Selama puluhan tahun, bedah anak berperan penting dalam menyelamatkan bayi dan anak dengan kelainan bawaan, tumor, gangguan saluran cerna, kelainan saluran kemih, hingga penyakit yang membutuhkan transplantasi organ. Seorang bayi dengan usus tersumbat, anak dengan tumor abdomen, atau pasien dengan penyakit hati metabolik berat sering kali membutuhkan operasi untuk memperbaiki struktur tubuh, mengangkat jaringan sakit, atau mengganti organ yang sudah rusak.

Namun, perkembangan ilmu kedokteran kini mulai membuka kemungkinan baru. Selain memperbaiki akibat penyakit, para ilmuwan mulai bertanya: apakah penyakit tertentu dapat dicegah atau dikoreksi dari akar penyebabnya, yaitu gen?

Di Sinilah Teknologi CRISPR/Cas9 Menjadi Sangat Menarik.

CRISPR/Cas9 sering disebut sebagai “gunting genetik”. Teknologi ini memungkinkan peneliti untuk memotong DNA pada lokasi tertentu, lalu memanfaatkan mekanisme perbaikan alami sel untuk menonaktifkan, memperbaiki, atau memodifikasi gen tertentu. Dengan kata lain, CRISPR/Cas9 memberi peluang untuk menangani penyakit bukan hanya pada tingkat organ, tetapi pada tingkat instruksi biologis paling dasar: DNA.

Dalam konteks bedah anak, CRISPR/Cas9 belum menggantikan operasi. Bayi dengan sumbatan usus tetap membutuhkan tindakan segera. Anak dengan tumor padat tetap membutuhkan evaluasi bedah. Pasien dengan kelainan anatomi berat tetap memerlukan koreksi struktur. Namun, CRISPR/Cas9 berpotensi mengubah cara kita memahami, mencegah, dan mungkin suatu hari mengobati sebagian penyakit yang selama ini berujung pada tindakan bedah besar.

Mengapa CRISPR/Cas9 Relevan untuk Bedah Anak?

Banyak penyakit bedah anak berawal sejak masa janin. Sebagian merupakan kelainan anatomi, tetapi sebagian lain memiliki dasar genetik atau perkembangan biologis yang kompleks. Contohnya adalah penyakit metabolik hati, fibrosis kistik, kelainan ginjal dan saluran kemih kongenital, Hirschsprung disease, serta beberapa jenis kanker anak.

Selama ini, tindakan bedah sering menjadi solusi ketika kerusakan organ sudah terjadi. Misalnya, anak dengan penyakit hati metabolik berat mungkin akhirnya membutuhkan transplantasi hati. Anak dengan fibrosis kistik dapat mengalami komplikasi saluran cerna atau paru yang memerlukan intervensi. Anak dengan kelainan saluran kemih kongenital dapat menjalani operasi berulang untuk memperbaiki aliran urin dan mencegah kerusakan ginjal.

CRISPR/Cas9 menawarkan pendekatan yang berbeda. Teknologi ini membuka kemungkinan untuk memperbaiki atau memodifikasi penyebab biologis penyakit sebelum kerusakan organ menjadi berat. Jika suatu penyakit disebabkan oleh mutasi gen tertentu, maka secara teori mutasi tersebut dapat menjadi target terapi.

Namun, kata kuncinya adalah secara teori. Sebagian besar aplikasi CRISPR/Cas9 pada penyakit bedah anak masih berada pada tahap penelitian. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengantarkan sistem CRISPR ke sel yang tepat, dalam jumlah cukup, tanpa menimbulkan efek samping jangka panjang.

Bagaimana CRISPR/Cas9 Bekerja?

Secara sederhana, CRISPR/Cas9 terdiri dari dua komponen utama. Pertama adalah guide RNA, yaitu molekul pemandu yang dirancang untuk mengenali urutan DNA tertentu. Kedua adalah enzim Cas9, yang berfungsi seperti gunting untuk memotong DNA pada lokasi tersebut.

Setelah DNA dipotong, sel akan berusaha memperbaikinya. Proses perbaikan ini dapat dimanfaatkan untuk beberapa tujuan. Gen yang bermasalah dapat “dimatikan” bila aktivitasnya merugikan. Pada kondisi lain, mutasi dapat dikoreksi atau diganti menggunakan template perbaikan tertentu.

Bila dibandingkan dengan operasi, mekanismenya sangat berbeda. Operasi bekerja pada jaringan dan organ. CRISPR/Cas9 bekerja pada tingkat molekuler. Tetapi keduanya memiliki tujuan yang sama: memperbaiki fungsi tubuh dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Potensi Penerapan pada Penyakit Bedah Anak

Salah satu area yang paling menjanjikan adalah penyakit metabolik hati. Pada beberapa penyakit ini, anak lahir dengan gangguan enzim tertentu sehingga tubuh tidak mampu memproses zat metabolik secara normal. Akibatnya, zat beracun dapat menumpuk dan merusak otak atau organ lain. Pada kasus berat, transplantasi hati dapat menjadi satu-satunya pilihan definitif.

Dengan CRISPR/Cas9, ada harapan bahwa gen yang rusak pada sel hati dapat diperbaiki atau dimodifikasi sehingga fungsi metabolik membaik. Jika berhasil, pendekatan ini suatu hari dapat mengurangi kebutuhan transplantasi pada sebagian pasien.

