Masih teringat jelas suasana di sudut ruang ICU kala itu. Suara monitor yang berbunyi pelan, selang dan alat yang memenuhi tubuh pasien, serta harapan keluarga yang perlahan bercampur dengan ketakutan. Seorang kerabat dekat sedang berjuang mempertahankan hidupnya dengan berbagai instrumen kesehatan yang menopangnya. Hari demi hari berlalu, namun kondisi tak kunjung menunjukkan perbaikan.
Hingga akhirnya, dokter datang dan menyampaikan kalimat yang begitu berat untuk didengar.
“Karena sudah lebih dari tujuh hari menggunakan ventilator dan belum ada tanda-tanda perbaikan, kami perlu menyampaikan pilihan yang harus dipertimbangkan keluarga. Bapak (pasien) bisa dipasang trakeostomi dengan segala risikonya, atau dipulangkan tanpa tindakan lanjutan dengan status DNR.”
Ruangan terasa sunyi. Tidak ada jawaban yang benar-benar terasa tepat. Di satu sisi, keluarga ingin terus berjuang dan mempertahankan harapan sekecil apapun. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang jauh lebih sulit: apakah semua tindakan ini masih memberikan manfaat, atau justru hanya memperpanjang penderitaan?
Pada situasi seperti inilah, keluarga seringkali berada di persimpangan antara cinta, harapan, rasa bersalah, dan ketidakrelaan untuk kehilangan.
Apa yang dimaksud dengan futile care?
Ilustrasi tersebut menggambarkan situasi yang dikenal sebagai perawatan yang sia-sia atau futile care. Menurut Ramazani dan kolega (2025), Futile care didefinisikan sebagai tindakan medis atau keperawatan yang secara klinis tidak lagi memberikan manfaat bermakna bagi pasien, baik untuk memperbaiki kondisi, meningkatkan kualitas hidup, maupun mengubah prognosis penyakit. Pada pasien di tahap akhir kehidupan (end-of-life), tindakan medis terkadang hanya mampu memperpanjang proses biologis kehidupan, tanpa benar-benar memberikan peluang pemulihan.
Padahal, tujuan utama pelayanan di ruang perawatan intensif bukan sekadar mempertahankan denyut jantung atau fungsi organ tubuh. Pelayanan kesehatan bertujuan membantu pasien bertahan hidup dengan tetap menjaga kualitas hidup, kenyamanan, dan martabatnya sebagai manusia. Namun, pada kondisi tertentu, berbagai tindakan invasif tidak lagi membawa pasien menuju kesembuhan. Sebaliknya, tindakan tersebut hanya memperpanjang proses menuju kematian dan menambah penderitaan yang sebenarnya sudah tidak dapat dihindari.
Mengapa futile care masih menjadi dilema etis?
Hingga saat ini, futile care masih menjadi salah satu dilema etis dalam pelayanan kesehatan. Salah satu penyebabnya adalah belum adanya batas yang benar-benar jelas mengenai kapan suatu perawatan dianggap tidak lagi bermanfaat. Oleh karena itu, keputusan seringkali berada di wilayah abu-abu, di tengah kondisi emosional yang berat bagi pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan.
Di satu sisi, keluarga masih menyimpan harapan akan keajaiban dan ingin semua tindakan tetap dilakukan sekecil apapun peluang keberhasilannya. Namun di sisi lain, tenaga kesehatan juga menghadapi tekanan moral yang tidak ringan. Ada rasa takut dianggap menyerah, rasa bersalah ketika menghentikan terapi, hingga kekhawatiran bahwa keputusan tersebut akan melukai keluarga pasien. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut sering menjadi tantangan dalam pengambilan keputusan di ruang perawatan intensif. Tidak jarang, terapi tetap dilanjutkan, meskipun manfaat klinisnya sangat kecil, karena adanya desakan keluarga, kurangnya komunikasi, dan belum adanya pedoman etik yang jelas.
Situasi ini membuat futile care bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga persoalan moral, budaya, agama, dan kemanusiaan. Sejumlah penelitian menggambarkan kondisi ini sebagai balancing act, yaitu upaya tenaga kesehatan untuk terus menimbang manfaat intervensi dengan risiko penderitaan tambahan yang mungkin dialami pasien. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan memiliki persepsi yang masih berada pada tingkat “sedang” terhadap futile care, yang menandakan bahwa persoalan ini memang masih menyisakan banyak area abu-abu.
Pada akhirnya, keputusan dalam futile care seringkali bukan tentang memilih tindakan yang sepenuhnya benar atau salah, melainkan mencari pilihan yang paling manusiawi di tengah keterbatasan.
Bagaimana futile care dapat diatasi secara etis?
