FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi dalam rangkaian agenda The 12th Biennial Meeting of Indonesia Society of Pediatric Anesthesia and Critical Care (ISPACC) yang diselenggarakan bersamaan dengan pertemuan perdana Indonesian Society of Anesthesiologists for Medical Emergency, Trauma and Disaster (ISAMED) di Surabaya pada 17–19 Juni 2026.
Dalam kegiatan tersebut, FK-KMK UGM diwakili oleh Prof. dr. Yunita Widyastuti, M.Kes., Sp.An-TI., Subsp.An.Ped. dan Dr. dr. Djayanti Sari, M.Kes., Sp.An-TI., Subsp.An.Ped. sebagai pembicara sekaligus moderator pada berbagai sesi ilmiah. Keterlibatan tersebut menunjukkan komitmen FK-KMK UGM dalam mendukung pengembangan keilmuan anestesi pediatrik dan kegawatdaruratan di tingkat nasional maupun internasional.
Di sela-sela agenda ilmiah, ISAMED juga menggelar rapat keseminatan strategis pada Jumat (19/6/2026) di Ruang Coral 3, Vasa Hotel, Surabaya. Pertemuan yang dipimpin oleh Dr. dr. Christrijogo Sumartono, Sp.An., KAR., KIC. tersebut dihadiri oleh para pakar anestesi dan kegawatdaruratan dari berbagai daerah di Indonesia.
Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) Daerah Istimewa Yogyakarta mengirimkan tujuh delegasi untuk berpartisipasi aktif dalam pertemuan ini. Delegasi tersebut terdiri atas dr. Bowo Adiyanto, M.Sc., Sp.An-TI., Subsp.T.I.(K); dr. Joko Murdiyanto, Sp.An-TI., MPH., FISQua; dr. Pinter Hartono, Sp.An-TI., Subsp.An.O.(K), MM; dr. Susilo Yulianto, Sp.An., Subsp.T.I.(K), M.Sc.; dr. Rinaldi Tri Frisianto, Sp.An-TI.; dr. Akhmad Syaiful Fatah Husein, Sp.An-TI.; dan dr. Nashiruddin, Sp.An-TI.
Salah satu fokus utama rapat adalah pembahasan rencana strategis pembentukan dan penguatan Indonesian Resuscitation Council (INA-RC). Dalam forum tersebut dipaparkan roadmap riset periode 2025–2030 dengan target agar pada tahun 2030 setiap rumah sakit dan tenaga kesehatan di Indonesia memiliki komunitas resusitasi yang terstandarisasi dan terdaftar secara resmi di INA-RC. Lembaga ini dirancang menjadi wadah kolaboratif lintas profesi dengan melibatkan dokter dari berbagai disiplin, termasuk ahli jantung dan perawat bersertifikasi kegawatdaruratan.
Dalam diskusi tersebut, dr. Bowo Adiyanto menekankan pentingnya memperkuat upaya pencegahan sebelum terjadi henti jantung (cardiac arrest). Menurutnya, implementasi sistem Early Warning Score (EWS) dan code blue di fasilitas pelayanan kesehatan merupakan langkah penting untuk mencegah kondisi pasien berkembang menjadi situasi yang lebih kritis.
Forum juga menyepakati untuk mempertahankan nama ISAMED sebagai identitas keseminatan dan kembali menetapkan Dr. dr. Christrijogo Sumartono sebagai Ketua Keseminatan Gawat Darurat dan Bencana untuk periode berikutnya. Agenda prioritas yang akan dilaksanakan meliputi penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi para anggotanya, ISAMED juga memberikan penghargaan pada beberapa kategori. Kategori Pendidikan diberikan kepada dr. Bowo Adiyanto atas kontribusinya dalam mengembangkan edukasi berbasis simulasi ALTEM (Acute Life Threatening and Emergency Management) dan APALS (Advance Perioperative Anesthesia Life Support). Kategori Pengabdian diberikan kepada dr. Rizky Loviana Roza, Sp.An-TI., atas dedikasinya dalam penanganan bencana banjir di Sumatera dan pengabdian di wilayah kepulauan. Sementara itu, Kategori Inovasi diraih oleh dr. Ahmad Muttaqin Alim, Sp.An., FIP., FSRM., Dipl.Pain., M.Sc., DM berkat penerbitan buku 1st Disaster Medicine yang membahas ilmu penanggulangan bencana secara komprehensif.
Agenda strategis lainnya adalah pembahasan pembentukan program subspesialisasi dan fellowship di bidang emergensi, trauma, dan kebencanaan. Sebagai langkah awal, program fellowship dinilai lebih realistis untuk segera diimplementasikan di tiga sentra pendidikan utama, yakni Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan Universitas Indonesia.
Pertemuan di Surabaya juga menghasilkan kesepakatan bahwa agenda rapat keseminatan dan simposium ISAMED tahun 2027 akan diselenggarakan di Yogyakarta. Penunjukan tersebut diharapkan semakin memperkuat semangat kolaborasi dan memperluas kontribusi para ahli anestesiologi dalam pengembangan sistem kegawatdaruratan di Indonesia.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui penguatan sistem resusitasi nasional dan kesiapan penanganan kegawatdaruratan medis. SDG 4 Pendidikan Berkualitas tercermin dari upaya pengembangan program fellowship dan peningkatan kompetensi tenaga medis di bidang emergensi dan bencana. SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur didukung melalui pengembangan sistem kegawatdaruratan berbasis riset dan inovasi seperti Early Warning Score dan penguatan INA-RC. SDG 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan diwujudkan melalui penguatan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi situasi krisis dan bencana. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin melalui kolaborasi lintas disiplin, organisasi profesi, institusi pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan. (Kontributor: Nashiruddin, Irham Hanafi, Gilar, Hendro).




