FK-KMK UGM. Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK UGM meluluskan mahasiswa atas nama Lutfi Nurdian Asnindari, S.Kep., Ns., M.Sc. melalui ujian terbuka pada Kamis (15/09) di Auditorium Lantai 8 Gedung Pascasarjana Tahir Foundation FK-KMK UGM. Lutfi Nurdian memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Kombinasi Metcovazin® dan Stimulasi Listrik dalam Memperpendek Fase Proliferasi dan Remodeling Penyembuhan Luka pada Tikus Model Diabetes”.
Penelitian yang dilakukan oleh Lutfi bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi Metcovazin® dan stimulasi listrik dalam mempercepat penyembuhan luka pada tikus model diabetes sekaligus mengkaji mekanisme molekulernya. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan terhadap pendekatan yang dapat membantu mengatasi hambatan penyembuhan luka pada kondisi diabetes, terutama gangguan proliferasi sel, deposisi matriks ekstraseluler, dan regenerasi jaringan.
“Dalam penelitian saya ini, kami mengombinasikan stimulasi listrik yang bersifat bioelektrik dengan intervensi biomaterial dari Metcovazin®. Dengan dua intervensi tersebut, diharapkan dapat memicu dua mekanisme yang saling mendukung untuk mempercepat penyembuhan luka,” terang Lutfi Nurdian.
Kombinasi Metcovazin® dan stimulasi listrik diuji dengan beberapa variasi durasi untuk mengetahui durasi yang paling efektif. Selain melihat proses penyembuhan luka, penelitian juga mengkaji mekanisme melalui jalur pensinyalan voltage-gated calcium channel (VGCC) Cav1.2–PDGF-BB/PDGFRβ–ERK1/2. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental laboratorik dengan 30 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi secara acak ke dalam enam kelompok.
Kelompok tersebut terdiri atas tikus normal yang diberikan Metcovazin®, tikus model diabetes dengan Metcovazin®, stimulasi listrik selama 15 menit, serta kombinasi Metcovazin® dengan stimulasi listrik selama 5, 15, dan 30 menit. Kondisi diabetes diinduksi menggunakan nicotinamide dan streptozotocin, kemudian dibuat luka full-thickness berdiameter 8 mm pada bagian dorsal tikus. Seluruh kelompok diberikan perlakuan selama enam hari dan pemeriksaan dilakukan pada hari ketujuh.
Parameter yang diamati mencakup kadar α-SMA, ekspresi kolagen tipe I, kolagen total, reepitelisasi, ekspresi VGCC Cav1.2 dan PDGFRβ, kadar PDGF-BB dan ERK1/2, serta impedansi kulit. Data penelitian dianalisis menggunakan One-way ANOVA atau Kruskal–Wallis, kemudian dilanjutkan dengan uji post hoc Dunnett atau Dunn sesuai distribusi data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Metcovazin® dengan stimulasi listrik selama 15 menit menjadi intervensi yang paling efektif dalam mempercepat penyembuhan luka dibandingkan pemberian Metcovazin® saja. Efektivitas tersebut terlihat dari peningkatan kadar α-SMA (p=0,049), ekspresi kolagen tipe I (p=0,003), kolagen total (p=0,000), serta skor reepitelisasi (p=0,012).
Ketika dibandingkan dengan kelompok tikus model diabetes yang hanya mendapatkan Metcovazin® atau stimulasi listrik, kombinasi terapi juga menunjukkan peningkatan ekspresi kolagen tipe I (p=0,040), kolagen total (p=0,000), dan reepitelisasi (p=0,019). Temuan ini menunjukkan bahwa penambahan stimulasi listrik, khususnya selama 15 menit, memberikan hasil yang lebih baik terhadap sejumlah indikator penyembuhan luka.
“Stimulasi listrik ini tidak diberikan kepada semua pasien dengan diabetes. Stimulasi ini diberikan kepada pasien dengan kondisi luka yang baik atau sudah siap memasuki fase penyembuhan luka. Dengan demikian, mekanisme yang sudah ada tadi dapat berlangsung lebih cepat.”
Penelitian juga memperlihatkan adanya perbedaan kondisi antara tikus normal dan tikus model diabetes. Dibandingkan kelompok normal, tikus model diabetes menunjukkan penurunan ekspresi PDGFRβ (p=0,008), α-SMA, kolagen tipe I, dan reepitelisasi dengan nilai p<0,05. Kondisi tersebut menggambarkan adanya hambatan pada proses penyembuhan luka dalam model diabetes yang digunakan.
Penelitian ini berkaitan dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya pengembangan pendekatan untuk mendukung penyembuhan luka pada kondisi diabetes. SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui kajian terhadap pemanfaatan stimulasi listrik sebagai pendekatan inovatif dalam proses penyembuhan luka. (Humas/Sitam).



