Di balik lensa mikroskop dan ketajaman analisis diagnostiknya, tersimpan rekam jejak perjuangan luar biasa dari seorang pionir medis yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Bagi Prof. dr. Upik Anderiani Miskad, Ph.D., Sp.PA, Subsp. DHB (K), dedikasi terhadap dunia kedokteran bukanlah sekadar lintasan karier, melainkan sebuah panggilan jiwa yang menuntut keberanian untuk mengambil peluang di tengah berbagai rintangan. Jauh sebelum mengukuhkan diri sebagai pilar penting dalam keilmuan patologi anatomi di Indonesia bagian timur, jalan panjang pengabdiannya bermula dari sebuah langkah berani untuk mendobrak keterbatasan zaman demi mengejar pendidikan hingga ke mancanegara.
Resmi mendapatkan gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada 1999, pencariannya untuk kembali menempuh studi bermuara pada pertemuannya dengan seorang profesor dari Kobe University, Jepang. Mengetahui profesor tersebut sedang melakukan penelitian di bidang penyakit liver dan kolorektal, Prof. Upik tergerak untuk menyusun draft proposal terkait liver. Berbekal draft proposal penelitian yang disusunnya secara manual di perpustakaan kampus di tengah keterbatasan era pra-internet, dokter muda yang kala itu hanya berprinsip mencari beasiswa untuk belajar ke luar negeri ini berhasil memikat profesor Kobe University hingga akhirnya sukses menempuh studi doktoral di bidang ilmu patologi.
Empat tahun belajar di Negeri Sakura, Prof. Upik kembali ke Indonesia pada 2004 dan berkontribusi untuk tanah kelahiran di Sulawesi Selatan sebagai pendidik Ilmu Patologi di Universitas Hasanuddin Makassar. Dia berperan ganda: menjadi pendidik sekaligus penuntut ilmu Spesialis Patologi Anatomi di tempat ia mengajar. Kecintaannya pada belajar membawanya menjadi Konsultan di bidang gastroenterohepatologi hingga berhasil menjadi Guru Besar Bidang Patologi Anatomi pada 2023.
Dari Batik ke Butik
Dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-80 FK-KMK UGM, Guru Besar asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, tersebut dinobatkan menjadi Alumni Berprestasi KAGAMADOK Kategori “Pelopor Kewirausahaan” tahun 2026. Mengapresiasi hal itu, Prof. Upik justru mengaku bahwa jiwa kewirausahaannya diperoleh dari keterbatasan.
“Saya berasal dari keluarga yang benar-benar terbatas,” kenang Prof. Upik, memulai cerita tentang perjuangan era kuliah.
Jarang pulang ke kampung halaman nun jauh di Takalala, Soppeng karena keterbatasan biaya dan berkuliah di FK UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) membuatnya harus berusaha maksimal untuk bertahan hidup di Yogyakarta. Salah satu kerja keras yang dilakukan adalah berdagang kain. Setiap hari, Prof. Upik pergi ke Pasar Beringharjo untuk membeli kain, termasuk batik yang kala itu masih langka di Sulawesi Selatan, untuk dikirim ke orang tua yang bekerja sebagai penjahit. Kain yang dikirimkan kemudian dijual di tanah kelahirannya.
“Saya pergi sendiri ke Beringharjo, saya pilih sendiri kain-kain dan batiknya, saya mengepak dan memasukkan ke dalam karung sendiri. Saya naik becak ke Kantor Pos Besar Yogyakarta dan saya kirimkan sendiri. Mungkin rasanya dramatis, tetapi itulah kenyataannya. Memang capai, tetapi saya senang, karena saya ingin suatu saat punya butik,” ujar Prof. Upik.
Bak ucapan adalah doa, jiwa kewirausahaan sejak dini menuntunnya untuk mendirikan Mitosis Laboratory, Laboratorium Molecular Patologi Anatomi pertama di Kota Makassar, bahkan di Indonesia Timur. Awalnya, setelah usai studi di Jepang, Prof. Upik seringkali melakukan beberapa pemeriksaan yang masih jarang dilakukan di Makassar saat itu, seperti pemeriksaan imunohistokimia dan penelitian lainnya yang dilakukan rekan sejawat. Kurangnya fasilitas pemeriksaan untuk berekspresi melakukan penelitian di Makassar membuatnya mendirikan laboratorium Grand Medika (nama sebelum Mitosis Laboratory) dan bertanggung jawab secara penuh seorang diri.
