantung. Penelitian ini melibatkan Ns. Dian Hudiyawati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.M.B., Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., S.Pd., M.Kes., dr. Dyah Wulan Anggrahini, Ph.D., Sp.JP., dan Ari Prayogo Pribadi, S.T., M.T., Ph.D. Hasil penelitian berjudul “Psychological, social, and structural barriers to self-care in heart failure: A scoping review” dipublikasikan dalam jurnal internasional Health Sciences Review pada 2026 dengan DOI https://doi.org/10.1016/j.hsr.2026.100281.

Gagal jantung merupakan kondisi kesehatan kronis yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Dalam menjalani perawatan, pasien tidak hanya bergantung pada pengobatan dan pemantauan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga perlu melakukan perawatan diri secara konsisten. Upaya ini meliputi mengenali gejala yang muncul, mematuhi pengobatan, memantau berat badan, mengatur pola makan, menjaga aktivitas fisik sesuai kondisi, serta mengendalikan faktor risiko kardiovaskular.

Perawatan diri yang baik berperan penting dalam membantu pasien mengelola penyakit dan mempertahankan kualitas hidup. Namun, penerapannya tidak selalu mudah. Kemampuan pasien untuk menjalankan anjuran kesehatan dipengaruhi oleh berbagai keadaan, mulai dari pemahaman tentang penyakit hingga dukungan keluarga dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh, tim peneliti melakukan scoping review dengan menelusuri lima basis data ilmiah, yaitu PubMed, Scopus, ScienceDirect, CINAHL, dan ProQuest. Sebanyak 19 penelitian dari berbagai negara dianalisis. Temuan dari studi-studi tersebut kemudian disintesis secara tematik dan dipetakan menggunakan kerangka Capability–Opportunity–Motivation–Behavior (COM-B), yang menjelaskan bagaimana kemampuan, kesempatan, dan motivasi berperan dalam membentuk perilaku seseorang.

Hasil kajian menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan dan informasi kesehatan menjadi salah satu hambatan yang sering ditemukan. Pasien dapat mengalami kesulitan memahami kondisi yang dialami, mengenali gejala, atau menerapkan rekomendasi perawatan secara tepat. Selain itu, keterbatasan fisik dan gejala gagal jantung dapat menghambat aktivitas sehari-hari. Tekanan emosional, rendahnya persepsi terhadap kemampuan mengendalikan penyakit, serta kesulitan mempertahankan kebiasaan hidup sehat juga dapat memengaruhi konsistensi perawatan diri.

Faktor sosial dan budaya turut membentuk pengalaman pasien. Dukungan keluarga yang kurang memadai dapat menyulitkan pasien dalam mempertahankan kebiasaan perawatan. Komunikasi yang belum optimal antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan juga berpotensi menghambat pemahaman serta penerapan anjuran medis. Di sisi lain, keyakinan dan praktik budaya tertentu dapat memengaruhi cara pasien memandang penyakit dan menentukan pilihan perawatan.

Hambatan tidak hanya berasal dari pasien dan lingkungan sosialnya. Pada tingkat pelayanan kesehatan, keterbatasan akses dan kesinambungan layanan, biaya pengobatan, ongkos transportasi, serta kurangnya sumber daya dapat mempersulit pasien memperoleh perawatan yang dibutuhkan. Kajian ini juga menemukan bahwa hambatan tersebut dapat berbeda menurut konteks ekonomi dan sistem kesehatan suatu negara. Di negara dengan sumber daya yang lebih terbatas, persoalan akses informasi, biaya, transportasi, dan ketersediaan pelayanan dapat menjadi tantangan yang lebih menonjol.

Melalui kerangka COM-B, temuan tersebut memperlihatkan bahwa perilaku perawatan diri terbentuk melalui keterkaitan tiga komponen. Capability mencakup pengetahuan, kemampuan memahami informasi, dan kondisi fisik pasien. Opportunity berkaitan dengan dukungan keluarga, lingkungan sosial budaya, akses pelayanan, dan ketersediaan sumber daya. Sementara itu, motivation mencakup dorongan untuk merawat diri, kondisi emosional, persepsi terhadap penyakit, serta kemampuan mempertahankan perubahan perilaku. Ketiga komponen ini saling berhubungan dan perlu dipertimbangkan ketika merancang intervensi.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya memperkuat pengelolaan penyakit tidak menular dan meningkatkan kesehatan pasien gagal jantung. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan melalui perhatian terhadap perbedaan akses, kondisi sosial ekonomi, dan sumber daya kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pentingnya kolaborasi pasien, keluarga, tenaga kesehatan, dan sistem pelayanan dalam mendukung perawatan diri. (Kontribvutor: Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., S.Pd., M.Kes.).