FK-KMK UGM. Alumni Program Studi Subspesialis Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), dr. Harli Amir Mahmudji, SpPD, K-EMD, yang menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2016, resmi dilantik sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso pada pertengahan Mei 2026. Pelantikan ini menjadi bukti nyata kontribusi lulusan FK-KMK UGM dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan Indonesia melalui kepemimpinan, inovasi, dan pengembangan layanan berbasis ilmu pengetahuan.
Sebelum mengemban amanah sebagai Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, dr. Harli Amir Mahmudji menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Penelitian (SDMPP) di RS Soerojo Magelang. Pengalaman tersebut semakin memperkaya kompetensinya dalam bidang manajemen rumah sakit sekaligus memperkuat kapasitas kepemimpinan dalam mengelola institusi kesehatan yang kompleks dan dinamis.
Perjalanan karier dr. Harli menjadi inspirasi bagi sivitas akademika FK-KMK UGM, khususnya mahasiswa, residen, dan alumni yang tengah mengembangkan karier di bidang pelayanan kesehatan. Berbekal keahlian di bidang endokrinologi, metabolik, dan diabetes, serta pengalaman dalam tata kelola rumah sakit, ia dinilai memiliki kemampuan yang kuat dalam mengintegrasikan pelayanan klinis, pendidikan, penelitian, dan inovasi kesehatan.
Menurut dr. Harli, pengalaman selama menempuh pendidikan subspesialis di FK-KMK UGM memberikan fondasi akademik yang kokoh dalam memahami tata laksana penyakit hormonal dan metabolik berdasarkan prinsip evidence-based medicine. Lingkungan akademik yang mendukung diskusi ilmiah, penelitian, serta pengembangan kompetensi klinis turut membentuk kemampuan analisis dan pengambilan keputusan yang sangat diperlukan dalam praktik kedokteran maupun kepemimpinan di sektor kesehatan.
Selama bertugas di RS Soerojo Magelang, dr. Harli berperan aktif dalam pengembangan layanan tiroid berbasis teknologi Radiofrequency Ablation (RFA), sebuah metode minimal invasif yang semakin berkembang sebagai alternatif terapi modern untuk penanganan nodul tiroid. Pengembangan layanan tersebut tidak hanya meningkatkan pilihan terapi bagi pasien, tetapi juga memperkuat kapasitas layanan kesehatan nasional dalam bidang endokrinologi.
Untuk mendukung pengembangan layanan tersebut, ia aktif mengikuti berbagai workshop internasional dan seminar nasional guna memperdalam kompetensi klinis dan memperluas wawasan keilmuan. Tidak hanya itu, dr. Harli juga turut mendorong terbentuknya layanan rujukan nasional untuk penanganan nodul tiroid serta pemusatan pelatihan RFA bagi Subspesialis Endokrinologi Penyakit Dalam dan Subspesialis Bedah Onkologi. Inisiatif tersebut membuka peluang pemerataan layanan kesehatan hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, pusat pelatihan yang dikembangkan juga menarik minat dokter bedah dan radiologi intervensi dari Malaysia untuk mengikuti pelatihan di Indonesia.
Ia menuturkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam praktik sehari-hari adalah penanganan gangguan hormonal dan penyakit tiroid yang memerlukan pendekatan multidisiplin serta ketelitian tinggi sejak tahap diagnosis hingga terapi. Namun, tantangan tersebut justru menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi dan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat.
Bagi dr. Harli, pengalaman paling berkesan selama menjalani pendidikan di FK-KMK UGM adalah kebebasan untuk mengembangkan apresiasi terhadap ilmu pengetahuan dan penelitian. Nilai tersebut terus menjadi pegangan dalam perjalanan profesionalnya hingga saat ini. Ia juga berpesan kepada para residen dan sivitas akademika untuk senantiasa optimistis, terus belajar, berinovasi, dan berkarya demi kemajuan kesehatan bangsa. Menurutnya, semangat pengembangan diri dan dedikasi untuk mengabdi kepada masyarakat merupakan modal utama dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.
Pengangkatan dr. Harli Amir Mahmudji sebagai Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso menunjukkan bahwa pendidikan kedokteran tidak hanya menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten secara klinis, tetapi juga melahirkan pemimpin yang mampu membawa perubahan dan inovasi bagi sistem kesehatan nasional. Prestasi ini sekaligus memperkuat reputasi FK-KMK UGM sebagai institusi pendidikan yang berkomitmen mencetak sumber daya manusia kesehatan unggul dan berdaya saing.
Capaian ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui kontribusi dalam pengembangan layanan kesehatan, inovasi teknologi medis, serta peningkatan kualitas tata laksana penyakit hormonal dan metabolik di Indonesia. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pendidikan kedokteran berbasis riset, pengembangan kompetensi akademik, serta transfer pengetahuan kepada generasi tenaga kesehatan berikutnya. Selain itu, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur turut didukung melalui pengembangan teknologi Radiofrequency Ablation (RFA) dan inovasi layanan kesehatan yang memperkuat kapasitas sistem kesehatan nasional secara berkelanjutan. (Kontributor: Siwi Ratri Kurniasih).