Menghadapi futile care tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan klinis. Situasi ini membutuhkan komunikasi yang penuh empati, refleksi etik, serta pengambilan keputusan yang tetap berpusat pada pasien dan keluarga. Beberapa pendekatan berikut dapat membantu menghadapi dilema etis futile care secara lebih manusiawi:
- Membangun komunikasi sejak awal perawatan
Banyak konflik terjadi bukan karena keluarga menolak kenyataan, melainkan karena mereka merasa tidak memahami kondisi pasien atau tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu, diskusi mengenai prognosis, tujuan terapi, peluang keberhasilan tindakan, serta kemungkinan perawatan paliatif idealnya dilakukan lebih awal. Komunikasi yang terbuka sejak awal dapat membantu keluarga mempersiapkan diri secara emosional dan mengurangi konflik di kemudian hari. - Menggunakan komunikasi secara jujur dan empatik
Penggunaan istilah “futility” kepada keluarga perlu dilakukan secara hati-hati karena dapat terkesan bahwa pasien sudah “tidak layak ditolong”. Oleh sebab itu, tenaga kesehatan perlu menyampaikan kondisi pasien dengan bahasa yang lebih manusiawi, jujur, dan penuh empati. Komunikasi tidak hanya berisi penjelasan medis, tetapi juga menjadi ruang bagi keluarga untuk memahami kondisi pasien, mengajukan pertanyaan, dan memproses emosi mereka. - Mengalihkan fokus dari ”menyembuhkan” menjadi ”merawat”
Ketika tindakan kuratif tidak lagi memberikan manfaat, bukan berarti perawatan harus dihentikan sepenuhnya. Fokus pelayanan dapat bergeser pada perawatan paliatif, seperti mengurangi nyeri, mengatasi sesak nafas, memberikan dukungan psikologis, serta menjaga kenyamanan dan martabat pasien hingga akhir hayat. Dengan demikian, menghentikan terapi yang futile bukan berarti menghentikan kepedulian. - Melibatkan keluarga dalam proses pengambilan keputusan
Pendekatan family-centered care semakin direkomendasikan dalam menghadapi situasi end-of-life. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga sebenarnya ingin dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dan mendampingi pasien pada saat-saat terakhir kehidupannya. Kehadiran keluarga membantu mereka memahami kondisi pasien secara nyata, memperoleh informasi langsung dari tenaga kesehatan, sekaligus memberi kesempatan untuk menguatkan dan berpamitan dengan orang yang dicintai. - Mengedepankan prinsup non-maleficence (“do no harm”)
Prinsip non-maleficence mengingatkan kita bahwa setiap tindakan medis harus dipertimbangkan berdasarkan manfaat, risiko, dan konsekuensinya. Berbagai kajian juga menunjukkan bahwa pada kondisi tertentu, menambah intervensi justru dapat memperpanjang penderitaan pasien tanpa memberikan manfaat yang bermakna. Oleh karena itu, tidak melakukan tindakan tambahan terkadang dapat menjadi pilihan yang paling baik dan paling manusiawi bagi pasien. - Menyediakan forum diskusi/konsultasi etik bagi tenaga kesehatan
Keputusan end-of-life sering kali menimbulkan moral distress bagi dokter dan perawat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rumah sakit idealnya menyediakan forum diskusi atau konsultasi etik, supervisi, dan ruang refleksi bagi tenaga kesehatan agar keputusan sulit tidak menjadi beban moral yang dipikul sendirian. Diskusi multidisiplin juga membantu keputusan diambil secara lebih objektif, transparan, dan adil. - Mengembangkan pendekatan shared decision making
Keputusan mengenai futile care seharusnya tidak hanya ditentukan oleh tenaga kesehatan saja. Pasien dan keluarga perlu dilibatkan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Melalui pendekatan shared decision making, keputusan yang diambil menjadi lebih selaras dengan nilai, keyakinan, dan harapan pasien serta keluarganya. - Menggali nilai dan tujuan hidup pasien
Diskusi mengenai futile care seharusnya tidak hanya berfokus pada tindakan medis yang akan dilakukan atau dihentikan. Hal yang terpenting adalah memahami nilai, harapan, dan tujuan hidup pasien. Dengan demikian, tenaga kesehatan dapat menjelaskan intervensi mana yang masih sejalan dengan tujuan tersebut, dan mana yang justru hanya memperpanjang penderitaan pasien.
Refleksi Penutup: Memaksimalkan Perawatan di Ujung Kehidupan
Futile care mengingatkan kita bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya tentang mempertahankan fungsi biologis tubuh selama mungkin. Ada suatu saat, ketika pertanyaan terpenting bukan lagi “apakah pasien masih bisa bertahan hidup?”, melainkan “apakah pasien masih dapat menjalani hidup tanpa penderitaan?”
Di beberapa situasi, bentuk kepedulian terbesar bukan lagi menambah alat, obat, atau tindakan invasif. Terkadang, bentuk cinta dan perawatan yang paling manusiawi justru hadir melalui keberanian untuk mengurangi penderitaan, menemani dengan kasih sayang dan empati, serta memastikan seseorang dapat menjalani akhir kehidupannya dengan lebih tenang dan bermartabat.
Penulis: Ika Setyasari, S.Kep.Ns., M.N.Sc (CBMH UGM)
Editor: Moh. Hendra Setia Lesmana, S.Kep, Ns, M.Sc., Ph.D.