Di tengah meningkatnya angka kejadian kanker kolorektal, kebutuhan terhadap dokter yang memiliki kompetensi endoskopi yang baik menjadi semakin penting. Data dari cancer registry FKKMK UGM/RSUP Dr Sardjito menunjukan pada tahun 2008-2019 terdapat 2534 kasus kanker kolorektal (KKR), data terbaru tahun 2018 sd 2023 terdapat 2459 kasus KKR, dalam 5 tahun terakhir, terjadi lonjakan kasus yang cukup banyak. Departemen Bedah Digestif FKKMK UGM bersama RSUP Dr. Sardjito terus menunjukkan perannya sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu bedah digestif di Indonesia, khususnya dalam bidang endoskopi diagnostik dan terapeutik untuk skrining kanker kolorektal. Skrining berbasis endoskopi saat ini menjadi salah satu strategi utama untuk mendeteksi lesi prakanker maupun kanker stadium dini, sehingga pendidikan dokter berkelanjutan memiliki dampak langsung terhadap kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Kanker kolorektal merupakan salah satu kanker terbanyak di dunia dan angka kejadiannya di Indonesia juga terus meningkat. Tantangan terbesar dalam penanganan kanker ini adalah masih banyak pasien datang dalam stadium lanjut akibat rendahnya deteksi dini. Padahal, melalui pemeriksaan kolonoskopi, lesi prakanker seperti adenoma dapat ditemukan dan langsung ditangani sebelum berkembang menjadi kanker invasif. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan endoskopi diagnostik tidak lagi menjadi kemampuan tambahan, melainkan kompetensi penting bagi dokter yang bergerak di bidang digestif dan bedah minimal invasif.
Sebagai rumah sakit pendidikan nasional, RSUP Dr. Sardjito aktif menyelenggarakan berbagai program pendidikan dokter berkelanjutan melalui workshop, pelatihan hands-on, live demonstration, serta diskusi ilmiah multidisiplin. Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah penyelenggaraan “Endoscopic Weekend” yang di koordinatori oleh dr Imam Sofii, Sp.B SubSp.BD(K) dan bekerja sama dengan Olympus. Kegiatan ini menghadirkan konsep pelatihan intensif berbasis praktik langsung. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas dokter dalam memahami teknik dasar hingga lanjutan pada endoskopi bedah dan gastrointestinal.
Workshop internasional “Endoscopic Weekend 2025” dihadiri oleh pembicara internasional Winson Tan, MD adjunct associate professor National University hospital singapore. Kegiatan ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana Departemen Bedah Digestif FKKMK UGM mengintegrasikan pendidikan, teknologi, dan kolaborasi ilmiah dalam satu kegiatan komprehensif. Program tersebut menitikberatkan pada penguatan kemampuan bedah minimal invasif dan endoskopi dasar bagi dokter umum, residen, maupun dokter spesialis bedah umum. Pelatihan seperti ini penting karena keterampilan endoskopi memerlukan pembelajaran berulang dan supervisi langsung untuk mencapai standar kompetensi yang aman bagi pasien.
Perkembangan kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan melalui “Endoscopic Weekend II: Transforming Dedication into Precision in Basic Surgical Endoscopy” pada tahun 2026. Tema ini menggambarkan transformasi pendidikan kedokteran modern yang tidak hanya menekankan dedikasi, tetapi juga presisi teknik dan penggunaan teknologi terkini dalam praktik endoskopi. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Arlyn Canones, MD, FPCS, FPSGS, FPALES from Rizal Medical Center Filipina untuk menjadi narasumber pelatihan terkait Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP).
Dalam konteks skrining kanker kolorektal, pendidikan endoskopi yang dilakukan oleh Departemen Bedah Digestif memiliki nilai strategis karena dokter tidak hanya diajarkan mengenali kelainan, tetapi juga melakukan intervensi terapeutik secara minimal invasif. Teknik seperti polipektomi, biopsi terarah, hingga endoscopic mucosal resection (EMR) menjadi bagian penting dalam pelatihan. Pendekatan ini memungkinkan lesi prakanker ditangani lebih dini tanpa harus dilakukan operasi besar, sehingga risiko komplikasi dan biaya perawatan dapat ditekan secara signifikan.
Selain aspek teknis, pendidikan dokter berkelanjutan yang dikembangkan juga menanamkan pentingnya clinical judgment dan pendekatan evidence-based medicine. Peserta diajak memahami indikasi skrining berdasarkan faktor risiko, usia, riwayat keluarga, hingga gejala klinis yang mencurigakan. Hal ini menjadi sangat relevan di era meningkatnya kasus kanker kolorektal pada usia muda yang kini semakin sering ditemukan dalam praktik klinis sehari-hari.
Peran FKKMK UGM dan RSUP Dr Sardjito tidak hanya terbatas pada transfer keterampilan prosedural, tetapi juga membangun budaya akademik dan penelitian di bidang endoskopi digestif. Melalui kegiatan workshop dan simposium, peserta didorong untuk memahami perkembangan terbaru teknologi endoskopi seperti high-definition endoscopy, narrow band imaging (NBI), dan teknik visualisasi mukosa modern lainnya. Pemanfaatan teknologi tersebut meningkatkan kemampuan dokter dalam mendeteksi lesi kecil atau perubahan mukosa dini yang sebelumnya sulit dikenali.
Ke depan, Departemen Bedah Digestif FKKMK UGM dan RSUP Dr. Sardjito diharapkan terus menjadi pusat rujukan pendidikan endoskopi di Indonesia. Melalui program pendidikan dokter berkelanjutan yang inovatif dan berbasis teknologi, kualitas deteksi dini kanker kolorektal di Indonesia dapat terus meningkat. Pada akhirnya, investasi dalam pendidikan endoskopi bukan hanya meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker kolorektal di masa depan.
Penulis: Reagan Resadita (Departemen Ilmu Bedah)
Editor: Dr. Yoyo Suhoyo. M.Med.Ed., Ph.d.