FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM berpartisipasi sebagai narasumber dalam kegiatan penguatan kesiapsiagaan bencana yang diselenggarakan oleh RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan yang berlangsung pada 27–28 April 2026 tersebut bertujuan memberikan pemahaman mengenai penyusunan Hospital Disaster Plan (HDP), sekaligus melakukan telaah dan perbandingan terhadap dokumen HDP yang telah disusun oleh rumah sakit sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai situasi darurat dan bencana.
Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram ini diikuti oleh jajaran direksi, pejabat struktural rumah sakit, serta perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan responsif terhadap krisis.
Pada hari pertama, Senin, 27 April 2026, kegiatan diawali dengan sambutan Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp. FER., M.Kes., M.Sc. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan rumah sakit merupakan salah satu faktor kunci dalam memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal saat terjadi bencana. Menurutnya, seluruh unsur rumah sakit harus mampu memberikan pelayanan terbaik baik dalam kondisi normal maupun saat menghadapi situasi darurat yang membutuhkan respons cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Sesi utama kemudian diisi oleh tim konsultan dan peneliti Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM yang terdiri atas dr. Bella Donna, M.Kes., Happy R. Pangaribuan, SKM, MPH, serta dr. Muhammad Alif Seswandhana. Dalam pemaparannya, para narasumber menjelaskan konsep dasar Hospital Disaster Plan sebagai dokumen strategis yang menjadi pedoman rumah sakit dalam menghadapi berbagai ancaman bencana, baik yang berasal dari faktor alam maupun nonalam.
Peserta memperoleh penjelasan mengenai tahapan penyusunan sistem penanggulangan bencana di rumah sakit, mulai dari identifikasi risiko, pembentukan struktur komando, penyusunan prosedur operasional, pengelolaan sumber daya, hingga mekanisme koordinasi dengan berbagai lembaga eksternal. Diskusi berlangsung interaktif karena peserta juga membandingkan materi yang disampaikan dengan dokumen HDP yang telah dimiliki rumah sakit untuk mengidentifikasi aspek yang masih dapat diperkuat.
Pada hari kedua, Selasa, 28 April 2026, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi menggunakan metode Table Top Exercise (TTX). Simulasi ini dirancang berdasarkan skenario yang telah tercantum dalam dokumen HDP RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram. Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak memahami implementasi dokumen perencanaan dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata.
Selama simulasi berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif menjawab pertanyaan, berdiskusi, serta menganalisis berbagai skenario yang diberikan fasilitator. Kegiatan ini memberikan pemahaman mengenai tata kelola penanganan krisis kesehatan, mekanisme koordinasi internal dan eksternal, hingga langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan medis saat terjadi bencana.
Selain menjadi sarana pembelajaran, Table Top Exercise juga berfungsi sebagai media evaluasi kesiapan organisasi dalam merespons keadaan darurat. Melalui simulasi tersebut, rumah sakit dapat mengidentifikasi potensi tantangan operasional, memperbaiki alur komunikasi, dan meningkatkan kapasitas tim dalam menjalankan peran masing-masing sesuai sistem komando yang telah ditetapkan.
Kegiatan ini menunjukkan pentingnya Hospital Disaster Plan sebagai instrumen strategis dalam membangun rumah sakit yang tangguh terhadap bencana. Dengan perencanaan yang matang, koordinasi yang baik, serta latihan yang berkelanjutan, fasilitas pelayanan kesehatan dapat tetap menjalankan fungsi pelayanan secara optimal meskipun berada dalam situasi krisis.
Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya memperkuat kesiapsiagaan fasilitas kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang aman dan berkelanjutan saat terjadi bencana. SDG 4: Pendidikan Berkualitas tercermin dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan, pembelajaran, dan simulasi kebencanaan berbasis praktik. SDG 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan didukung melalui penguatan ketangguhan fasilitas publik dalam menghadapi risiko bencana. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin dari kolaborasi antara rumah sakit, pemerintah daerah, institusi akademik, serta lembaga penanggulangan bencana dalam membangun sistem kesehatan yang lebih resilien dan berkelanjutan. (Kontributor: dr Alif Seswandhana).




