Merancang Ingatan, Menyulam Kolaborasi: Tiga Hari Co-Design Dementia Education di Yogyakarta 

Di sebuah pagi yang hangat di Yogyakarta, Selasa, 7 April 2026, lantai-lantai Universitas Gadjah Mada tampak lebih sibuk dari biasanya. Di Gedung Tahir Foundation, sekelompok akademisi lintas negara duduk melingkar bersama para lansia, perawat, dokter, dan pendamping keluarga. Mereka tidak sekadar berdiskusi, tetapi mereka merancang masa depan pendidikan demensia bersama-sama.

Kunjungan tim dari Queen’s University Belfast ini bukan agenda seremonial. Selama tiga hari, dari 7 hingga 9 April 2026, mereka terlibat dalam proyek bertajuk “Co-Designing Dementia Education in Indonesia: A Sustainable Transnational Partnership”, sebuah inisiatif berasal dari tim Queen’s University Belfast dan tim dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas, FK-KMK UGM yang didukung oleh British Council. Fokusnya jelas: membangun model pendidikan demensia lintas negara yang relevan, kontekstual, dan berkelanjutan.

Merancang dari Pengalaman Nyata

Hari pertama dibuka dengan pendekatan yang jarang ditemui dalam pengembangan kurikulum konvensional: co-design. Alih-alih menyusun materi dari balik meja akademik, tim mengundang mereka yang hidup dengan demensia—pasien, caregiver, hingga tenaga kesehatan—untuk berbagi pengalaman.

Dipimpin oleh Christine Brown Wilson, sesi pagi menghadirkan empat orang dengan demensia dan sembilan caregiver dari berbagai komunitas, termasuk layanan lansia dan organisasi Alzheimer di Yogyakarta. Seorang neurolog dan dokter keluarga turut memberi perspektif klinis. Di sesi siang, sembilan tenaga kesehatan dari RSUP Dr. Sardjito, RS Akademik UGM, dan Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha melengkapi spektrum diskusi.

Dalam kelompok-kelompok kecil, percakapan berlangsung intens. Para peserta tidak hanya menceritakan tantangan—mereka juga mengidentifikasi kebutuhan belajar yang selama ini luput dari perhatian. Dari komunikasi empatik hingga manajemen perilaku pasien, setiap pengalaman menjadi bahan baku kurikulum.

Pendekatan ini mencerminkan pergeseran paradigma: dari pendidikan berbasis pakar menjadi pendidikan berbasis pengalaman kolektif.

Co-Design sebagai Metode, Bukan Sekadar Istilah

Keesokan harinya, Rabu, 8 April 2026, gagasan co-design diperluas dalam sebuah seminar internasional dan workshop bertajuk “Designed Together, Built to Last”. Sebanyak 37 peserta—dosen, perawat klinis, hingga mahasiswa pascasarjana—memenuhi ruangan yang sama.

Bersama Prof. Christine Brown Wilson dan Dr. Azam David Saifullah, memaparkan bagaimana co-design dapat menjadi strategi efektif dalam pendidikan kesehatan. Bukan hanya teori, peserta diajak langsung mempraktekkan metode ini dalam simulasi kelompok kecil.

Diskusi yang muncul menunjukkan satu hal: co-design bukan sekadar pendekatan partisipatif, tetapi alat untuk memastikan bahwa pendidikan benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Dalam konteks demensia—yang kompleks, kronis, dan sarat dimensi sosial—pendekatan ini menjadi semakin relevan.

Menjembatani Kurikulum dan Implementasi

Hari terakhir, Kamis, 9 April 2026, fokus bergeser ke ranah yang lebih strategis: integrasi kurikulum. Di Gedung Ismangoen, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, sebanyak 24 pemangku kepentingan internal berkumpul.

Mulai dari pimpinan program studi, tim penjaminan mutu, hingga pengembang kurikulum, semuanya terlibat dalam diskusi untuk menyelaraskan hasil co-design dengan struktur akademik yang ada. Presentasi kembali dibawakan oleh Christine Brown Wilson, dilanjutkan dengan perumusan rencana implementasi.

Pertemuan ini menjadi krusial. Tanpa integrasi yang sistematis, hasil co-design berisiko berhenti sebagai wacana. Di sinilah kerja akademik menemukan tantangan sesungguhnya: menerjemahkan ide menjadi kebijakan pendidikan yang operasional.

Diplomasi Akademik yang Substantif

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pertemuan bersama Kantor Urusan Internasional UGM. Agenda ini mungkin tampak administratif, namun sesungguhnya strategis. Di ruang inilah keberlanjutan kerja sama dibicarakan—mulai dari pengembangan program pendidikan bersama hingga peluang transnational education yang lebih luas. Proyek ini tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari kontribusi institusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya pendidikan berkualitas (SDG 4) dan kemitraan global (SDG 17).

Lebih dari Sekadar Kunjungan

Kehadiran tim yang juga melibatkan Dr, Garry Mitchell, Dr. Stephanie Craig, Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng., Sri Warsini, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D., dan Azam David Saifullah, S.Kep., Ns., M.Sc.Ph.D ini menunjukkan bahwa kolaborasi akademik tidak lagi bersifat satu arah. Di tengah meningkatnya angka demensia global, kebutuhan akan pendidikan yang adaptif menjadi mendesak. Indonesia, dengan struktur sosial berbasis keluarga dan komunitas, menawarkan konteks unik yang tidak bisa disalin dari negara lain begitu saja.

Karena itu, pendekatan co-design yang dijalankan dalam proyek ini terasa tepat. Ia tidak hanya membangun kurikulum, tetapi juga menjembatani pengetahuan global dengan realitas lokal. Pada akhirnya, yang dibangun bukan sekadar modul ajar. Melainkan sebuah ekosistem pembelajaran—yang dirancang bersama, diuji bersama, dan diharapkan bertahan lama.

Kontributor: Azam David Saifullah
dr. : Moh. Hendra Setia Lesmana, S.Kep, Ns, M.Sc., Ph.D.