Wabah Covid-19 seperti badai yang menyapu habis masuknya permintaan pemeriksaan sampel jaringan ke laboratoriumnya. Meskipun begitu, Prof. Upik tak kehabisan akal untuk terus berinovasi menghidupkan usaha. Kesibukannya sebagai dokter spesialis Patologi Anatomi yang tak sepadat dokter spesialis lainnya pada era Covid-19 membuatnya mengisi waktu luang dengan berkarya. Dia mendesain bros berbentuk mikroskop sebagai hadiah untuk sang sensei di Jepang. Dirinya tidak menyangka, sensei begitu senang dengan bros unik yang ia desain sendiri.
“Awalnya, saya beri nama The Pathologist. Saya buat lagi sekitar 50 bros mikroskop dan saya bawa ke kongres. Saya tawarkan pada saat sarapan, dan sebelum acaranya dimulai, langsung habis (brosnya). Mereka sangat senang. Itu sesuatu yang baru dan tidak ada yang memikirkannya sebelumnya,” terang Prof. Upik.
Antusiasme para rekan sejawat terhadap bros yang ia buat memotivasi Prof. Upik untuk menghasilkan karya seni tak hanya bernuansa patologi, tetapi merambah di bidang konveksi dengan corak medis lainnya. Guru Besar tersebut mendesain jilbab dengan beragam seri model, seperti model antibodi, genetik, kromosom, DNA, hingga organ dalam. Semua itu dihasilkan dari goresan tangannya sendiri.
Gambarnya kemudian diolah oleh tim desain untuk diterjemahkan menjadi desain digital. Kombinasi hobi dan seni menghasilkan produk usaha baru yang menembus kancah mancanegara, seperti Filipina dan Belanda. Meskipun begitu, Prof. Upik senantiasa tak lupa menjadikan karya seninya itu sebagai hadiah untuk para rekan sejawat di kongres.
Prof. Upik ingin memperluas karya seninya tidak hanya pada bros bernuansa medis. Akhirnya pada Desember 2019, ia membuat merek dan mendirikan butik bernama Science Scarves yang berbasis di Makassar dengan melebarkan sayap pada produk jilbab, mukena, dan pakaian Muslimah. Kini, ucapan dan harapan yang sempat ia rajut saat berkuliah telah menjadi kenyataan.
Pionir Laboratorium Patologi Anatomi di Indonesia Timur
Pasca Covid-19, sembari menjalankan Science Scarves, Prof. Upik melakukan rebranding laboratorium lama, Grand Medika. Kala itu, permintaan pemeriksaan laboratorium mulai marak kembali, sehingga diperlukan inovasi baru yang diberikan laboratorium barunya dalam menjawab tantangan pemeriksaan usai Covid-19.
“Saya bersama rekan dr. Amalia Mulia Utami, PhD mendirikan Mitosis Laboratory. Kalau pada saat dulu, pemeriksaannya masih terbatas, sekarang varian pemeriksaannya lebih beragam. Dulu hanya sitologi, histopatologi melalui sitokimia. Sekarang sudah meningkat melalui patologi molekuler. Saat dibuka, itu adalah laboratorium patologi molekuler pertama di Indonesia Timur,” jelas Prof. Upik.
Tak hanya memeriksa sampel, laboratoriumnya juga menjadi wadah penelitian para mahasiswa FK maupun Fakultas Biologi Universitas Hasanuddin ataupun dari Universitas lain untuk melakukan magang. Sehingga, laboratoriumnya turut berkontribusi dalam pemberian layanan pendidikan, penelitian, maupun layanan pemeriksaan.
Namun, pengelolaannya tak lepas dari tantangan. Sebagai laboratorium swasta, Mitosis Laboratory tidak memiliki pasien sendiri. Oleh karena itu, kemampuan untuk berkomunikasi dan membangun jejaring menjadi kunci dalam menjalankannya. Prof. Upik bekerja sama dengan rumah sakit dan melakukan pendekatan persuasif kepada rumah sakit yang belum memiliki fasilitas patologi anatomi untuk mengirim spesimen di laboratoriumnya.
“Itu bukan hal yang mudah, apalagi di Indonesia Timur dengan biaya yang tidak murah. Tantangannya adalah menjaga kualitas dengan harga yang kompetitif,” kata Prof. Upik.
