Penelitian FK-KMK UGM Ungkap Hubungan Karakteristik Kepala dan Status Gizi pada Beragam Populasi Indonesia

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melaksanakan penelitian mengenai hubungan karakteristik kefalometri dengan status gizi antropometrik pada berbagai kelompok populasi di Indonesia sebagai upaya memperkaya data ilmiah mengenai keragaman biologis masyarakat Indonesia. Penelitian yang dipimpin oleh Dra. Neni Trilusiana Rahmawati, M.Kes., Ph.D. ini membandingkan karakteristik masyarakat Jawa di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, dengan beberapa kelompok masyarakat di kawasan Wallacea untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai variasi fisik dan status gizi antarpopulasi. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada 23 Mei 2026 di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, dengan melibatkan masyarakat setempat sebagai responden.

Tim peneliti FK-KMK UGM berupaya mengkaji apakah terdapat keterkaitan antara ukuran, bentuk, dan proporsi kepala atau wajah manusia dengan status gizi pada berbagai populasi di Indonesia. Kajian mengenai kefalometri selama ini banyak dimanfaatkan dalam bidang antropologi biologis untuk memahami variasi manusia berdasarkan faktor lingkungan, geografis, etnis, usia, jenis kelamin, hingga kondisi gizi. Namun demikian, data kefalometri masyarakat Indonesia, terutama yang berasal dari komunitas adat maupun daerah terpencil, masih relatif terbatas. Penelitian ini diharapkan dapat mengisi kekosongan data tersebut sekaligus menjadi dasar pengembangan berbagai kajian multidisiplin di bidang kesehatan, antropologi, dan ilmu gizi.

Penelitian ini juga dilatarbelakangi oleh masih beragamnya persoalan gizi di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, berbagai wilayah masih menghadapi tantangan berupa tingginya angka kelebihan berat badan dan obesitas, sementara kasus kekurangan gizi juga masih ditemukan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hubungan karakteristik fisik dengan status gizi dinilai penting untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi kesehatan masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang populasi yang sangat beragam.

Kecamatan Rongkop dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena memiliki nilai penting dalam kajian antropologi dan paleoantropologi. Kawasan Gunungkidul diketahui memiliki sejarah panjang perkembangan manusia purba dan menjadi salah satu wilayah yang menyimpan berbagai bukti arkeologis mengenai perjalanan Homo sapiens di Indonesia. Kondisi tersebut menjadikan Rongkop sebagai lokasi yang relevan untuk mempelajari karakteristik biologis masyarakat Jawa sekaligus membandingkannya dengan populasi di kawasan Wallacea yang mewakili Indonesia bagian timur.

Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan deskriptif analitik. Sebanyak 684 responden dari lima populasi berbeda akan dianalisis menggunakan data antropometrik dan kefalometrik. Dari jumlah tersebut, 200 responden berasal dari Rongkop, Gunungkidul, sedangkan 484 responden berasal dari empat populasi di wilayah Wallacea. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara kuantitatif untuk menggambarkan profil biologis masing-masing kelompok, termasuk ukuran tubuh, bentuk kepala, serta status gizi yang dimiliki.

Penelitian ini turut mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan data ilmiah yang mendukung pemahaman kondisi gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia. Penelitian ini juga mendukung SDG 4 Pendidikan Berkualitas dengan memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di bidang kesehatan serta antropologi. Selain itu, penelitian ini berkontribusi pada SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan basis data ilmiah yang dapat menjadi landasan inovasi penelitian kesehatan dan antropologi di Indonesia. (Kontributor: Ilham Novitasari).