Mahasiswa FK-KMK UGM Ikuti Exchange Program di Universitas Tübingen

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melaksanakan program elective student exchange dalam mendukung penguatan kompetensi global di bidang kesehatan. Salah satu mahasiswa, Annisa Dinda Maharani, mengikuti program tersebut di Eberhard Karls University of Tübingen, Jerman, dengan penempatan di Universitätsklinikum Tübingen, khususnya di Universitäts-Frauenklinik Tübingen. Program ini berlangsung selama lima minggu dengan tujuan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam lingkungan pendidikan dan pelayanan kesehatan internasional.

Selama mengikuti program, Annisa menjalankan peran sebagai asisten operator di Departemen Ginekologi. Setiap hari, kegiatan diawali dengan morning report yang membahas kondisi pasien serta rencana tindakan medis. Dalam praktiknya, Annisa terlibat dalam berbagai prosedur bedah seperti laparoskopi, laparotomi, hingga operasi pengangkatan tumor payudara. Ia tidak hanya mengamati, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam tahap persiapan hingga asistensi intraoperatif, termasuk melakukan tindakan suturing di bawah supervisi dokter.

Selain keterlibatan dalam tindakan klinis, proses pembelajaran juga diperkuat melalui diskusi rutin dengan supervisor. Dalam sesi ini, Annisa melaporkan perkembangan pembelajaran, mendiskusikan kendala yang dihadapi, serta mengkaji temuan klinis secara kritis. Pendekatan ini membantu meningkatkan kemampuan refleksi dan analisis klinis yang menjadi bagian penting dalam pendidikan kedokteran modern.

Lingkungan pembelajaran di Universitätsklinikum Tübingen dinilai sangat mendukung. Para dokter berperan aktif sebagai pendidik dengan memberikan penjelasan komprehensif terkait indikasi tindakan, prosedur, hingga risiko klinis. Perawat juga turut berkontribusi dalam membimbing aspek teknis seperti sterilisasi alat, penggunaan instrumen medis, serta perawatan pasien pascaoperasi. Kolaborasi multidisiplin ini memberikan pengalaman nyata mengenai praktik pelayanan kesehatan yang terintegrasi.

Dari sisi capaian, program ini memberikan peningkatan signifikan pada keterampilan klinis, seperti kemampuan suturing, koordinasi bimanual, hingga pemasangan kateter. Selain itu, Annisa juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit internasional, termasuk standar keselamatan pasien dan praktik berbasis bukti.

Meskipun demikian, terdapat tantangan yang dihadapi, terutama terkait penggunaan bahasa Jerman sebagai bahasa utama dalam komunikasi dan dokumentasi medis. Pada tahap awal, hal ini menjadi kendala dalam memahami rekam medis dan interaksi dengan staf. Namun, dukungan dari tim medis yang kooperatif, termasuk penggunaan bahasa Inggris dalam diskusi dan supervisi, membantu Annisa beradaptasi secara bertahap hingga hambatan tersebut dapat diatasi.

Kegiatan ini turut berkontribusi pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan yang berdampak pada kualitas layanan medis. SDG 4: Pendidikan Berkualitas dalam akses pembelajaran klinis internasional yang komprehensif dan berbasis praktik. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan terlihat melalui kolaborasi antara institusi pendidikan lintas negara dalam mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia kesehatan. (Kontributor: Agustina Latifah Hanum SPsi).