FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada bersama RSUP Dr. Sardjito terus memperluas upaya edukasi kesehatan jiwa kepada masyarakat melalui pemanfaatan platform digital. Salah satu kegiatan tersebut diwujudkan melalui program Cari Tahu Yuk!!! Live yang disiarkan secara langsung melalui akun Instagram resmi RSUP Dr. Sardjito dengan mengangkat tema pengelolaan depresi berat pada remaja.
Kegiatan yang berlangsung pada 12 Maret 2026 tersebut menghadirkan dr. Winengku Basuki Adi, M.Med.Sc., Sp.KJ sebagai narasumber. Melalui sesi edukasi daring ini, masyarakat diajak untuk memahami berbagai aspek kesehatan mental remaja, mulai dari faktor risiko, tanda dan gejala depresi, hingga pentingnya dukungan lingkungan dalam proses pemulihan. Pemilihan topik ini didasarkan pada meningkatnya perhatian terhadap kesehatan jiwa remaja yang saat ini menghadapi berbagai tantangan perkembangan, baik dari lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan, maupun pengaruh media digital.
Dalam pemaparannya, dr. Winengku menjelaskan bahwa depresi pada remaja merupakan kondisi kesehatan yang serius dan tidak dapat dianggap sebagai bentuk kelemahan pribadi atau sekadar kurangnya motivasi. Depresi dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk prestasi akademik, hubungan sosial, kesehatan fisik, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat mengenai kondisi ini menjadi langkah awal yang penting dalam upaya pencegahan dan penanganan.
Peserta siaran langsung juga memperoleh penjelasan mengenai berbagai gejala depresi yang sering kali tidak dikenali sejak dini. Gejala tersebut meliputi perasaan sedih yang berlangsung dalam waktu lama, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, perubahan pola makan dan tidur, kesulitan berkonsentrasi, mudah merasa lelah, hingga munculnya perasaan putus asa. Dalam beberapa kasus, depresi yang tidak tertangani dengan baik dapat meningkatkan risiko perilaku menyakiti diri sendiri maupun gangguan kesehatan mental lainnya.
Sesi edukasi juga menyoroti pentingnya peran keluarga, teman sebaya, guru, dan lingkungan sekitar dalam membantu remaja yang mengalami depresi. Dukungan sosial yang positif dinilai dapat menjadi faktor protektif yang membantu proses pemulihan sekaligus mendorong remaja untuk mencari bantuan profesional ketika diperlukan. Masyarakat juga diajak untuk mengurangi stigma terhadap gangguan kesehatan mental agar individu yang membutuhkan bantuan merasa lebih aman untuk berbicara mengenai kondisi yang dialaminya.
Pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi menjadi strategi yang efektif untuk menjangkau kelompok usia muda yang akrab dengan teknologi digital. Melalui pendekatan ini, informasi kesehatan jiwa dapat diakses secara lebih luas, cepat, dan mudah oleh berbagai lapisan masyarakat. Kehadiran platform digital juga membuka ruang diskusi yang lebih inklusif mengenai isu kesehatan mental yang selama ini masih sering dianggap tabu.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, karena mendukung peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan remaja melalui edukasi serta promosi kesehatan jiwa. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penyebarluasan pengetahuan kesehatan yang mudah diakses masyarakat. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan, dengan mendorong akses yang lebih setara terhadap informasi dan layanan kesehatan mental bagi seluruh lapisan masyarakat.(Kontributor: W. Monica).