Area lain adalah fibrosis kistik, yaitu penyakit genetik akibat gangguan pada gen CFTR. Dalam bedah anak, fibrosis kistik dapat muncul sejak bayi sebagai meconium ileus, yaitu sumbatan usus akibat mekonium yang sangat kental. Di kemudian hari, pasien juga dapat mengalami masalah paru, nutrisi, dan pencernaan. CRISPR/Cas9 berpotensi menargetkan gen CFTR, tetapi tantangan besar masih ada, terutama bagaimana mengantarkan terapi ke sel saluran napas dan saluran cerna secara aman dan efektif.

Pada kelainan ginjal dan saluran kemih kongenital, CRISPR/Cas9 saat ini lebih banyak berperan sebagai alat penelitian. Teknologi ini dapat membantu ilmuwan memahami gen dan jalur perkembangan yang menyebabkan ginjal atau saluran kemih terbentuk tidak sempurna. Pengetahuan ini penting untuk mengembangkan strategi pencegahan, diagnosis dini, dan terapi yang lebih tepat.

Pada kanker anak, CRISPR/Cas9 juga memiliki potensi besar. Teknologi ini dapat digunakan untuk mempelajari gen yang membuat sel kanker tumbuh, menyebar, atau resisten terhadap obat. Selain itu, CRISPR dapat membantu merekayasa sel imun agar lebih mampu mengenali dan menyerang kanker. Dalam kasus tumor padat, operasi tetap memiliki peran penting, tetapi terapi berbasis gen dapat menjadi pelengkap untuk membuat pengobatan lebih presisi.

Apakah CRISPR/Cas9 dapat Menggantikan Operasi?
Untuk saat ini, jawabannya adalah tidak.

CRISPR/Cas9 bukan pengganti bedah anak. Kelainan anatomi yang sudah terbentuk, seperti atresia usus, hernia diafragmatika kongenital, obstruksi saluran kemih, atau tumor yang harus diangkat, tetap memerlukan tindakan bedah. Pada kondisi akut, operasi tidak dapat ditunda hanya karena ada kemungkinan terapi gen di masa depan.

Namun, CRISPR/Cas9 dapat menjadi pelengkap yang kuat. Teknologi ini dapat membantu mencegah progresi penyakit, mengurangi kebutuhan operasi besar, menunda atau menghindari transplantasi, serta meningkatkan hasil jangka panjang setelah operasi. Masa depan yang paling realistis bukanlah “CRISPR menggantikan bedah”, melainkan CRISPR bekerja bersama bedah.

Tantangan dan Risiko

Walaupun menjanjikan, CRISPR/Cas9 memiliki sejumlah tantangan besar. Salah satunya adalah off-target effect, yaitu kemungkinan pemotongan DNA terjadi di lokasi yang tidak diinginkan. Efek ini dapat menimbulkan perubahan genetik yang tidak terduga.

Tantangan lain adalah reaksi imun. Tubuh dapat mengenali komponen CRISPR sebagai benda asing dan menimbulkan respons imun. Selain itu, efektivitas terapi sangat bergantung pada kemampuan sistem penghantaran untuk mencapai sel target secara tepat.

Pada anak-anak, pertimbangan keamanan menjadi lebih kompleks. Tubuh mereka masih tumbuh dan berkembang. Efek yang tampak aman dalam jangka pendek belum tentu bebas risiko dalam jangka panjang. Karena itu, uji klinis pada anak harus dilakukan dengan sangat hati-hati, transparan, dan berlandaskan etika yang kuat.

Ada pula isu keadilan akses. Terapi gen biasanya sangat mahal dan membutuhkan fasilitas canggih. Jika teknologi ini berkembang, perlu dipastikan bahwa manfaatnya tidak hanya dinikmati oleh pasien di negara atau pusat kesehatan tertentu saja.

Batas Etik yang Penting

Dalam diskusi CRISPR/Cas9, penting membedakan antara penyuntingan gen somatik dan penyuntingan gen germline.

Penyuntingan somatik berarti perubahan dilakukan pada sel tubuh pasien, misalnya sel darah, sel hati, atau sel imun. Perubahan ini ditujukan untuk mengobati pasien tersebut dan tidak diwariskan ke keturunannya.

Sebaliknya, penyuntingan germline dilakukan pada embrio, sel telur, sperma, atau sel awal perkembangan yang perubahannya dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Pendekatan ini menimbulkan persoalan etik yang jauh lebih besar, termasuk soal persetujuan, keamanan, ketimpangan, dan potensi penyalahgunaan.

Untuk penyakit bedah anak, arah yang paling bertanggung jawab adalah penyuntingan somatik yang bertujuan mengobati anak yang sedang sakit, bukan mengubah garis keturunan manusia.

Masa Depan Bedah Anak yang Lebih Biologis

Kemajuan CRISPR/Cas9 menunjukkan bahwa masa depan bedah anak tidak hanya akan ditentukan oleh kemampuan teknis di ruang operasi, tetapi juga oleh pemahaman molekuler terhadap penyakit. Ahli bedah anak masa depan mungkin akan bekerja semakin dekat dengan ahli genetika, neonatolog, hepatolog, onkolog, ahli etik, dan peneliti biologi molekuler.

Pada masa depan, pertanyaan klinis mungkin tidak hanya berbunyi: “Bagian mana yang harus diperbaiki?” tetapi juga: “Mutasi apa yang menyebabkan penyakit ini?”, “Apakah jalur biologisnya dapat ditargetkan?”, dan “Apakah terapi gen dapat mengurangi kebutuhan operasi besar?”

Ini bukan berarti peran ahli bedah akan berkurang. Justru sebaliknya, ahli bedah anak akan tetap menjadi bagian penting dari tim multidisiplin yang merawat pasien dengan penyakit kompleks sejak bayi hingga dewasa.

Penulis: Alvin Santoso Kalim (Departemen Ilmu Bedah)
Editor:
dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed. Ph.D