Dekan FK-KMK UGM Paparkan Kapasitas Manajemen Kesehatan Bencana ASEAN di Tiongkok

FK-KMK UGM. Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D, FRSPH, hadir sebagai pembicara pada International Conference on Digital Health & AI sekaligus International Forum to Implement WHO Roadmap on Public Health and Emergency Workforce di Hangzhou, Tiongkok. Acara berskala global tersebut diselenggarakan pada 4-5 Juli 2026 oleh Institute of Digital and Intelligent Health, Zhejiang University. Konferensi ini berfokus pada peran vital maha-data (big data) dan kecerdasan buatan (AI) dalam mentransformasi bidang kesehatan dan membentuk ulang pengembangan tenaga kesehatan masyarakat global.

Dalam forum internasional ini, Prof. Yodi memaparkan presentasi bertajuk “Strengthening Disaster Health Management Capacity in South East Asia”. Ia menyoroti rekam jejak dan gagasan UGM terkait penguatan kapasitas manajemen kesehatan bencana di kawasan Asia Tenggara.

Kawasan ASEAN diketahui sangat rentan terhadap berbagai bencana alam seperti banjir, badai, kekeringan, hingga letusan gunung berapi dan gempa bumi. Berangkat dari pengalaman penanganan Tsunami Aceh 2004, UGM telah mengambil langkah proaktif dengan mengintegrasikan pendidikan manajemen bencana ke dalam kurikulum mahasiswa Kedokteran, Keperawatan, dan Gizi sejak tahun 2010 melalui Community and Family Health Care – Interprofesional Education (CFHC-IPE), yang terus dikembangkan menjadi kurikulum terintegrasi secara longitudinal pada 2023.

Lebih jauh, UGM memegang peran strategis di kawasan regional dengan menjadi tuan rumah bagi ASEAN Institute for Disaster Health Management (AIDHM). Institusi ini aktif menjalankan berbagai program krusial, di antaranya penerbitan ASEAN Journal of Disaster Health Management (AJDHM), penyelenggaraan konferensi akademik tingkat ASEAN, pelaksanaan riset bersama, hingga perumusan rekomendasi kebijakan berbasis bukti nyata.

Untuk memperkuat manajemen kesehatan bencana, Dekan menyoroti empat pilar kolaborasi strategis antara universitas di Tiongkok dan Asia Tenggara. Pilar tersebut meliputi harmonisasi kurikulum dan pendidikan bersama, pemanfaatan kerangka kerja regional yang telah ada, riset bersama yang didorong oleh praktik kolaboratif, serta resiliensi berbasis masyarakat dan kerja lapangan terapan. Langkah ini sejalan dengan prinsip bahwa pendidikan tinggi harus memainkan peran penting dalam meningkatkan pemahaman mengenai kerentanan, ketahanan, mitigasi, respons, dan pemulihan bencana.

Partisipasi aktif Dekan FK-KMK UGM dalam forum internasional dan penguatan kapasitas manajemen kesehatan bencana berkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, karena secara langsung berupaya dalam peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan sistem kesiapsiagaan dalam merespons krisis atau bencana kesehatan darurat.

Keterlibatan Dekan juga merupakan perwujudan nyata dari SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Hal ini dibuktikan melalui kemitraan global lintas institusi dan negara yang melibatkan universitas di ASEAN dan Tiongkok, dukungan pemerintah Tiongkok, organisasi internasional seperti WHO, serta filantropi global dalam membangun ketahanan kesehatan regional dan global. (Penulis: Citra/Humas)