Mahasiswa FK-KMK UGM Kembangkan Pendekatan Health Coaching untuk Membantu Pasien Mengendalikan Hipertensi

FK-KMK UGM. Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK UGM meluluskan mahasiswa atas nama Dr. dr. Arief Alamsyah, MARS., Sp.KKLP melalui ujian terbuka pada Kamis (10/09) di Auditorium Lantai 8 Gedung Pascasarjana Tahir Foundation FK-KMK UGM. dr. Arief memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi Di Layanan Primer”.

Penelitian yang dilakukan oleh dr. Arief Alamsyah untuk mengembangkan dan mengevaluasi model health coaching dalam membantu pengelolaan hipertensi di layanan kesehatan primer. Tujuan penelitian untuk menjawab tantangan pengendalian tekanan darah yang masih rendah, terutama karena edukasi kesehatan konvensional belum sepenuhnya mampu mendorong perubahan perilaku pasien dalam jangka panjang.

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler. Pengelolaannya tidak hanya berkaitan dengan penggunaan obat, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku, seperti peningkatan aktivitas fisik dan kepatuhan terhadap pola hidup yang mendukung pengendalian tekanan darah. Dalam praktiknya, perubahan tersebut tidak selalu mudah dilakukan. Setiap pasien memiliki tantangan, pengalaman, serta tingkat kesiapan yang berbeda.

“Tantangan tiap pasien hipertensi untuk mengubah perilaku itu berbeda-beda. Sehingga dari hasil analisa itu dan scoping review yang saya lakukan mendesain model coaching ini menjadi proses coaching yang adaptif.”

Penelitian dilaksanakan melalui pendekatan mixed methods dengan desain exploratory sequential. Tahap awal penelitian dilakukan melalui studi kualitatif di empat puskesmas di Kabupaten Malang, Indonesia, untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang muncul dalam edukasi hipertensi. Hasil pemetaan tersebut kemudian digunakan sebagai dasar pengembangan SEHAT Coaching Model, yaitu pendekatan health coaching yang menempatkan pasien sebagai bagian aktif dalam proses perubahan perilaku.

Temuan pada tahap kualitatif memperlihatkan lima persoalan utama dalam edukasi hipertensi. Sebagian pasien masih menganggap hipertensi sebagai penyakit ringan sehingga urgensi pengendaliannya belum sepenuhnya dipahami. Interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien juga dinilai masih perlu diperkuat. Selain itu, keterbatasan dukungan, kejenuhan dalam menjalani terapi, serta perbedaan tantangan yang dihadapi pasien ketika mengubah perilaku menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan hipertensi.

Berdasarkan temuan tersebut, SEHAT Coaching Model dikembangkan sebagai pendekatan yang adaptif. Model ini mengintegrasikan coaching direktif dan nondirektif secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan individual pasien. Pendekatan tersebut memungkinkan proses pendampingan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi mengenai penyakit, tetapi juga membantu pasien mengenali hambatan, menentukan kebutuhan, dan membangun perubahan perilaku yang sesuai dengan kondisinya.

Efektivitas model kemudian diuji melalui studi quasi experimental dengan desain non equivalent control group. Penelitian melibatkan 78 pasien hipertensi yang terdiri atas 40 pasien dalam kelompok intervensi dan 38 pasien dalam kelompok kontrol. Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi, perubahan nilai atau delta antarkelompok, serta analisis kovarians atau ANCOVA untuk melihat pengaruh intervensi setelah mempertimbangkan kovariat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan SEHAT Coaching Model mengalami peningkatan aktivitas fisik dan penurunan tekanan darah yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Aktivitas fisik meningkat 2,3 ± 4,69 pada kelompok intervensi dan 0,1 ± 3,78 pada kontrol (p=0,023). Tekanan darah sistolik turun 15,6 ± 16,53 mmHg pada intervensi dan 6,0 ± 13,92 mmHg pada kontrol (p=0,007), sedangkan diastolik turun masing-masing 9,1 ± 10,66 mmHg dan 3,5 ± 12,76 mmHg (p=0,030).

Analisis ANCOVA menunjukkan pengaruh intervensi terhadap tekanan darah sistolik tetap signifikan setelah penyesuaian kovariat (β=-12,21 mmHg; p=0,001), sementara pengaruh terhadap tekanan darah diastolik tidak signifikan (β=-4,09 mmHg; p=0,103).

Penelitian dr. Arief menunjukkan bahwa SEHAT Coaching Model efektif meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan tekanan darah sistolik pada pasien hipertensi di layanan primer. Pengaruh terhadap tekanan darah sistolik tetap bermakna setelah dilakukan penyesuaian terhadap kovariat.

“Saya sangat yakin bahwa SEHAT Coaching Model ini bisa diterapkan di ranah promotif, terutama dalam mengubah gaya hidup. Khususnya, fokus kita adalah generasi muda yang mungkin memiliki perilaku kurang sehat, meskipun belum mengalami penyakit.”

Penelitian ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pengelolaan hipertensi dan pencegahan risiko penyakit kardiovaskuler. Pendekatan edukasi yang berpusat pada kebutuhan pasien juga mendukung SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui upaya memberikan pendampingan kesehatan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan individu. (Humas/Sitam).