Dosen FK-KMK UGM Publikasikan Temuan Risiko Enterokolitis Pascaoperasi pada Pasien Penyakit Hirschsprung

FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama tim peneliti memublikasikan hasil penelitian mengenai perbandingan risiko enterokolitis pascaoperasi pada pasien penyakit Hirschsprung (Hirschsprung-associated enterocolitis/HAEC) yang menjalani dua teknik bedah berbeda. Penelitian dilakukan oleh Azzahra Fatinnuha Azmi Prayogi Putri, Dwiki Afandy, Ahmad Zakiy Habibi, Setiani Silvy Nurhidayah, Khanza Adzkia Vujira, Pramana Adhityo, Gilang Vigorous Akbar Eka Candy, dr. Kristy Iskandar, M.Sc., Ph.D., Sp.A., Subsp.Neuro.(K), dr. Eko Purnomo, Ph.D., Sp.BA., Subsp.D.A(K), dan Prof. dr. Gunadi, Ph.D., Sp.BA., Subsp.D.A(K). Hasil penelitian tersebut diterbitkan pada Januari 2026 dalam jurnal internasional bereputasi PLoS ONE melalui artikel berjudul “Does Surgical Approach Affect Hirschsprung-Associated Enterocolitis Risk? A Comparison Between Transanal Swenson-like and Endorectal Pull-throughs” dengan DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0340813.

Penyakit Hirschsprung merupakan kelainan bawaan yang ditandai dengan tidak terbentuknya sel saraf pada sebagian usus, sehingga mengakibatkan gangguan pergerakan usus dan kesulitan buang air besar sejak bayi atau masa kanak-kanak. Salah satu komplikasi yang paling serius pada penyakit ini adalah Hirschsprung-associated enterocolitis (HAEC), yaitu peradangan usus yang dapat menyebabkan infeksi berat dan meningkatkan risiko kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Penelitian ini menggunakan desain retrospektif dengan menganalisis data rekam medis 70 pasien penyakit Hirschsprung yang menjalani tindakan operasi di RSUP Dr. Sardjito selama periode 2018 hingga 2023. Sebanyak 29 pasien menjalani teknik transanal Swenson-like pull-through (TSLPT), sedangkan 41 pasien menjalani prosedur transanal endorectal pull-through (TEPT). Diagnosis HAEC ditegakkan menggunakan sistem skoring klinis dengan dua nilai ambang, yaitu skor ≥4 dan ≥10.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjalani prosedur TEPT cenderung memiliki risiko mengalami HAEC lebih tinggi dibandingkan pasien yang menjalani teknik TSLPT. Temuan ini menjadi penting karena dapat memberikan pertimbangan tambahan dalam menentukan pilihan teknik operasi yang paling sesuai bagi pasien penyakit Hirschsprung.

Selain itu, analisis terhadap berbagai faktor prediktor menunjukkan bahwa kadar albumin pascaoperasi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian HAEC pada kelompok pasien TEPT. Hasil analisis multivariat semakin memperkuat temuan tersebut dengan menunjukkan bahwa hipoalbuminemia atau kadar albumin yang rendah merupakan faktor risiko independen terhadap kejadian HAEC. Oleh karena itu, tim peneliti merekomendasikan pemantauan kadar albumin secara rutin serta optimalisasi status gizi setelah operasi sebagai bagian penting dari tata laksana pasien untuk mengurangi risiko komplikasi pascaoperasi.

Penelitian ini turut mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan penanganan komplikasi pada anak dengan kelainan kongenital. SDG 4: Pendidikan Berkualitas tercermin melalui kontribusi penelitian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas pendidikan kedokteran, khususnya di bidang bedah anak. SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan diimplementasikan melalui pengembangan bukti ilmiah yang dapat membantu meningkatkan kualitas layanan bedah anak secara lebih merata, termasuk di fasilitas kesehatan dengan sumber daya yang terbatas. (Kontributor: Azzahra Fatinnuha Azmi Prayogi Putri dkk.).