Mengabdi kepada Sesama
Tak hanya bergelut di bidang bisnis, Prof. Upik juga mendedikasikan dirinya kepada masyarakat. Pada 2013, ia bertemu dengan Prof. Dr. Nurlina Subair, M.Si. Kala itu, Prof. Nurlina sedang memeriksakan dirinya ke laboratorium Prof. Upik. Setelah diagnosis keluar, keakraban dan rasa saling percaya antara pasien dan dokter patologi anatomi justru tumbuh. Prof. Upik mencoba membangkitkan kembali semangat Prof. Nurlina yang sempat mengalami depresi dengan membangun komunitas bernama Makassar Cancer Care Community (MCCC). Komunitas ini menyatukan harapan dan menjalin tali kasih antara pasien kanker, dokter klinis, maupun orang sehat.
Melalui MCCC, Prof. Upik menebarkan semangat dan informasi terkait kanker, seperti pentingnya deteksi dini kanker, hingga penyelenggaraan rutin program deteksi kanker serviks, kanker kolon, dan kanker payudara. Bahkan, MCCC kini resmi menjadi anggota resmi dari Union for International Cancer Control (UICC) sebagai komunitas berfokus pada pemberian pendidikan, penelitian, dan dukungan bagi orang sehat maupun pasien kanker di Makassar.
Edukasi dilakukan kepada seluruh lapisan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, orang sehat maupun pejuang kanker. Tak sedikit pula penyintas yang tergabung dalam MCCC, seperti penderita kanker kolorektal, kanker nasofaring, kanker serviks, hingga kanker payudara. Setiap Oktober, bertepatan dengan Bulan Peduli Kanker Payudara Sedunia maupun hari besar kanker lainnya, Prof. Upik bersama MCCC tak absens dari mengadakan kegiatan edukasi maupun deteksi dini kanker.
“Orang yang sehat perlu diedukasi, orang yang sudah sakit harus dikuatkan,” kata Prof. Upik.
Tak Ada Kata ‘Nanti’
Padatnya kontribusi dalam merealisasikan Tri Dharma justru membuat Prof Upik semakin tak kenal lelah untuk terus menimba ilmu. Baginya, kehidupan adalah periode belajar seumur hidup. Bahkan, kini, Prof Upik memacu diri dengan mengikuti sekolah nonformal, yakni belajar terjemahan Al-Qur’an, belajar agama islam secara terstruktur secara online di HSI Academy. Setiap malam, ia belajar secara daring dan giat dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Belajar adalah sebuah keharusan, ujarnya, dan membagi waktu dalam mendidik, menjalankan laboratorium, berbisnis, dan belajar selama 24 jam adalah tentang prioritas. Tak ada kata ‘nanti’ untuk berbagi peran.
Baginya, belajar berdasarkan kehendak suasana hati memberi ruang tumbuh untuk kemalasan. Ia mengatakan, dirinya selalu berpesan kepada para mahasiswa Kedokteran bahwa memutuskan untuk menjadi dokter berarti berkomitmen untuk belajar seumur hidup, baik ilmu akademis maupun ilmu agama. Pasalnya, belajar juga memerlukan keikhlasan dan kesiapan batin dalam menggali maupun menerima ilmu.
Prof Upik juga berharap, para mahasiswa yang memiliki bakat non akademis tak perlu malu untuk mengembangkannya. Apabila belum mempunyai suatu bakat dan belum tahu apa yang dilakukan, tak ada salahnya untuk terjun dan belajar apapun, selagi memiliki sistem pendukung yang positif.
“Apapun yang kita pelajari, pasti ada manfaatnya. Tidak ada sesuatu hal baik yang sia-sia. Jadi, belajar kedokteran, belajar juga ilmu yang non kedokteran. Tetap fokus untuk belajar kedokteran, tetapi jangan abaikan juga ilmu yang lain,” kata Prof. Upik.
Bagi dokter masa depan yang juga ingin berwirausaha, ia menekankan untuk tidak berfokus pada target, tetapi pada penuangan kreativitas dan bermanfaat bagi orang lain.
“Intinya adalah menuangkan kreativitas dalam bentuk desain dan digunakan orang lain. Jadi yang didapatkan adalah kebahagiaan dalam menjalaninya,” tutupnya. (Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia)
Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia
Editor: dr. Sri Awalia Febriana, M.Kes, Sp.KK, PhD (K)