FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Kuliah Perdana bagi mahasiswa baru Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Program Pendidikan Dokter Subspesialis periode Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (30/6) ini dilaksanakan secara bersamaan di Auditorium FK-KMK UGM dan Auditorium Pascasarjana Lantai 8 Gedung Tahir Foundation. Sebanyak 315 peserta mengikuti kegiatan tersebut, yang terdiri atas 240 mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis dan 75 mahasiswa Program Pendidikan Dokter Subspesialis.
Dalam sambutannya, Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang berhasil melewati proses seleksi yang kompetitif. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut membawa tanggung jawab besar untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui profesi dokter spesialis.
Prof. Yodi turut menyampaikan bahwa Universitas Gadjah Mada yang pada tahun 2026 berhasil menempati peringkat ke-41 dunia dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE) Impact Rankings. Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa UGM merupakan perguruan tinggi yang memberikan dampak nyata terhadap pembangunan berkelanjutan di tingkat global.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa baru patut berbangga karena kini menjadi bagian dari universitas yang masuk dalam jajaran 50 besar perguruan tinggi paling berdampak di dunia. Namun demikian, kebanggaan tersebut harus diiringi dengan rasa syukur yang diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalani pendidikan.
“Sekali lagi patut berbangga, namun yang lebih penting lagi bersyukur. Bersyukur dengan cara memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang telah Anda dapatkan untuk mengikuti program pendidikan di FK-KMK UGM dan Rumah Sakit Sardjito,” ujar Prof. Yodi.
Kuliah perdana juga menjadi sarana pengenalan berbagai layanan akademik dan pendukung yang tersedia di lingkungan FK-KMK UGM. Para mahasiswa memperoleh informasi mengenai layanan psikologi yang dapat dimanfaatkan selama masa pendidikan, sumber-sumber informasi ilmiah dan fasilitas perpustakaan, konsep pendidikan klinis yang bermartabat, hingga pemahaman mengenai etika dalam bermedia sosial sebagai tenaga kesehatan profesional.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah materi mengenai Etika Bermedia Sosial yang disampaikan oleh dr. Tirta Mandira Hudhi, MBA. Dalam paparannya, ia menyoroti tantangan profesi dokter di era digital yang ditandai dengan derasnya arus informasi, tingginya eksposur media sosial, serta fenomena cancel culture yang dapat berdampak terhadap reputasi individu maupun institusi.
dr. Tirta mengingatkan bahwa dokter spesialis maupun calon dokter spesialis memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga profesionalisme, kesehatan mental, dan etika dalam setiap aktivitas di ruang digital. Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap ketentuan yang ditetapkan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) agar setiap dokter mampu menghindari persoalan etik maupun konsekuensi hukum yang mungkin timbul akibat penggunaan media sosial secara tidak bijaksana.
“Profesi dokter adalah profesi yang paling dijamin masa depannya namun juga paling disorot oleh masyarakat. Jadilah tenaga medis yang bijak mengendalikan jari di media sosial, selalu lindungi privasi pasien, dan jaga martabat almamater dalam setiap tindakan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya,” pesan dr. Tirta.
Melalui berbagai materi tersebut, FK-KMK UGM berupaya membekali mahasiswa baru tidak hanya dengan kesiapan akademik, tetapi juga kesiapan mental, profesional, dan etika sebagai calon dokter spesialis dan subspesialis. Pembekalan sejak awal pendidikan diharapkan mampu membentuk tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi klinis unggul sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme dalam praktik kedokteran.
Kuliah perdana ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap penerimaan mahasiswa baru PPDS dan Subspesialis di FK-KMK UGM. Hingga saat ini, FK-KMK UGM memiliki 25 program studi spesialis dan 6 program studi subspesialis, yang terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia kesehatan di Indonesia.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pendidikan dokter spesialis dan subspesialis yang akan menghasilkan tenaga kesehatan berkualitas untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penyelenggaraan pendidikan profesi yang komprehensif, didukung pembekalan akademik, psikologis, dan etika sejak awal masa studi. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Humas/Sitam).



